23
Maret 2015
07.00
– 09.00
Hari ini Senin, sejak
bangun tidur pikiran agak kurang fokus. Tubuh rada lesu. Saya sudah dua bulan
ini selalu menyempatkan shaum Senin – Kamis. Alhamdulillah, biar sehat. Saya
anggap ini sebagai tirakat juga. Saya juga sholat saban waktu, dzikir dan
berdo’a. Ditambah lagi sedekah.
Datang ke toko agak pagi,
seperti biasa. Belum juga beres buka rolling
door toko, seorang lelaki paruh baya datang beli mouse. Alhamdulillah, rezeki nih. Sebelum ke toko juga saya mampir
ke ibu, saya kasih uang 300 ribu rupiah. Padahal, saya juga lagi susah dan
pas-pasan. Tapi kalau lagi mumet, yang saya lakukan ya sedekah, membaca qur’an
atau buku, berwudlu, atau makan kalau lagi tidak puasa. Hehehe.
Oh iya, saya selalu
mengunjungi ibu saya hampir tiap hari. Kalau gak sempat, saya telepon. Selalu.
Saya berfikir, ibu saya ini asset saya yang berharga. Dia yang saya yakini merupakan
orang yang selalu berdo’a untuk kesuksesan saya. Sejak dulu saya bayi hingga
kini. Saya percaya dengan mukjizat yang dimiliki seorang ibu.
Agak siang, datang A,
mantan karyawan saya yang pamit dari toko dengan tidak pamitan. Hehe.
Istilahnya rumit ya? Ya maksudnya dia berhenti bekerja tapi tidak bilang.
Menghilang begitu saja tanpa basa-basi. Dia datang dengan segudang maaf. Saya
tahu sih dia juga hidupnya agak morat-marit. Nikah lalu tidak punya pekerjaan.
Saya kasihan juga. Dari ngobrol2 saya tahu bahwa dia sekarang ternak bebek.
Cuma lantaran musim hujan, bebeknya jarang bertelur.
Lalu dia bicara soal
hutang piutang. Saya sih tidak tahu dia punya utang ke toko saya. Sebab yang
kelola manager toko saya. Dia minta maaf. Saya maafkan dan saya lunaskan
hutangnya. Gak usah dibayar. Kasihan juga. Terakhir, sebelum pamit, dia beli
tinta titipan kantor desa sebanyak 2 botol. Ini rezeki kata saya, alhamdulillah.
10.00
Hari ini saya punya jadwal
ke Bandung. Harus berangkat. Jadwalnya ke Cimahi dulu. Hari sudah mendung.
Selalu begitu saban hari. Kemarin juga cuaca begitu. Baru jalan sampai Bojong
saya sudah kena hujan gede. Lupa bawa mantel. Akhirnya saya berteduh dari jam
12.00 s.d. jam 15.00. Lalu balik lagi, tak jadi pergi.
Untuk hari ini agak pagi
saya berangkat. Dengan harapan, andai hujan turun, saya sudah sampai di
Bandung. Dengan sedikit mengibaskan tangan, agar rasa malas dan dingin menguap
ke langit, saya tancap gas. Sampai Cikalong hujan turun. Mulanya kecil lalu
deras dan deras.
Sebentar saya mampir di
warung kosong. Saya berfikir, gimana nih? Kalau perjalanan dilanjut, bagaimana
barang bawaan berupa laptop 5 unit yang saya bawa? Gak akan muat masuk mantel. Habis badan saya
jumbo. Hahaha. Jarang olah raga sih.
Oh iya, sekedar selingan,
beberapa waktu yang lalu, saat saya antar ibu ke dokter, saya iseng nginjak
timbangan. Kaget bukan kepalang. Kiloan saya 61 kg. Waaww! Padahal, sebelumnya
67 kg. Sampai rumah saya kegirangan. Asyik juga kiloan berkurang. Namun agak
mikir saat istri komentar. Kata istri, mungkin lagi stress, banyak pikiran.
Saya juga jadi kepikiran. Apa iya ya? Ah tapi masa? Biasanya saya tak pernah
stres sampai segitunya. Ini jadi misteri buat saya.
Misteri itu akhirnya
terpecahkan. Saat telinga anak saya iritasi, iseng-iseng di dokter yang lain
saya nginjek timbangan lagi. Waduh? Kiloan saya kok 67 kg lagi? Kenapa ya dalam
seminggu naiknya seberat itu? Istri saya komen, mungkin kiloan di dokter lain
rusak. Iya juga kali ya? Sedih bercampur bahagia. Sedihnya, kiloan saya tetap
67 kilo. Bahagianya, saya mampu membuktikan bahwa tuduhan istri saya soal stres
ternyata sama sekali tidak benar. Dan nyatanya, saya selalu waras. Hahaha.
Banyak pikiran, mumet, banyak masalah, itu tidak sampai mengganggu jiwa dan
tubuh saya. Alhamdulillah.
11.00
Hujan semakin deras.
Kelok-kelok jalan menuju Cimahi saya lewati dengan dingin yang menggigit.
Beberapa bagian mantel mungkin sobek. Itu terasa dari resapan air di perut dan
kaki. Saya berfikir, inilah perjuangan hidup. Harus mampu melewati halangan dan
rintangan.
Saya percaya, hidup ini
soal keberanian dan mental. Kadang banyak dari kita, jika mau bepergian selalu
tak jadi lantaran hujan. Apa hujan tidak bisa disiasati? Kenapa? Bukankah ada
mantel? Ah, mungkin masalahnya di mental. Takut dingin, tak mau basah, tak mau
sakit dan masuk angin. Ketakutan. Bahkan selalu mereka-reka, takut hujannya tak
berhenti-berhenti. Padahal, kalau positif thinking, boleh jadi di sini hujan,
tapi di sana panas. Boleh jadi kan?
Perjalanan dari Pwk menuju
Cimahi saya maknai seperti perjalanan hidup. Kadang untuk meraih sukses, kita ragu-ragu.
Takut A, takut B. Padahal yang ditakutkan belum tentu terjadi. Andai terjadi,
toh setelah dilewati tak ada masalah juga bukan? Basah sedikit ya wajar.
Namanya juga hujan-hujanan. Bukankah saat kepanasan juga selalu mengeluh? Lalu
maunya kita apa sih? Tak ada sabar, tak ada syukur. Ini penyakit kita.
11.30
Sampai Padalarang, Alhamdulillah
cuaca panas. Tuh kan? Untung saya pergi. Coba kalau sewaktu di rumah tadi saya
menerka-terka seperti anak kecil : pergi
jangan, jangan pergi, pergi jangan, pergi jangan, jangan! Untungnya kata
terakhir : pergi! Hehehe. Biarpun di awal keujanan, toh di Padalarang panas
juga. Spekulasi itu penting. Namun keberanian lebih penting. Dan kesiapan untuk
menghadapi resiko keberanian : ini kunci bahagianya hidup kita.
Setelah melewati rel
kereta api, sengaja saya tak berhenti. Jas hujan tetap saya pakai. Siapa tahu
nanti di depan hujan lagi. Biasanya suka banyak yang komen di jalanan. Kok
panas-panas pake jas hujan? Ini juga pelajaran penting. Belajar merespon
komentar dan kritik.
Abad sekarang abad
komentar. Di televisi, kalau sepak bola atau tinju tidak ada komentatornya,
rasanya hambar. Apa lagi musim teknologi macam sekarang. Jejaring sosial
semacam facebook, twitter atau sejenisnya kan ruang komen-komenan. Malah istri
saya, kalau saya komen atas perilaku gokil atau nyeleneh di rumah, dia suka
nge-just balik : dasar facebooker! Celetuknya begitu.
Hidup tentu butuh komentar
berupa saran dan kritik orang lain. Namun sepenuhya menyerahkan kehidupan kita
pada persepsi publik tentu tidak baik juga. Nanti kita menjadi bukan kita.
Semestinya, saran dan kritik itu disikapi dengan bijaksana. Disaring dulu. Biar
kita memilah. Mana yang pantas kita turuti, mana yang tidak. Biar kita tidak
jadi robot.
Kalau hidup terus-terusan
gimana kata komentar orang, repot. Mending-mending komentarnya yang mendorong
kebaikan dan positif. Coba yang jelek-jelek dan destruktif. Umpamanya, “ah,
kamu mah gak bakalan sukses!”. Coba dengarkan kalimat ini terus menerus, lalu
kita terpukau, lalu alam bawah sadar kita menerimanya, bahaya kita.
Jadi, bijaksanalah
mencerna masukan eksternal. Pilah dulu, shortir dulu. Baru adaptasi.
12.00
Sampai di pelataran parkir
Mall Cimahi, saya berencana untuk sholat dzuhur dulu. Lantaran sudah waktunya
sholat. Pas saya berhenti, pas adzan berkumadang. Kebetulan di parkiran mall
ini ada mushola kecil yang kotor dan kucel. Tempatnya sempit. Kadang manajemen tempat-tempat
belanja cuek terhadap fasilitas umum dan ibadah. Padahal, di Kota Bandung, saya
pernah lihat Perda soal fasilitas tempat ibadah di pusat perniagaan. Harus
representatif, harus nyaman, bersih, dan indah. Perda ini saya pikir bagus. Apa
di Pemkot Cimahi belum punya aturan macam ini?
Belum diterapkan rupanya.
Kalau melihat di Gramedia umpamanya, di situ, walau kecil tapi ada. Resik lah.
Bersih. Tapi di BEC perasaan enggak ada. Ehehehe. Kalau pergi ke BEC, saya suka
numpang sholat di kantor perpajakan yang bersebelahan dengan BEC. Aneh. Masa
kalah sama pusat belanja kecil. Di Kandaga yang kecil saja ada. Di Plasa
Kosambi juga ada. Bahkan di Pasar Baru,
mesjidnya adem dan resik banget. Tapi di sini? Belum kali ya? Atau memang saya
sendiri yang tidak tahu?
Setelah sholat, saya buka handphone. Maklum tadi sepanjang
perjalanan kedengaran krang-kring terus. Tidak keangkat. Kan nelepon sambil
berkendara dilarang toh? Hehehe. Saya jarang lakukan itu. Tapi saya suka lihat,
banyak mereka yang suka nelepon sambil bawa motor. Kalau bawa mobil mending
lah. Rodanya ada 4. Lha motor? Kakinya 2. Tar hilang keseimbangan, gimana tuh
akibatnya?
Banyak panggilan tak
terjawab dan pesan belum terbaca. Ada nomor yang menarik, saya telepon balik.
Kalau nomornya tidak menarik, maksudnya tidak akan dibuka gituh? Hehehe. Bukan
gituh maksudnya. Ada nomor yang menarik perhatian. Sampai-sampai energi saya
terkuras sampai habis ke nomor itu. Cheile...
Setelah saya telepon, yang
di seberang bicara. Intinya dia nawarin uang. Kalau 5 juta dulu mau diambil ga?
Begitu kira-kira isi percapakan kami. Saya bahagianya selangit. Tapi mimik saya
biasa-biasa saja. Saya jawab, nanti saya komunikasi dulu dengan teman. Ternyata
ini orang yang punya utang mau bayar. Saya punya sangkut paut utang belasan
juta. Bekas DP pembelian ruko yang tidak jadi. Duit saya nyangkut di situ.
Namun saya juga akan memastikan beberapa hal, termasuk sisanya. Jangan sampai
uang saya raib, toko tak jadi saya miliki.
Kalau saja di situ tidak
becek, rasanya mau dah sujud syukur di lantai puncak Mall Cimahi ini. Saya
girang bukan kepalang. Dari bank sudah nelepon terus, sementara besok tanggal
24 jadwal saya bayar hutang. Pas banget. Dasar Tuhanku yang Maha Baik. Dia tahu
aja kebutuhan gue. Hehehe. Alhamdulillah
Ya Allah. Di bulan Maret ini saya diselamatkan oleh Allah, berbagai kebutuhan
hidup saya dipenuhi. Puji Syukur ya Allah.
Jadi, kadang begitulah
cara Allah menjawab do’a-do’a kita. Kadang lokasinya juga tak disangka-sangka.
Mintanya di rumah, di Purwakarta. Tapi momentum jawabannya di Bandung yang jauh
sekali dari perkiraan. Hehehe. Itulah mungkin rezeki min haitsu la yahtasib. Sebenarnya kita hanya perlu keyakinan, positif thinking, mental yang bagus, dan percaya sama Allah.














