Wilujeng Sumping....

Salam hangat dan kreatif....

Jumat, 08 Mei 2015

Makan dan Kebahagiaan



Mungkin, kalau orang dengan dandanan perlente, punya status mantan caleg, atau apalah, itu menu makan siangnya harus wah. Itulah sebabnya, si ibu tukang warung nasi pinggir pom bensin Wanayasa itu tak henti-hentinya menertawakan saya. Apa pasal?
Saya log in di warung itu sebelum berangkat ke kota menemui relasi usaha. Usaha saya lagi kusut. Makanya saya lebih sering menghabiskan banyak waktu untuk bertemu siapapun yang sekiranya bisa menghasilkan peluang-peluang prospektif.
Masuk di warung ini maksudnya tiada lain : makan siang. Saya sudah biasa keluar masuk warung ini, termasuk di luar jam makan. Sudah kenal dengan pemiliknya. Dijalin sudah agak lama. Dan kebetulan, anaknya yang nomor dua saya kenal di kelas perkuliahan ekonomi. Gini-gini juga saya nyambi jadi semacam dosen. Hahaha. Semacam, bro!.
Saya datang berdua bersama fatner saya dalam menjalankan wirausaha. Ace Yusup namanya. Sistem ambil menu: bebas. Semacam parasmanan. Ambil piring masing-masing, ambil nasi dan lauk pauknya bebas. Lha, pokoknya ini momentum tepat kalau ketemu warung semacam ini. Cocok buat anak kosan yang budget-nya pas-pasan. Bisa kenyang tanpa harus bayar mahal-mahal.
Setelah kenyang, saya lapor sama pemilik warung : nasi satu piring, tidak terlalu besar, sama ikan dengklang (selar) sepotong, tempe bacem dua, sayur asem 2/3 mangkuk. Sudah itu saja. Lalu fatner saya juga lapor dengan isi yang berbeda. Alhasil, total kami makan siang berdua di siang itu Rp. 18.000.
Segituh? Saya kaget, pertama soal total uang yang harus saya bayar. Murah amat? Beras saja lagi melambung tinggi, di kisaran 9 – 12 ribu/kg. Ini sangat kontras dengan harga-harga yang kerap kali bikin saya kaget. Saya pernah makan sop buntut di toserba Giant, pas bayar harganya di atas 40 ribu. Waw kata saya. Saya sering makan siang di lantai ujung di Bandung Electronic Center (BEC), rata-rata satu porsinya 27.000. Lalu di Pujasera sekitar BEP, dan yang selalu saya kenang, di lingkungan Unpad Jatinangor.
Spesial untuk yang di Jatinangor, sedikit belok nih alur tulisan, hehehe, waktu itu, saya diajak pacar saya yang aduhai, untuk menikmati makan siang. Dia tahu persis lokasi-lokasi makan enak versinya di sekitaran Unpad, pasalnya ia sendiri lulusan Fisipol kampus itu. Kami masuk kafe, saya lupa namanya. Naik lantai 2, ada beberapa pasangan lagi menikmati menu pavoritnya. Saya pesan menu diatur sama pacar saya itu. Pas saya cicipi, yang terasa pedasnya rempah lada. Bentuk makanan berlendir, ditelisik sih agak menjijikan. Saya tak tau makanan macam apa itu. Isinya potongan daging ayam kecil-kecil bercampur salad.
Yang saya ingat dari makanan itu pas saya datang ke kasir: 120 ribu! Waduh? Tapi mimik saya lurus saja. Malu sama mantan pacar (sekarang sudah jadi ibu dari anak saya, hehehe) kalau kelihatan kaget atas harga yang harus saya bayar. Saya pikir-pikir, jika saya membandingkan rasa makanan waktu itu dan harga yang saya bayar dengan makan siang di si ibu dekat pom bensin yang cuma 18 ribu perak, menghasilkan beberapa point penting, pertama setidaknya menyangkut rasa.
Rasa keseluruhan makan di pom bensin itu jauh lebih nikmat, sekalipun saya cuma merogoh kocek yang amat sedikit. Kedua, jujur, sekalipun tengah dimabuk cinta, pikiran saya masih waras. Rasa makanan di Bandung itu tetap saja tidak membawa kenikmatan secara original. Yang nikmat itu situasinya saja, sebab saya berhadap-hadapan dengan kekasih yang saya cintai. Hihihi. Jadi, pacaran saya selalu melibatkan akal pikiran. Yang gak enak ya gak enak, gimana lagi. Objektifnya begitu kok? Chiee..
Kedua, balik lagi ke poin dari tema utama artikel ini, saya kaget lantaran pemilik warung ketawa-ketawa terus sambil banyol dan lelucon. “Ih, bapak dosen, mantan caleg, makan siangnya sama dengklang” kata sang pemilik sambil terus menertawaiku. Sesekali saya menjawab atau sekedar menimpalinya dengan agak heran, “memangnya kenapa, bu?”.
Setelah pamit, dalam perjalanan senja menuju kota, sempat juga kepikiran, memangnya makan “dengklang” itu kenapa ya? Apa si ibu menertawakan kocek saya yang lagi boke? Bukankah yang menjumlahkan total harga makan siang kami berdua itu dia sendiri? Lagian, kalau seandainya harus bayar berapapun, hahaha sombong nieh, saya sebenarnya mampu kok? Gakgakgak.
Dari catatan ini saya ingin menggarisbawahi, bahwa makan, sebenarnya tak perlu mahal, yang penting nikmat dan bergizi. Kredo ini lajim ya, dan saya pungut dari berbagai omongan orang yang sering mengaku ahli kesehatan. Nasi sendiri sumber tenaga, sayur asem ya serat ya vitamin lain. Tempe masuk ke kacang-kacangan, bisa sumber protein nabati. Urusan “dengklang”? ini sumber kebahagiaan. Hahaha.
Jadi, kalau makan, jangan selalu berorientasi gizi dan kesehatan. Hahaha. Saran tidak baik nih. Sekali-kali kalau makan itu harus menimbulkan efek bahagia. Puas. Urusan bathin juga. Sebagaimana saat saya makan siang terdiri dari nasi akeul, ikan sepat, sambal goang, pete. Wuidih, nendang banget itu makan. Formulasi gizi di dalamnya saya malas bahas ya. Yang penting bikin happy, sekali-kali gituh.
Namun sekalipun begitu, saya tentu harus mengingatkan dan bertanya : sudahkan Anda makan yang bergizi dan bikin hidup Anda bahagia? Hahaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar