Mungkin,
kalau orang dengan dandanan perlente, punya status mantan caleg, atau apalah,
itu menu makan siangnya harus wah.
Itulah sebabnya, si ibu tukang warung nasi pinggir pom bensin Wanayasa itu tak
henti-hentinya menertawakan saya. Apa pasal?
Saya
log in di warung itu sebelum
berangkat ke kota menemui relasi usaha. Usaha saya lagi kusut. Makanya saya
lebih sering menghabiskan banyak waktu untuk bertemu siapapun yang sekiranya
bisa menghasilkan peluang-peluang prospektif.
Masuk
di warung ini maksudnya tiada lain : makan siang. Saya sudah biasa keluar masuk
warung ini, termasuk di luar jam makan. Sudah kenal dengan pemiliknya. Dijalin
sudah agak lama. Dan kebetulan, anaknya yang nomor dua saya kenal di kelas
perkuliahan ekonomi. Gini-gini juga saya nyambi jadi semacam dosen. Hahaha. Semacam, bro!.
Saya
datang berdua bersama fatner saya dalam menjalankan wirausaha. Ace Yusup
namanya. Sistem ambil menu: bebas. Semacam parasmanan. Ambil piring
masing-masing, ambil nasi dan lauk pauknya bebas. Lha, pokoknya ini momentum
tepat kalau ketemu warung semacam ini. Cocok buat anak kosan yang budget-nya pas-pasan. Bisa kenyang tanpa
harus bayar mahal-mahal.
Setelah
kenyang, saya lapor sama pemilik warung : nasi satu piring, tidak terlalu
besar, sama ikan dengklang (selar)
sepotong, tempe bacem dua, sayur asem 2/3 mangkuk. Sudah itu saja. Lalu fatner
saya juga lapor dengan isi yang berbeda. Alhasil, total kami makan siang berdua
di siang itu Rp. 18.000.
Segituh?
Saya kaget, pertama soal total uang
yang harus saya bayar. Murah amat? Beras saja lagi melambung tinggi, di kisaran
9 – 12 ribu/kg. Ini sangat kontras dengan harga-harga yang kerap kali bikin
saya kaget. Saya pernah makan sop buntut di toserba Giant, pas bayar harganya
di atas 40 ribu. Waw kata saya. Saya
sering makan siang di lantai ujung di Bandung Electronic Center (BEC),
rata-rata satu porsinya 27.000. Lalu di Pujasera sekitar BEP, dan yang selalu
saya kenang, di lingkungan Unpad Jatinangor.
Spesial
untuk yang di Jatinangor, sedikit belok nih alur tulisan, hehehe, waktu itu,
saya diajak pacar saya yang aduhai, untuk menikmati makan siang. Dia tahu
persis lokasi-lokasi makan enak versinya di sekitaran Unpad, pasalnya ia
sendiri lulusan Fisipol kampus itu. Kami masuk kafe, saya lupa namanya. Naik
lantai 2, ada beberapa pasangan lagi menikmati menu pavoritnya. Saya pesan menu
diatur sama pacar saya itu. Pas saya cicipi, yang terasa pedasnya rempah lada.
Bentuk makanan berlendir, ditelisik sih agak menjijikan. Saya tak tau makanan
macam apa itu. Isinya potongan daging ayam kecil-kecil bercampur salad.
Yang
saya ingat dari makanan itu pas saya datang ke kasir: 120 ribu! Waduh? Tapi mimik saya lurus saja. Malu
sama mantan pacar (sekarang sudah jadi ibu dari anak saya, hehehe) kalau
kelihatan kaget atas harga yang harus saya bayar. Saya pikir-pikir, jika saya
membandingkan rasa makanan waktu itu dan harga yang saya bayar dengan makan
siang di si ibu dekat pom bensin yang cuma 18 ribu perak, menghasilkan beberapa
point penting, pertama setidaknya
menyangkut rasa.
Rasa
keseluruhan makan di pom bensin itu jauh lebih nikmat, sekalipun saya cuma
merogoh kocek yang amat sedikit. Kedua, jujur, sekalipun tengah dimabuk cinta,
pikiran saya masih waras. Rasa makanan di Bandung itu tetap saja tidak membawa
kenikmatan secara original. Yang nikmat itu situasinya saja, sebab saya
berhadap-hadapan dengan kekasih yang saya cintai. Hihihi. Jadi, pacaran saya
selalu melibatkan akal pikiran. Yang gak enak ya gak enak, gimana lagi.
Objektifnya begitu kok? Chiee..
Kedua,
balik lagi ke poin dari tema utama artikel ini, saya kaget lantaran pemilik
warung ketawa-ketawa terus sambil banyol dan lelucon. “Ih, bapak dosen, mantan
caleg, makan siangnya sama dengklang” kata sang pemilik sambil terus
menertawaiku. Sesekali saya menjawab atau sekedar menimpalinya dengan agak
heran, “memangnya kenapa, bu?”.
Setelah
pamit, dalam perjalanan senja menuju kota, sempat juga kepikiran, memangnya
makan “dengklang” itu kenapa ya? Apa si ibu menertawakan kocek saya yang lagi boke?
Bukankah yang menjumlahkan total harga makan siang kami berdua itu dia sendiri?
Lagian, kalau seandainya harus bayar berapapun, hahaha sombong nieh, saya sebenarnya mampu kok? Gakgakgak.
Dari
catatan ini saya ingin menggarisbawahi, bahwa makan, sebenarnya tak perlu
mahal, yang penting nikmat dan bergizi. Kredo ini lajim ya, dan saya pungut
dari berbagai omongan orang yang sering mengaku ahli kesehatan. Nasi sendiri
sumber tenaga, sayur asem ya serat ya vitamin lain. Tempe masuk ke
kacang-kacangan, bisa sumber protein nabati. Urusan “dengklang”? ini sumber
kebahagiaan. Hahaha.
Jadi,
kalau makan, jangan selalu berorientasi gizi dan kesehatan. Hahaha. Saran tidak
baik nih. Sekali-kali kalau makan itu harus menimbulkan efek bahagia. Puas.
Urusan bathin juga. Sebagaimana saat saya makan siang terdiri dari nasi akeul,
ikan sepat, sambal goang, pete. Wuidih, nendang banget itu makan. Formulasi
gizi di dalamnya saya malas bahas ya. Yang penting bikin happy, sekali-kali
gituh.
Namun
sekalipun begitu, saya tentu harus mengingatkan dan bertanya : sudahkan Anda
makan yang bergizi dan bikin hidup Anda bahagia? Hahaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar