Wilujeng Sumping....

Salam hangat dan kreatif....

Minggu, 10 Mei 2015

Perhiasan Sesungguhnya


 
Seperti biasanya, pagi hari adalah saat yang menyenangkan. Setelah sebelumnya berdo’a, berdzikir, dan sholat, tugas hidup selanjutnya biasanya membereskan keadaan rumah, mulai tempat tidur sampai dapur.

Lalu mengumpulkan cucian berupa piring, gelas, dan wadah-wadah bekas makanan. Tak lupa, saya memanaskan air untuk mandi si kecil. Lalu mengumpulkan baju-bajunya yang kotor untuk saya cuci. Juga membersihkan dot susu anak saya dengan air mendidih. Biar steril dari kuman.

Tak selang berapa lama, saya mencuci beras untuk kemudian saya masak. Sementara istri tugasnya memasak sayuran, mencuci bekas-bekas makanan yang lain yang dipakai menyusul. Tugas itu dilakukan istri setelah agak siang, dan seringnya setelah saya pergi ke toko. Hehehe. Pasalnya, pas saya berangkat, kadang istri dan anak masih pada tidur. Saya sih perginya selalu di pagi buta. Apa lagi kalau lagi shaum senin-kamis, saya pergi pagi-pagi banget.

Hari ini, Kamis 9 Maret 2015 adalah jadwal saya ke Bandung untuk membeli printer, aksesoris, dan servis laptop customer. Saban pagi saya selalu memompa semangat. Selalu mengendalikan emosi, pikiran, agar selelah apapun tubuh saya, itu bisa berubah menjadi semangat dan bertenaga. Pikiran dan emosi saya rasa menentukan gerak kita, termasuk hasil dari ikhtiar kita.

 
Namun sebelum ke Bandung, di toko saya melayani beberapa konsumen terlebih dahulu. Ada yang belanja, ada yang servis, ada yang cuma tanya-tanya kredit. Lalu saya menyempatkan diri untuk membeli giwang spesial anak saya. Saya sudah tak sabar ingin kasih perhiasan buat anak saya yang lucu dan cerdas itu. Ehehehe.

Saya beli dua buah, masing-masing 2 gram. Harganya tak sampai sejuta. Pasti di rumah istri saya girang bukan kepalang. Pasalnya, akhir-akhir ini dia selalu mengeluh banyak hal. Mulai keadaan ekonomi yang morat-marit, perhiasan istri dan anak yang habis saya jual untuk menutupi kebutuhan hidup, sampai dengan usaha yang lesu. Banyak hal lah. Dan tentu, yang selalu dijadikan keluhan paling sering ialah soal anak kami yang sama sekali tidak memakai perhiasan.

Sebenarnya saya tidak terganggu dengan keluhan itu. Malah kasihan. Saya juga merasa bersalah kadang. Sebagai suami tidak serta-merta memenuhi segala keinginan istri saya. Kalau untuk kebutuhan, alhamdulillah saya masih mampu. Tapi saya anggap sikap istri saya semacam itu wajar. Itu mungkin kebiasaan dari lingkungan keluarga di mana dia berasal.

Sekedar diketahui, keluarga istri merupakan keluarga berada. Bapak mertua saya pengusaha cengkeh. Ibu mertua sebagai ibu rumah tangga dengan segudang asset. Kehidupan mereka berkecukupan. Sering menghabiskan banyak uang untuk sekedar berobat ringan, beli pakaian, perhiasan, dan makan-makan atau rekreasi pelesiran. Mungkin tradisi itu turun sama istri saya. Jadi saat menghadapi kenyataan hidup yang susah, dia sulit beradaptasi. Bahkan menganggap keadaan demikian sebagai situasi yang buruk. Tak jarang kami juga bertengkar soal ini. Mengapa?

 
Sebenarnya saya tidak alergi untuk hidup agak sedikit mewah. Pakaian bermerk, sepatu, tas, saya sudah biasa. Jam tangan saya, karena waktu itu lagi punya rezeki, saya beli Gishock seharga 1,2 juta. Atau makan di restoran, pelesiran ke tempat wisata, itu hal biasa. Nah yang harus dipikirkan ialah saat situasi ekonomi tidak mendukung. Mental saya sudah kuat, tapi istri berbeda sikap.

Kesiapan mental menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan harapan, tentu butuh tempaan yang tidak mudah dan tidak sebentar. Itu bisa lahir dari latihan, bacaan, keterpaksaan menghadapi kenyataan dan kesungguhan untuk mengendalikan diri, pikiran dan perasaan.

Saya selalu waspada dengan keadaan ini. Bahkan, dari pemahaman spiritual, saya sadar sang pengatur sejati kehidupan ini Allah. Dan tentu saja, pemilik segala kekayaan di muka bumi ini siapa lagi jika bukan Dia yang Maha Kaya Raya. Saya lahir tanpa membawa apapun, dan saya akan kembali kepada-Nya hanya dengan sehelai kain kafan. Jadi apa yang harus ditakutkan dengan hidup ini? Hidup ini untuk dinikmati dengan segala kemewahan dan keterbatasan yang diberikan Allah. Bukankah begitu?

Nah hari ini, saya menjawab kekhawatiran istri selama ini soal perubahan hidup. Di hadapan istri, saya selalu berorasi laiknya Bung Karno atau ocehan Mario Teguh soal motivasi hidup. Istri kadang tertegun dan ragu. Hahaha. Namun saya selalu meyakinkan, urusan perhiasan itu urusan sepele. Ini soal duniawi.

Bahkan saya selalu sesumbar, akan mengganti seluruh perhiasan istri yang saya jual untuk membayar utang ke bank. Tenang saja. Dari mana, ia tanya. Dari Allah, saya jawab. Saya juga akan membelikan anak kami perhiasan. Dan tekad saya itu Allah kabulkan di hari ini. Alhamdulillah.

Sampai di rumah selepas melewati ratusan kilo jarak tempuh dari Bandung, saya pulang dan dengan buru-buru menghampiri anak saya. Saya pakaikan gelang yang saya beli. Anak saya senyum-senyum saja. Dia memeluk saya. Gak ngerti dengan perhiasan.

Bahkan, “buka..buka..buka”. Dia pengen buka gelang dari tangan kirinya. Saya merasa bangga punya anak ini. Selain diidam-idamkan, ia juga cerdas dan cepat dalam merespon pelajaran. Beberapa minggu lalu ia masih mengucapkan “buta” untuk kata “buka”. Tapi saya rubah, saya ajarin berulang-ulang, dan sekarang, kalau dia ingin membukan kemasan plastik, pintu dan lain-lain, ia akan berkata : “buka!” dengan fasih. Hehehe.

Percakapan saya dengan anak disaksikan istri dari jarak dekat. Istri kelihatan senyum bahagia. Namun karena terus-terusan meminta gelangnya dibuka, saya langsung membukanya. Istri saya komentar, katanya anak kami ini agak tomboy. Namun saya cepat-cepat menimpali pernyataan istri saya. Saya bilang, anak ini mungkin tak perlu perhiasan. Sebab dia sendiri merupakan perhiasan hidup bagi saya.

Suasana senyap, dan kami menutup senja ini dengan berbuka puasa bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar