Seperti
biasanya, pagi hari adalah saat yang menyenangkan. Setelah sebelumnya berdo’a,
berdzikir, dan sholat, tugas hidup selanjutnya biasanya membereskan keadaan
rumah, mulai tempat tidur sampai dapur.
Lalu
mengumpulkan cucian berupa piring, gelas, dan wadah-wadah bekas makanan. Tak
lupa, saya memanaskan air untuk mandi si kecil. Lalu mengumpulkan baju-bajunya
yang kotor untuk saya cuci. Juga membersihkan dot susu anak saya dengan air
mendidih. Biar steril dari kuman.
Tak
selang berapa lama, saya mencuci beras untuk kemudian saya masak. Sementara
istri tugasnya memasak sayuran, mencuci bekas-bekas makanan yang lain yang
dipakai menyusul. Tugas itu dilakukan istri setelah agak siang, dan seringnya
setelah saya pergi ke toko. Hehehe. Pasalnya, pas saya berangkat, kadang istri
dan anak masih pada tidur. Saya sih perginya selalu di pagi buta. Apa lagi
kalau lagi shaum senin-kamis, saya pergi pagi-pagi banget.
Hari
ini, Kamis 9 Maret 2015 adalah jadwal saya ke Bandung untuk membeli printer,
aksesoris, dan servis laptop customer. Saban pagi saya selalu memompa semangat.
Selalu mengendalikan emosi, pikiran, agar selelah apapun tubuh saya, itu bisa berubah
menjadi semangat dan bertenaga. Pikiran dan emosi saya rasa menentukan gerak
kita, termasuk hasil dari ikhtiar kita.
Namun
sebelum ke Bandung, di toko saya melayani beberapa konsumen terlebih dahulu.
Ada yang belanja, ada yang servis, ada yang cuma tanya-tanya kredit. Lalu saya
menyempatkan diri untuk membeli giwang spesial anak saya. Saya sudah tak sabar
ingin kasih perhiasan buat anak saya yang lucu dan cerdas itu. Ehehehe.
Saya
beli dua buah, masing-masing 2 gram. Harganya tak sampai sejuta. Pasti di rumah
istri saya girang bukan kepalang. Pasalnya, akhir-akhir ini dia selalu mengeluh
banyak hal. Mulai keadaan ekonomi yang morat-marit, perhiasan istri dan anak
yang habis saya jual untuk menutupi kebutuhan hidup, sampai dengan usaha yang
lesu. Banyak hal lah. Dan tentu, yang selalu dijadikan keluhan paling sering
ialah soal anak kami yang sama sekali tidak memakai perhiasan.
Sebenarnya
saya tidak terganggu dengan keluhan itu. Malah kasihan. Saya juga merasa
bersalah kadang. Sebagai suami tidak serta-merta memenuhi segala keinginan
istri saya. Kalau untuk kebutuhan, alhamdulillah saya masih mampu. Tapi saya
anggap sikap istri saya semacam itu wajar. Itu mungkin kebiasaan dari
lingkungan keluarga di mana dia berasal.
Sekedar
diketahui, keluarga istri merupakan keluarga berada. Bapak mertua saya
pengusaha cengkeh. Ibu mertua sebagai ibu rumah tangga dengan segudang asset.
Kehidupan mereka berkecukupan. Sering menghabiskan banyak uang untuk sekedar
berobat ringan, beli pakaian, perhiasan, dan makan-makan atau rekreasi pelesiran.
Mungkin tradisi itu turun sama istri saya. Jadi saat menghadapi kenyataan hidup
yang susah, dia sulit beradaptasi. Bahkan menganggap keadaan demikian sebagai
situasi yang buruk. Tak jarang kami juga bertengkar soal ini. Mengapa?
Sebenarnya
saya tidak alergi untuk hidup agak sedikit mewah. Pakaian bermerk, sepatu, tas,
saya sudah biasa. Jam tangan saya, karena waktu itu lagi punya rezeki, saya
beli Gishock seharga 1,2 juta. Atau makan di restoran, pelesiran ke tempat
wisata, itu hal biasa. Nah yang harus dipikirkan ialah saat situasi ekonomi
tidak mendukung. Mental saya sudah kuat, tapi istri berbeda sikap.
Kesiapan
mental menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan harapan, tentu butuh tempaan
yang tidak mudah dan tidak sebentar. Itu bisa lahir dari latihan, bacaan,
keterpaksaan menghadapi kenyataan dan kesungguhan untuk mengendalikan diri,
pikiran dan perasaan.
Saya
selalu waspada dengan keadaan ini. Bahkan, dari pemahaman spiritual, saya sadar
sang pengatur sejati kehidupan ini Allah. Dan tentu saja, pemilik segala
kekayaan di muka bumi ini siapa lagi jika bukan Dia yang Maha Kaya Raya. Saya
lahir tanpa membawa apapun, dan saya akan kembali kepada-Nya hanya dengan
sehelai kain kafan. Jadi apa yang harus ditakutkan dengan hidup ini? Hidup ini
untuk dinikmati dengan segala kemewahan dan keterbatasan yang diberikan Allah.
Bukankah begitu?
Nah
hari ini, saya menjawab kekhawatiran istri selama ini soal perubahan hidup. Di
hadapan istri, saya selalu berorasi laiknya Bung Karno atau ocehan Mario Teguh
soal motivasi hidup. Istri kadang tertegun dan ragu. Hahaha. Namun saya selalu
meyakinkan, urusan perhiasan itu urusan sepele. Ini soal duniawi.
Bahkan
saya selalu sesumbar, akan mengganti seluruh perhiasan istri yang saya jual
untuk membayar utang ke bank. Tenang saja. Dari
mana, ia tanya. Dari Allah, saya jawab. Saya juga akan membelikan anak kami
perhiasan. Dan tekad saya itu Allah kabulkan di hari ini. Alhamdulillah.
Sampai
di rumah selepas melewati ratusan kilo jarak tempuh dari Bandung, saya pulang
dan dengan buru-buru menghampiri anak saya. Saya pakaikan gelang yang saya
beli. Anak saya senyum-senyum saja. Dia memeluk saya. Gak ngerti dengan
perhiasan.
Bahkan,
“buka..buka..buka”. Dia pengen buka gelang dari tangan kirinya. Saya merasa
bangga punya anak ini. Selain diidam-idamkan, ia juga cerdas dan cepat dalam
merespon pelajaran. Beberapa minggu lalu ia masih mengucapkan “buta” untuk kata
“buka”. Tapi saya rubah, saya ajarin berulang-ulang, dan sekarang, kalau dia
ingin membukan kemasan plastik, pintu dan lain-lain, ia akan berkata : “buka!”
dengan fasih. Hehehe.
Percakapan
saya dengan anak disaksikan istri dari jarak dekat. Istri kelihatan senyum
bahagia. Namun karena terus-terusan meminta gelangnya dibuka, saya langsung
membukanya. Istri saya komentar, katanya anak kami ini agak tomboy. Namun saya
cepat-cepat menimpali pernyataan istri saya. Saya bilang, anak ini mungkin tak perlu perhiasan. Sebab dia sendiri merupakan
perhiasan hidup bagi saya.
Suasana
senyap, dan kami menutup senja ini dengan berbuka puasa bersama.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar