Wilujeng Sumping....

Salam hangat dan kreatif....

Rabu, 13 Mei 2015

Bukan Soal Mantel, Tapi Mental


23 Maret 2015

07.00 – 09.00

Hari ini Senin, sejak bangun tidur pikiran agak kurang fokus. Tubuh rada lesu. Saya sudah dua bulan ini selalu menyempatkan shaum Senin – Kamis. Alhamdulillah, biar sehat. Saya anggap ini sebagai tirakat juga. Saya juga sholat saban waktu, dzikir dan berdo’a. Ditambah lagi sedekah.

Datang ke toko agak pagi, seperti biasa. Belum juga beres buka rolling door toko, seorang lelaki paruh baya datang beli mouse. Alhamdulillah, rezeki nih. Sebelum ke toko juga saya mampir ke ibu, saya kasih uang 300 ribu rupiah. Padahal, saya juga lagi susah dan pas-pasan. Tapi kalau lagi mumet, yang saya lakukan ya sedekah, membaca qur’an atau buku, berwudlu, atau makan kalau lagi tidak puasa. Hehehe.

Oh iya, saya selalu mengunjungi ibu saya hampir tiap hari. Kalau gak sempat, saya telepon. Selalu. Saya berfikir, ibu saya ini asset saya yang berharga. Dia yang saya yakini merupakan orang yang selalu berdo’a untuk kesuksesan saya. Sejak dulu saya bayi hingga kini. Saya percaya dengan mukjizat yang dimiliki seorang ibu.

Agak siang, datang A, mantan karyawan saya yang pamit dari toko dengan tidak pamitan. Hehe. Istilahnya rumit ya? Ya maksudnya dia berhenti bekerja tapi tidak bilang. Menghilang begitu saja tanpa basa-basi. Dia datang dengan segudang maaf. Saya tahu sih dia juga hidupnya agak morat-marit. Nikah lalu tidak punya pekerjaan. Saya kasihan juga. Dari ngobrol2 saya tahu bahwa dia sekarang ternak bebek. Cuma lantaran musim hujan, bebeknya jarang bertelur.

Lalu dia bicara soal hutang piutang. Saya sih tidak tahu dia punya utang ke toko saya. Sebab yang kelola manager toko saya. Dia minta maaf. Saya maafkan dan saya lunaskan hutangnya. Gak usah dibayar. Kasihan juga. Terakhir, sebelum pamit, dia beli tinta titipan kantor desa sebanyak 2 botol. Ini rezeki kata saya, alhamdulillah.

10.00

Hari ini saya punya jadwal ke Bandung. Harus berangkat. Jadwalnya ke Cimahi dulu. Hari sudah mendung. Selalu begitu saban hari. Kemarin juga cuaca begitu. Baru jalan sampai Bojong saya sudah kena hujan gede. Lupa bawa mantel. Akhirnya saya berteduh dari jam 12.00 s.d. jam 15.00. Lalu balik lagi, tak jadi pergi.

Untuk hari ini agak pagi saya berangkat. Dengan harapan, andai hujan turun, saya sudah sampai di Bandung. Dengan sedikit mengibaskan tangan, agar rasa malas dan dingin menguap ke langit, saya tancap gas. Sampai Cikalong hujan turun. Mulanya kecil lalu deras dan deras.

Sebentar saya mampir di warung kosong. Saya berfikir, gimana nih? Kalau perjalanan dilanjut, bagaimana barang bawaan berupa laptop 5 unit yang saya bawa?  Gak akan muat masuk mantel. Habis badan saya jumbo. Hahaha. Jarang olah raga sih.

Oh iya, sekedar selingan, beberapa waktu yang lalu, saat saya antar ibu ke dokter, saya iseng nginjak timbangan. Kaget bukan kepalang. Kiloan saya 61 kg. Waaww! Padahal, sebelumnya 67 kg. Sampai rumah saya kegirangan. Asyik juga kiloan berkurang. Namun agak mikir saat istri komentar. Kata istri, mungkin lagi stress, banyak pikiran. Saya juga jadi kepikiran. Apa iya ya? Ah tapi masa? Biasanya saya tak pernah stres sampai segitunya. Ini jadi misteri buat saya.

Misteri itu akhirnya terpecahkan. Saat telinga anak saya iritasi, iseng-iseng di dokter yang lain saya nginjek timbangan lagi. Waduh? Kiloan saya kok 67 kg lagi? Kenapa ya dalam seminggu naiknya seberat itu? Istri saya komen, mungkin kiloan di dokter lain rusak. Iya juga kali ya? Sedih bercampur bahagia. Sedihnya, kiloan saya tetap 67 kilo. Bahagianya, saya mampu membuktikan bahwa tuduhan istri saya soal stres ternyata sama sekali tidak benar. Dan nyatanya, saya selalu waras. Hahaha. Banyak pikiran, mumet, banyak masalah, itu tidak sampai mengganggu jiwa dan tubuh saya. Alhamdulillah.

11.00

Hujan semakin deras. Kelok-kelok jalan menuju Cimahi saya lewati dengan dingin yang menggigit. Beberapa bagian mantel mungkin sobek. Itu terasa dari resapan air di perut dan kaki. Saya berfikir, inilah perjuangan hidup. Harus mampu melewati halangan dan rintangan.

Saya percaya, hidup ini soal keberanian dan mental. Kadang banyak dari kita, jika mau bepergian selalu tak jadi lantaran hujan. Apa hujan tidak bisa disiasati? Kenapa? Bukankah ada mantel? Ah, mungkin masalahnya di mental. Takut dingin, tak mau basah, tak mau sakit dan masuk angin. Ketakutan. Bahkan selalu mereka-reka, takut hujannya tak berhenti-berhenti. Padahal, kalau positif thinking, boleh jadi di sini hujan, tapi di sana panas. Boleh jadi kan?

Perjalanan dari Pwk menuju Cimahi saya maknai seperti perjalanan hidup. Kadang untuk meraih sukses, kita ragu-ragu. Takut A, takut B. Padahal yang ditakutkan belum tentu terjadi. Andai terjadi, toh setelah dilewati tak ada masalah juga bukan? Basah sedikit ya wajar. Namanya juga hujan-hujanan. Bukankah saat kepanasan juga selalu mengeluh? Lalu maunya kita apa sih? Tak ada sabar, tak ada syukur. Ini penyakit kita.

11.30

Sampai Padalarang, Alhamdulillah cuaca panas. Tuh kan? Untung saya pergi. Coba kalau sewaktu di rumah tadi saya menerka-terka seperti anak kecil : pergi jangan, jangan pergi, pergi jangan, pergi jangan, jangan! Untungnya kata terakhir : pergi! Hehehe. Biarpun di awal keujanan, toh di Padalarang panas juga. Spekulasi itu penting. Namun keberanian lebih penting. Dan kesiapan untuk menghadapi resiko keberanian : ini kunci bahagianya hidup kita.

Setelah melewati rel kereta api, sengaja saya tak berhenti. Jas hujan tetap saya pakai. Siapa tahu nanti di depan hujan lagi. Biasanya suka banyak yang komen di jalanan. Kok panas-panas pake jas hujan? Ini juga pelajaran penting. Belajar merespon komentar dan kritik.

Abad sekarang abad komentar. Di televisi, kalau sepak bola atau tinju tidak ada komentatornya, rasanya hambar. Apa lagi musim teknologi macam sekarang. Jejaring sosial semacam facebook, twitter atau sejenisnya kan ruang komen-komenan. Malah istri saya, kalau saya komen atas perilaku gokil atau nyeleneh di rumah, dia suka nge-just balik : dasar facebooker! Celetuknya begitu.

Hidup tentu butuh komentar berupa saran dan kritik orang lain. Namun sepenuhya menyerahkan kehidupan kita pada persepsi publik tentu tidak baik juga. Nanti kita menjadi bukan kita. Semestinya, saran dan kritik itu disikapi dengan bijaksana. Disaring dulu. Biar kita memilah. Mana yang pantas kita turuti, mana yang tidak. Biar kita tidak jadi robot.

Kalau hidup terus-terusan gimana kata komentar orang, repot. Mending-mending komentarnya yang mendorong kebaikan dan positif. Coba yang jelek-jelek dan destruktif. Umpamanya, “ah, kamu mah gak bakalan sukses!”. Coba dengarkan kalimat ini terus menerus, lalu kita terpukau, lalu alam bawah sadar kita menerimanya, bahaya kita.

Jadi, bijaksanalah mencerna masukan eksternal. Pilah dulu, shortir dulu. Baru adaptasi.

12.00

Sampai di pelataran parkir Mall Cimahi, saya berencana untuk sholat dzuhur dulu. Lantaran sudah waktunya sholat. Pas saya berhenti, pas adzan berkumadang. Kebetulan di parkiran mall ini ada mushola kecil yang kotor dan kucel. Tempatnya sempit. Kadang manajemen tempat-tempat belanja cuek terhadap fasilitas umum dan ibadah. Padahal, di Kota Bandung, saya pernah lihat Perda soal fasilitas tempat ibadah di pusat perniagaan. Harus representatif, harus nyaman, bersih, dan indah. Perda ini saya pikir bagus. Apa di Pemkot Cimahi belum punya aturan macam ini?

Belum diterapkan rupanya. Kalau melihat di Gramedia umpamanya, di situ, walau kecil tapi ada. Resik lah. Bersih. Tapi di BEC perasaan enggak ada. Ehehehe. Kalau pergi ke BEC, saya suka numpang sholat di kantor perpajakan yang bersebelahan dengan BEC. Aneh. Masa kalah sama pusat belanja kecil. Di Kandaga yang kecil saja ada. Di Plasa Kosambi  juga ada. Bahkan di Pasar Baru, mesjidnya adem dan resik banget. Tapi di sini? Belum kali ya? Atau memang saya sendiri yang tidak tahu?

Setelah sholat, saya buka handphone. Maklum tadi sepanjang perjalanan kedengaran krang-kring terus. Tidak keangkat. Kan nelepon sambil berkendara dilarang toh? Hehehe. Saya jarang lakukan itu. Tapi saya suka lihat, banyak mereka yang suka nelepon sambil bawa motor. Kalau bawa mobil mending lah. Rodanya ada 4. Lha motor? Kakinya 2. Tar hilang keseimbangan, gimana tuh akibatnya?

Banyak panggilan tak terjawab dan pesan belum terbaca. Ada nomor yang menarik, saya telepon balik. Kalau nomornya tidak menarik, maksudnya tidak akan dibuka gituh? Hehehe. Bukan gituh maksudnya. Ada nomor yang menarik perhatian. Sampai-sampai energi saya terkuras sampai habis ke nomor itu. Cheile...

Setelah saya telepon, yang di seberang bicara. Intinya dia nawarin uang. Kalau 5 juta dulu mau diambil ga? Begitu kira-kira isi percapakan kami. Saya bahagianya selangit. Tapi mimik saya biasa-biasa saja. Saya jawab, nanti saya komunikasi dulu dengan teman. Ternyata ini orang yang punya utang mau bayar. Saya punya sangkut paut utang belasan juta. Bekas DP pembelian ruko yang tidak jadi. Duit saya nyangkut di situ. Namun saya juga akan memastikan beberapa hal, termasuk sisanya. Jangan sampai uang saya raib, toko tak jadi saya miliki.

Kalau saja di situ tidak becek, rasanya mau dah sujud syukur di lantai puncak Mall Cimahi ini. Saya girang bukan kepalang. Dari bank sudah nelepon terus, sementara besok tanggal 24 jadwal saya bayar hutang. Pas banget. Dasar Tuhanku yang Maha Baik. Dia tahu aja kebutuhan gue.  Hehehe. Alhamdulillah Ya Allah. Di bulan Maret ini saya diselamatkan oleh Allah, berbagai kebutuhan hidup saya dipenuhi. Puji Syukur ya Allah.

Jadi, kadang begitulah cara Allah menjawab do’a-do’a kita. Kadang lokasinya juga tak disangka-sangka. Mintanya di rumah, di Purwakarta. Tapi momentum jawabannya di Bandung yang jauh sekali dari perkiraan. Hehehe. Itulah mungkin rezeki min haitsu la yahtasib. Sebenarnya kita hanya perlu keyakinan, positif thinking, mental yang bagus, dan percaya sama Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar