Di minggu-minggu ini, saya
disibukkan dengan berjualan elektronik melalui lembaga pembiayaan yang disebut
FIF. Seminggu yang lalu, saya dikenalkan kawan dengan Kepala FIF Cikampek dan
salah satu toko elektronik di Kosambi. Setelah bikin konsensus dengan salah
satu toko di Karawang, sebut saja pemiliknya Koh Liong, saya gencar menjaring
customer. Saya berjualan melalui toko orang lain. Tidak bikin MOU sendiri. Dulu
pernah ngajuin MOU dengan FIF, tapi ditolak dengan sebab toko saya kurang disply.
Perlu dicatat, sebelumnya,
hampir 3 tahun saya berjualan di Kredit Plus. Namun sejak 2014, karena satu dan
lain hal, saya putus kontrak. Setelah putus kontrak, saya berjualan melalui
toko-toko kenalan. Tentu terasa berat dan rumit berurusan dengan birokrasi, sistem,
komunikasi, dan karakter berlainan di toko orang. Bahkan dari bulan ke bulan
saya selalu menjajaki kenalan baru, siapa tahu ada yang lebih menguntungkan.
Sampai akhirnya, ada tawaran menarik dari FIF Cikampek dan Koh Liong ini.
Pihak toko yang dikenalkan
Kepala FIF juga bikin konsensus tersendiri dengan saya. Dia bikin target jualan
buat saya. Angkanya 30 konsumen acc selama 3 bulan. Jika tercapai, saya
dijanjikan pinjaman barang elektronik senilai 10 juta perak untuk pajangan (disply) di toko saya. Jika 60 konsumen,
konskwensinya menjadi dua kali lipat. Saya sanggupi, pasalnya saya lagi krisis
modal. Jadi sedang giat mencari fatner usaha yang bisa membantu saya.
Tawaran itu, umpamanya angka
30 konsumen, sebenarnya bukan angka yang wow
bagi saya. Tidak berat, bahkan kalau mau sombong-sombongan, itu angka kecil.
Sebagai patokan, di 2014, saya selalu mendapatkan konsumen lebih dari 30 setiap
bulannya. Terakhir di bulan Oktober 2014, saya dapat konsumen acc 35 orang.
Namun karena ritme semangat
yang mengendur setelah putus kontrak dengan leasing, saya butuh kerja keras
lagi untuk mendapatkan konsumen sebanyak itu. Saya harus sebar brosur ke
lapangan, menghubungi data base konsumen, dan rajin silaturrahmi lagi. Tapi itu
tidak masalah. Hidup memang untuk kerja keras, bukan untuk enteng-entengan.
Singkat ceita, dalam tujuh
hari, saya sudah polling, istilah
untuk memasukkan data base konsumen
ke leasing, sebanyak 16 customer. Namun ini cuma data. Hehehe. Setelah
disurvey, cuma 4 orang yang acc, brow! Haha. Probabilitasnya cuma 25 % acc dari data yang
masuk. Tak apalah. Ini kan baru. Dulu-dulu sih saya 50 s.d 60 %. Jadi kalau
target saya punya 30 customer, saya cukup cari aplikasi sebanyak 60 saja. Acc
nya 30 toh?
Kepala FIF saban kali ada
status hasil surveyan selalu sms : jangan patah semangat! Saya jawab, tidak
akan. Sebab sistem di leasing ini ketat sih. Namun kelebihannya statusnya memang
kilat. Jika ajuan ditolak (reject),
mereka suka sending statusnya
disertai berbagai alasan yang masuk akal dengan segera. Walau ditolak, saya kan
jadi enak, sebab ada keputusan dengan segera dan cepat. Tidak nunggu-nunggu
lama, eh hasilnya ditolak juga.
Secara lebih rinci, dari
jumlah 16 customer itu, 4 acc, 2 pending proses, 4 ditolak proses (bed cust), 2 tidak disetujui orang
tuanya, 1 tidak disetujui istrinya, 1 ditolak karena barangnya tidak bisa
dibiayai, 2 ditolak karena customer tidak
ramah dan tidak kooperatif. Woowww! Saya bilang wow, ini pelajaran dan data
untuk saya baca. Apa maknanya dari semua ini?
Pertama,
untuk yang acc, ya tidak ada masalah. Itu kewenangan surveyor untuk menilai
seseorang dengan bekal ilmu yang dimilikinya. Saya senang. Sebab setiap unit
yang diacc, saya punya fee yang sudah saya hitung secara nominal. Hehehe. Dan
tentu saja, itu akan menjadi poin dalam tantangan saya mengejar target 30
customer dari rekanan saya di Kosambi itu.
Namun, pandangan dan penilaian
surveyor, seobyektif apapun akhirnya akan berujung pada subyektivitas. Tak
percaya? Saja jabarkan, diantara 4 orang yang diacc itu, 2 diantaranya ternyata
pernah kredit di leasing lain. Tapi data
base-nya tidak masuk BI checking.
Padahal, cara bayarnya jelek. Jadi sudah pasti, kalau customer ini ambil lagi
di leasing sebelumnya, ditolak lah. Disebutnya bed customer. Namun alatan konsumennya ramah dan secara pekerjaan
menunjang, akhirnya di leasing yang baru ini ajuan mereka di-acc. Tetapi
surveyor kan tidak tahu. Hehehe.
Kedua,
berkaitan dengan 3 konsumen yang tidak disetujui oleh istri dan keluarganya,
ini pelajaran bagi siapapun. Kalau mau kredit, ya harus minta persetujuan dulu
keluarga. Harus komunikasi. Manfaatnya, kalau kita mati umpamanya, ahli waris
atau keluarga akan tahu soal hutang kita. Bukankah dalam Islam, yang harus
didahulukan dari seseorang yang meninggal dunia itu dibayarkan dulu utangnya?
Dan manfaat bagi leasing, kalau yang bersangkutan tidak ada, bisa nagih ke
keluarga. Namanya utang kan ya tetap utang, harus dibayar.
Ketiga,
untuk kasus 2 customer yang ditolak
dengan alasan tidak kooperatif dan bed
charakter, termasuk hasil cheklingnya jelek, ini menarik. Saya juga
langsung klarifikaasi ke customernya. Sebab saya kenal. Sebenarnya, konsumen
ini orang baik. Bahkan di bulan ini dia lunas untuk kredit elektronik di
leasing lain. Saya tau dia lancar. Saya tau dia orang baik. Sering ketemu di
mesjid. Sehari-hari ia berjualan. Form
lah secara kapasitas. Namun saat di survey, ia tidak mau diwawancara. Ia
berdalih, sudah panjang lebar ngobrol dengan saya. Padahal kapasitas saya kan
marketing. Saya berfikir, benar juga sih kata surveyor. Tidak ramah. Hehehe.
Akhirnya ditolak.
Soal chekling, ini memang prosedur dan taktik surveyor. Biasanya, selain
wawancara dan cheking data base di sistem, mereka bertanya
soal customer kepada pejabat berwenang di bawah semacam RT/RW, atau kepada
tetangga. Lagi-lagi memang ini situasi untung-untungan.
Jika bertanya kepada tetangga
yang kebetulan suka dan akur dengan kita, muluslah ajuan kita. Tetapi tidak
sedikit, tetangga juga suka ada yang usil. Bahkan mungkin tidak akur dengan
kita. Biasanya hasil chekling suka dijadikan acuan surveyor, isinya : menurut
tetangga mereka, si A itu suka banyak yang nagih, bla..bla..bla.. pokoknya
kesan negatif semua.
Tentu tidak semua customer itu
sebagaimana yang dikatakan tetangganya. Tetapi kalau sudah terjadi, konsumen
baik-baik tapi tidak disukai tetangga bisa jadi korban penolakan ajuan
kreditnya oleh leasing. Ini setidaknya pelajaran penting, bagaimana pun dan
dengan siapapun, kita harus akur. Hehehe.
Keempat,
untuk 4 konsumen yang ditolak prosesnya tiada lain karena catatan bayar
sebelumnya. Di leasing disebut payment
story. Setiap yang kredit akan tercatat di data base, kapan bayarnya,
tanggal berapa, dll. Dendanya berapa, termasuk lunasnya kapan. Keempat konsumen
ini pernah kredit motor. Semuanya ditarik, tidak sampai selesai. Dan tentu
saja, mereka dikasih gelar : bed customer.
Hehehe. Pasti ditolak.
Yang menggelitik, tiga dari
empat konsumen yang ditolak ini ialah guru PNS dengan jabatan Kepala Sekolah.
Adapun yang satu sebagai karyawan garmen swasta. Tentu saya tidak hendak
mempermasalahkan status dan jabatan.
Namun ketiga orang ini,
awalnya marah-marah kepada saya lantaran disebutkan bahwa catatan bayarnya di
masa lalu kurang baik. Mereka tidak ngaku pernah ambil motor. Padahal di sistem
jelas tercatat nama mereka. Saya tidak hendak mempersoalkan soal masa lalu
mereka. Tapi hanya memberikan alasan, mengapa ajuan mereka ditolak.
Mungkin mereka tersinggung
soal catatan masa lalu itu. Wajar sih, seolah saya mempermalukan atau menuduh
mereka. Namun karena saya hendak memperlihatkan print out catatan mereka, akhirnya perlahan mereka akui. Dan tentu
saja mereka mengaku wajar atas penyampaian informasi saya itu. Saya juga
memohon maaf lantaran tidak bisa memperjuangkan mereka agar kreditnya di-acc.
Dari semua cerita di atas,
tentu dunia jual beli, termasuk persinggungan dengan lembaga pembiayaan
memberikan warna tersendiri bagi saya. Banyak pengetahuan, pengalaman, serta
dinamika yang saya alami. Untuk poin 1 sampai 3, sudah dikupas tuntas. Namun
saya ingin menutup tulisan ini dengan memberikan penekanan pada poin keempat.
Yaitu soal kepercayaan yang
telah diberikan sebelumnya. Biasanya konsumen yang pernah ngajuin kredit itu,
lalu ngajuin lagi, disebut RO (repeat
order). Kalau bagus, ini makanan empuk bagi marketing. Kalau jelek, duh menyedihkan. Sementara marketing sih
inginnya yang acc terus.
Bahwa memulihkan kepercayaan
ternyata lebih sulit ketimbang membangunnya. Bener ga nih? Kalimat ini sama
dengan ujaran “mengawali lebih mudah ketimbang mempertahankan”. Dua kalimat ini
bisa kita tarik kedalam kasus-kasus kehidupan sehari-hari atau dalam
organisasi. Dan mari kita buka secara seksama.
Jika kita mengajukan kredit
sepeda motor atau elektronik umpamanya, itu kemungkinan besar di-acc. Besar
kemungkinan. Namun jika kita pernah kredit dan kita teledor dalam pembayaran,
sering telat, sering loncat bulan, bahkan tidak selesai sampai tuntas, maka
jangan harap ajuan kita untuk yang kedua kalinya bisa di-acc lagi. Pasti
ditolak.
Tetapi sebaliknya, orang yang
tepat waktu dalam kredit, menyelesaikan hutang sampai tuntas, jangankan sudah
lunas, belum lunas pun krang-kring
telepon sudah bikin kita sibuk : pihak leasing nawarin kredit lagi dengan
segudang iming-iming menggiurkan.
Itulah efek perilaku, akibat
tindakan, serta insentif dari integritas kita, semuanya akan balik ke kita
dalam bentuk dan caranya sendiri. Ini artinya, keleluasaan hidup, rezeki,
kemudahan, akan sangat ditentukan oleh seberapa baik kita, oleh seberapa
terpercaya kita. Kalau kita sekuat tenaga menjaga integritas, kepercayaan,
akhlak kita, maka sudah pasti hidup kita happy-happy
saja. Pun sebaliknya, jika kita sering abai, menyepelekan janji, maka dunia
menjadi sumpek dan bikin hidup kita ribet dan tak bahagia.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar