MAU DAFTAR PELATIHAN HIDROPPONIK?
KETIK DAFTAR#NAMA LENGKAP#ALAMAT# NO HP# EMAIL#
KIRIM KE 0819 101 909 68 / PIN 5B26BCAF
LALU TRANSFER UANG PENDAFTARAN
RP 350.000
KE REKENING BRI KCP WANAYASA
NOMOR 4357 - 01 - 013897 - 53 - 6
A.N SUSI SENDRAYANI, SIP
ATAU REKENING BCA
NO. REK 2317 035 124
A.N NANDANG AHMAD H
JIKA SUDAH TRANSFER, KIRIM BUKTINYA
KE EMAIL : warungtanamanpwk@yahoo.com
atau VIA BBM KE 5B26BCAF
BATAS AKHIR MENDAFTAR DAN TRANSFER TANGGAL 3 AGUSTUS 2016
SELAMAT MENDAFTAR!
Tujuh Pilar Kehidupan
Belajar, Berbisnis, Berbagi
Wilujeng Sumping....
Salam hangat dan kreatif....
Selasa, 19 Juli 2016
Rabu, 13 Mei 2015
Bukan Soal Mantel, Tapi Mental
23
Maret 2015
07.00
– 09.00
Hari ini Senin, sejak
bangun tidur pikiran agak kurang fokus. Tubuh rada lesu. Saya sudah dua bulan
ini selalu menyempatkan shaum Senin – Kamis. Alhamdulillah, biar sehat. Saya
anggap ini sebagai tirakat juga. Saya juga sholat saban waktu, dzikir dan
berdo’a. Ditambah lagi sedekah.
Datang ke toko agak pagi,
seperti biasa. Belum juga beres buka rolling
door toko, seorang lelaki paruh baya datang beli mouse. Alhamdulillah, rezeki nih. Sebelum ke toko juga saya mampir
ke ibu, saya kasih uang 300 ribu rupiah. Padahal, saya juga lagi susah dan
pas-pasan. Tapi kalau lagi mumet, yang saya lakukan ya sedekah, membaca qur’an
atau buku, berwudlu, atau makan kalau lagi tidak puasa. Hehehe.
Oh iya, saya selalu
mengunjungi ibu saya hampir tiap hari. Kalau gak sempat, saya telepon. Selalu.
Saya berfikir, ibu saya ini asset saya yang berharga. Dia yang saya yakini merupakan
orang yang selalu berdo’a untuk kesuksesan saya. Sejak dulu saya bayi hingga
kini. Saya percaya dengan mukjizat yang dimiliki seorang ibu.
Agak siang, datang A,
mantan karyawan saya yang pamit dari toko dengan tidak pamitan. Hehe.
Istilahnya rumit ya? Ya maksudnya dia berhenti bekerja tapi tidak bilang.
Menghilang begitu saja tanpa basa-basi. Dia datang dengan segudang maaf. Saya
tahu sih dia juga hidupnya agak morat-marit. Nikah lalu tidak punya pekerjaan.
Saya kasihan juga. Dari ngobrol2 saya tahu bahwa dia sekarang ternak bebek.
Cuma lantaran musim hujan, bebeknya jarang bertelur.
Lalu dia bicara soal
hutang piutang. Saya sih tidak tahu dia punya utang ke toko saya. Sebab yang
kelola manager toko saya. Dia minta maaf. Saya maafkan dan saya lunaskan
hutangnya. Gak usah dibayar. Kasihan juga. Terakhir, sebelum pamit, dia beli
tinta titipan kantor desa sebanyak 2 botol. Ini rezeki kata saya, alhamdulillah.
10.00
Hari ini saya punya jadwal
ke Bandung. Harus berangkat. Jadwalnya ke Cimahi dulu. Hari sudah mendung.
Selalu begitu saban hari. Kemarin juga cuaca begitu. Baru jalan sampai Bojong
saya sudah kena hujan gede. Lupa bawa mantel. Akhirnya saya berteduh dari jam
12.00 s.d. jam 15.00. Lalu balik lagi, tak jadi pergi.
Untuk hari ini agak pagi
saya berangkat. Dengan harapan, andai hujan turun, saya sudah sampai di
Bandung. Dengan sedikit mengibaskan tangan, agar rasa malas dan dingin menguap
ke langit, saya tancap gas. Sampai Cikalong hujan turun. Mulanya kecil lalu
deras dan deras.
Sebentar saya mampir di
warung kosong. Saya berfikir, gimana nih? Kalau perjalanan dilanjut, bagaimana
barang bawaan berupa laptop 5 unit yang saya bawa? Gak akan muat masuk mantel. Habis badan saya
jumbo. Hahaha. Jarang olah raga sih.
Oh iya, sekedar selingan,
beberapa waktu yang lalu, saat saya antar ibu ke dokter, saya iseng nginjak
timbangan. Kaget bukan kepalang. Kiloan saya 61 kg. Waaww! Padahal, sebelumnya
67 kg. Sampai rumah saya kegirangan. Asyik juga kiloan berkurang. Namun agak
mikir saat istri komentar. Kata istri, mungkin lagi stress, banyak pikiran.
Saya juga jadi kepikiran. Apa iya ya? Ah tapi masa? Biasanya saya tak pernah
stres sampai segitunya. Ini jadi misteri buat saya.
Misteri itu akhirnya
terpecahkan. Saat telinga anak saya iritasi, iseng-iseng di dokter yang lain
saya nginjek timbangan lagi. Waduh? Kiloan saya kok 67 kg lagi? Kenapa ya dalam
seminggu naiknya seberat itu? Istri saya komen, mungkin kiloan di dokter lain
rusak. Iya juga kali ya? Sedih bercampur bahagia. Sedihnya, kiloan saya tetap
67 kilo. Bahagianya, saya mampu membuktikan bahwa tuduhan istri saya soal stres
ternyata sama sekali tidak benar. Dan nyatanya, saya selalu waras. Hahaha.
Banyak pikiran, mumet, banyak masalah, itu tidak sampai mengganggu jiwa dan
tubuh saya. Alhamdulillah.
11.00
Hujan semakin deras.
Kelok-kelok jalan menuju Cimahi saya lewati dengan dingin yang menggigit.
Beberapa bagian mantel mungkin sobek. Itu terasa dari resapan air di perut dan
kaki. Saya berfikir, inilah perjuangan hidup. Harus mampu melewati halangan dan
rintangan.
Saya percaya, hidup ini
soal keberanian dan mental. Kadang banyak dari kita, jika mau bepergian selalu
tak jadi lantaran hujan. Apa hujan tidak bisa disiasati? Kenapa? Bukankah ada
mantel? Ah, mungkin masalahnya di mental. Takut dingin, tak mau basah, tak mau
sakit dan masuk angin. Ketakutan. Bahkan selalu mereka-reka, takut hujannya tak
berhenti-berhenti. Padahal, kalau positif thinking, boleh jadi di sini hujan,
tapi di sana panas. Boleh jadi kan?
Perjalanan dari Pwk menuju
Cimahi saya maknai seperti perjalanan hidup. Kadang untuk meraih sukses, kita ragu-ragu.
Takut A, takut B. Padahal yang ditakutkan belum tentu terjadi. Andai terjadi,
toh setelah dilewati tak ada masalah juga bukan? Basah sedikit ya wajar.
Namanya juga hujan-hujanan. Bukankah saat kepanasan juga selalu mengeluh? Lalu
maunya kita apa sih? Tak ada sabar, tak ada syukur. Ini penyakit kita.
11.30
Sampai Padalarang, Alhamdulillah
cuaca panas. Tuh kan? Untung saya pergi. Coba kalau sewaktu di rumah tadi saya
menerka-terka seperti anak kecil : pergi
jangan, jangan pergi, pergi jangan, pergi jangan, jangan! Untungnya kata
terakhir : pergi! Hehehe. Biarpun di awal keujanan, toh di Padalarang panas
juga. Spekulasi itu penting. Namun keberanian lebih penting. Dan kesiapan untuk
menghadapi resiko keberanian : ini kunci bahagianya hidup kita.
Setelah melewati rel
kereta api, sengaja saya tak berhenti. Jas hujan tetap saya pakai. Siapa tahu
nanti di depan hujan lagi. Biasanya suka banyak yang komen di jalanan. Kok
panas-panas pake jas hujan? Ini juga pelajaran penting. Belajar merespon
komentar dan kritik.
Abad sekarang abad
komentar. Di televisi, kalau sepak bola atau tinju tidak ada komentatornya,
rasanya hambar. Apa lagi musim teknologi macam sekarang. Jejaring sosial
semacam facebook, twitter atau sejenisnya kan ruang komen-komenan. Malah istri
saya, kalau saya komen atas perilaku gokil atau nyeleneh di rumah, dia suka
nge-just balik : dasar facebooker! Celetuknya begitu.
Hidup tentu butuh komentar
berupa saran dan kritik orang lain. Namun sepenuhya menyerahkan kehidupan kita
pada persepsi publik tentu tidak baik juga. Nanti kita menjadi bukan kita.
Semestinya, saran dan kritik itu disikapi dengan bijaksana. Disaring dulu. Biar
kita memilah. Mana yang pantas kita turuti, mana yang tidak. Biar kita tidak
jadi robot.
Kalau hidup terus-terusan
gimana kata komentar orang, repot. Mending-mending komentarnya yang mendorong
kebaikan dan positif. Coba yang jelek-jelek dan destruktif. Umpamanya, “ah,
kamu mah gak bakalan sukses!”. Coba dengarkan kalimat ini terus menerus, lalu
kita terpukau, lalu alam bawah sadar kita menerimanya, bahaya kita.
Jadi, bijaksanalah
mencerna masukan eksternal. Pilah dulu, shortir dulu. Baru adaptasi.
12.00
Sampai di pelataran parkir
Mall Cimahi, saya berencana untuk sholat dzuhur dulu. Lantaran sudah waktunya
sholat. Pas saya berhenti, pas adzan berkumadang. Kebetulan di parkiran mall
ini ada mushola kecil yang kotor dan kucel. Tempatnya sempit. Kadang manajemen tempat-tempat
belanja cuek terhadap fasilitas umum dan ibadah. Padahal, di Kota Bandung, saya
pernah lihat Perda soal fasilitas tempat ibadah di pusat perniagaan. Harus
representatif, harus nyaman, bersih, dan indah. Perda ini saya pikir bagus. Apa
di Pemkot Cimahi belum punya aturan macam ini?
Belum diterapkan rupanya.
Kalau melihat di Gramedia umpamanya, di situ, walau kecil tapi ada. Resik lah.
Bersih. Tapi di BEC perasaan enggak ada. Ehehehe. Kalau pergi ke BEC, saya suka
numpang sholat di kantor perpajakan yang bersebelahan dengan BEC. Aneh. Masa
kalah sama pusat belanja kecil. Di Kandaga yang kecil saja ada. Di Plasa
Kosambi juga ada. Bahkan di Pasar Baru,
mesjidnya adem dan resik banget. Tapi di sini? Belum kali ya? Atau memang saya
sendiri yang tidak tahu?
Setelah sholat, saya buka handphone. Maklum tadi sepanjang
perjalanan kedengaran krang-kring terus. Tidak keangkat. Kan nelepon sambil
berkendara dilarang toh? Hehehe. Saya jarang lakukan itu. Tapi saya suka lihat,
banyak mereka yang suka nelepon sambil bawa motor. Kalau bawa mobil mending
lah. Rodanya ada 4. Lha motor? Kakinya 2. Tar hilang keseimbangan, gimana tuh
akibatnya?
Banyak panggilan tak
terjawab dan pesan belum terbaca. Ada nomor yang menarik, saya telepon balik.
Kalau nomornya tidak menarik, maksudnya tidak akan dibuka gituh? Hehehe. Bukan
gituh maksudnya. Ada nomor yang menarik perhatian. Sampai-sampai energi saya
terkuras sampai habis ke nomor itu. Cheile...
Setelah saya telepon, yang
di seberang bicara. Intinya dia nawarin uang. Kalau 5 juta dulu mau diambil ga?
Begitu kira-kira isi percapakan kami. Saya bahagianya selangit. Tapi mimik saya
biasa-biasa saja. Saya jawab, nanti saya komunikasi dulu dengan teman. Ternyata
ini orang yang punya utang mau bayar. Saya punya sangkut paut utang belasan
juta. Bekas DP pembelian ruko yang tidak jadi. Duit saya nyangkut di situ.
Namun saya juga akan memastikan beberapa hal, termasuk sisanya. Jangan sampai
uang saya raib, toko tak jadi saya miliki.
Kalau saja di situ tidak
becek, rasanya mau dah sujud syukur di lantai puncak Mall Cimahi ini. Saya
girang bukan kepalang. Dari bank sudah nelepon terus, sementara besok tanggal
24 jadwal saya bayar hutang. Pas banget. Dasar Tuhanku yang Maha Baik. Dia tahu
aja kebutuhan gue. Hehehe. Alhamdulillah
Ya Allah. Di bulan Maret ini saya diselamatkan oleh Allah, berbagai kebutuhan
hidup saya dipenuhi. Puji Syukur ya Allah.
Jadi, kadang begitulah
cara Allah menjawab do’a-do’a kita. Kadang lokasinya juga tak disangka-sangka.
Mintanya di rumah, di Purwakarta. Tapi momentum jawabannya di Bandung yang jauh
sekali dari perkiraan. Hehehe. Itulah mungkin rezeki min haitsu la yahtasib. Sebenarnya kita hanya perlu keyakinan, positif thinking, mental yang bagus, dan percaya sama Allah.
Senin, 11 Mei 2015
Memulihkan Kepercayaan
Di minggu-minggu ini, saya
disibukkan dengan berjualan elektronik melalui lembaga pembiayaan yang disebut
FIF. Seminggu yang lalu, saya dikenalkan kawan dengan Kepala FIF Cikampek dan
salah satu toko elektronik di Kosambi. Setelah bikin konsensus dengan salah
satu toko di Karawang, sebut saja pemiliknya Koh Liong, saya gencar menjaring
customer. Saya berjualan melalui toko orang lain. Tidak bikin MOU sendiri. Dulu
pernah ngajuin MOU dengan FIF, tapi ditolak dengan sebab toko saya kurang disply.
Perlu dicatat, sebelumnya,
hampir 3 tahun saya berjualan di Kredit Plus. Namun sejak 2014, karena satu dan
lain hal, saya putus kontrak. Setelah putus kontrak, saya berjualan melalui
toko-toko kenalan. Tentu terasa berat dan rumit berurusan dengan birokrasi, sistem,
komunikasi, dan karakter berlainan di toko orang. Bahkan dari bulan ke bulan
saya selalu menjajaki kenalan baru, siapa tahu ada yang lebih menguntungkan.
Sampai akhirnya, ada tawaran menarik dari FIF Cikampek dan Koh Liong ini.
Pihak toko yang dikenalkan
Kepala FIF juga bikin konsensus tersendiri dengan saya. Dia bikin target jualan
buat saya. Angkanya 30 konsumen acc selama 3 bulan. Jika tercapai, saya
dijanjikan pinjaman barang elektronik senilai 10 juta perak untuk pajangan (disply) di toko saya. Jika 60 konsumen,
konskwensinya menjadi dua kali lipat. Saya sanggupi, pasalnya saya lagi krisis
modal. Jadi sedang giat mencari fatner usaha yang bisa membantu saya.
Tawaran itu, umpamanya angka
30 konsumen, sebenarnya bukan angka yang wow
bagi saya. Tidak berat, bahkan kalau mau sombong-sombongan, itu angka kecil.
Sebagai patokan, di 2014, saya selalu mendapatkan konsumen lebih dari 30 setiap
bulannya. Terakhir di bulan Oktober 2014, saya dapat konsumen acc 35 orang.
Namun karena ritme semangat
yang mengendur setelah putus kontrak dengan leasing, saya butuh kerja keras
lagi untuk mendapatkan konsumen sebanyak itu. Saya harus sebar brosur ke
lapangan, menghubungi data base konsumen, dan rajin silaturrahmi lagi. Tapi itu
tidak masalah. Hidup memang untuk kerja keras, bukan untuk enteng-entengan.
Singkat ceita, dalam tujuh
hari, saya sudah polling, istilah
untuk memasukkan data base konsumen
ke leasing, sebanyak 16 customer. Namun ini cuma data. Hehehe. Setelah
disurvey, cuma 4 orang yang acc, brow! Haha. Probabilitasnya cuma 25 % acc dari data yang
masuk. Tak apalah. Ini kan baru. Dulu-dulu sih saya 50 s.d 60 %. Jadi kalau
target saya punya 30 customer, saya cukup cari aplikasi sebanyak 60 saja. Acc
nya 30 toh?
Kepala FIF saban kali ada
status hasil surveyan selalu sms : jangan patah semangat! Saya jawab, tidak
akan. Sebab sistem di leasing ini ketat sih. Namun kelebihannya statusnya memang
kilat. Jika ajuan ditolak (reject),
mereka suka sending statusnya
disertai berbagai alasan yang masuk akal dengan segera. Walau ditolak, saya kan
jadi enak, sebab ada keputusan dengan segera dan cepat. Tidak nunggu-nunggu
lama, eh hasilnya ditolak juga.
Secara lebih rinci, dari
jumlah 16 customer itu, 4 acc, 2 pending proses, 4 ditolak proses (bed cust), 2 tidak disetujui orang
tuanya, 1 tidak disetujui istrinya, 1 ditolak karena barangnya tidak bisa
dibiayai, 2 ditolak karena customer tidak
ramah dan tidak kooperatif. Woowww! Saya bilang wow, ini pelajaran dan data
untuk saya baca. Apa maknanya dari semua ini?
Pertama,
untuk yang acc, ya tidak ada masalah. Itu kewenangan surveyor untuk menilai
seseorang dengan bekal ilmu yang dimilikinya. Saya senang. Sebab setiap unit
yang diacc, saya punya fee yang sudah saya hitung secara nominal. Hehehe. Dan
tentu saja, itu akan menjadi poin dalam tantangan saya mengejar target 30
customer dari rekanan saya di Kosambi itu.
Namun, pandangan dan penilaian
surveyor, seobyektif apapun akhirnya akan berujung pada subyektivitas. Tak
percaya? Saja jabarkan, diantara 4 orang yang diacc itu, 2 diantaranya ternyata
pernah kredit di leasing lain. Tapi data
base-nya tidak masuk BI checking.
Padahal, cara bayarnya jelek. Jadi sudah pasti, kalau customer ini ambil lagi
di leasing sebelumnya, ditolak lah. Disebutnya bed customer. Namun alatan konsumennya ramah dan secara pekerjaan
menunjang, akhirnya di leasing yang baru ini ajuan mereka di-acc. Tetapi
surveyor kan tidak tahu. Hehehe.
Kedua,
berkaitan dengan 3 konsumen yang tidak disetujui oleh istri dan keluarganya,
ini pelajaran bagi siapapun. Kalau mau kredit, ya harus minta persetujuan dulu
keluarga. Harus komunikasi. Manfaatnya, kalau kita mati umpamanya, ahli waris
atau keluarga akan tahu soal hutang kita. Bukankah dalam Islam, yang harus
didahulukan dari seseorang yang meninggal dunia itu dibayarkan dulu utangnya?
Dan manfaat bagi leasing, kalau yang bersangkutan tidak ada, bisa nagih ke
keluarga. Namanya utang kan ya tetap utang, harus dibayar.
Ketiga,
untuk kasus 2 customer yang ditolak
dengan alasan tidak kooperatif dan bed
charakter, termasuk hasil cheklingnya jelek, ini menarik. Saya juga
langsung klarifikaasi ke customernya. Sebab saya kenal. Sebenarnya, konsumen
ini orang baik. Bahkan di bulan ini dia lunas untuk kredit elektronik di
leasing lain. Saya tau dia lancar. Saya tau dia orang baik. Sering ketemu di
mesjid. Sehari-hari ia berjualan. Form
lah secara kapasitas. Namun saat di survey, ia tidak mau diwawancara. Ia
berdalih, sudah panjang lebar ngobrol dengan saya. Padahal kapasitas saya kan
marketing. Saya berfikir, benar juga sih kata surveyor. Tidak ramah. Hehehe.
Akhirnya ditolak.
Soal chekling, ini memang prosedur dan taktik surveyor. Biasanya, selain
wawancara dan cheking data base di sistem, mereka bertanya
soal customer kepada pejabat berwenang di bawah semacam RT/RW, atau kepada
tetangga. Lagi-lagi memang ini situasi untung-untungan.
Jika bertanya kepada tetangga
yang kebetulan suka dan akur dengan kita, muluslah ajuan kita. Tetapi tidak
sedikit, tetangga juga suka ada yang usil. Bahkan mungkin tidak akur dengan
kita. Biasanya hasil chekling suka dijadikan acuan surveyor, isinya : menurut
tetangga mereka, si A itu suka banyak yang nagih, bla..bla..bla.. pokoknya
kesan negatif semua.
Tentu tidak semua customer itu
sebagaimana yang dikatakan tetangganya. Tetapi kalau sudah terjadi, konsumen
baik-baik tapi tidak disukai tetangga bisa jadi korban penolakan ajuan
kreditnya oleh leasing. Ini setidaknya pelajaran penting, bagaimana pun dan
dengan siapapun, kita harus akur. Hehehe.
Keempat,
untuk 4 konsumen yang ditolak prosesnya tiada lain karena catatan bayar
sebelumnya. Di leasing disebut payment
story. Setiap yang kredit akan tercatat di data base, kapan bayarnya,
tanggal berapa, dll. Dendanya berapa, termasuk lunasnya kapan. Keempat konsumen
ini pernah kredit motor. Semuanya ditarik, tidak sampai selesai. Dan tentu
saja, mereka dikasih gelar : bed customer.
Hehehe. Pasti ditolak.
Yang menggelitik, tiga dari
empat konsumen yang ditolak ini ialah guru PNS dengan jabatan Kepala Sekolah.
Adapun yang satu sebagai karyawan garmen swasta. Tentu saya tidak hendak
mempermasalahkan status dan jabatan.
Namun ketiga orang ini,
awalnya marah-marah kepada saya lantaran disebutkan bahwa catatan bayarnya di
masa lalu kurang baik. Mereka tidak ngaku pernah ambil motor. Padahal di sistem
jelas tercatat nama mereka. Saya tidak hendak mempersoalkan soal masa lalu
mereka. Tapi hanya memberikan alasan, mengapa ajuan mereka ditolak.
Mungkin mereka tersinggung
soal catatan masa lalu itu. Wajar sih, seolah saya mempermalukan atau menuduh
mereka. Namun karena saya hendak memperlihatkan print out catatan mereka, akhirnya perlahan mereka akui. Dan tentu
saja mereka mengaku wajar atas penyampaian informasi saya itu. Saya juga
memohon maaf lantaran tidak bisa memperjuangkan mereka agar kreditnya di-acc.
Dari semua cerita di atas,
tentu dunia jual beli, termasuk persinggungan dengan lembaga pembiayaan
memberikan warna tersendiri bagi saya. Banyak pengetahuan, pengalaman, serta
dinamika yang saya alami. Untuk poin 1 sampai 3, sudah dikupas tuntas. Namun
saya ingin menutup tulisan ini dengan memberikan penekanan pada poin keempat.
Yaitu soal kepercayaan yang
telah diberikan sebelumnya. Biasanya konsumen yang pernah ngajuin kredit itu,
lalu ngajuin lagi, disebut RO (repeat
order). Kalau bagus, ini makanan empuk bagi marketing. Kalau jelek, duh menyedihkan. Sementara marketing sih
inginnya yang acc terus.
Bahwa memulihkan kepercayaan
ternyata lebih sulit ketimbang membangunnya. Bener ga nih? Kalimat ini sama
dengan ujaran “mengawali lebih mudah ketimbang mempertahankan”. Dua kalimat ini
bisa kita tarik kedalam kasus-kasus kehidupan sehari-hari atau dalam
organisasi. Dan mari kita buka secara seksama.
Jika kita mengajukan kredit
sepeda motor atau elektronik umpamanya, itu kemungkinan besar di-acc. Besar
kemungkinan. Namun jika kita pernah kredit dan kita teledor dalam pembayaran,
sering telat, sering loncat bulan, bahkan tidak selesai sampai tuntas, maka
jangan harap ajuan kita untuk yang kedua kalinya bisa di-acc lagi. Pasti
ditolak.
Tetapi sebaliknya, orang yang
tepat waktu dalam kredit, menyelesaikan hutang sampai tuntas, jangankan sudah
lunas, belum lunas pun krang-kring
telepon sudah bikin kita sibuk : pihak leasing nawarin kredit lagi dengan
segudang iming-iming menggiurkan.
Itulah efek perilaku, akibat
tindakan, serta insentif dari integritas kita, semuanya akan balik ke kita
dalam bentuk dan caranya sendiri. Ini artinya, keleluasaan hidup, rezeki,
kemudahan, akan sangat ditentukan oleh seberapa baik kita, oleh seberapa
terpercaya kita. Kalau kita sekuat tenaga menjaga integritas, kepercayaan,
akhlak kita, maka sudah pasti hidup kita happy-happy
saja. Pun sebaliknya, jika kita sering abai, menyepelekan janji, maka dunia
menjadi sumpek dan bikin hidup kita ribet dan tak bahagia.
Minggu, 10 Mei 2015
Perhiasan Sesungguhnya
Seperti
biasanya, pagi hari adalah saat yang menyenangkan. Setelah sebelumnya berdo’a,
berdzikir, dan sholat, tugas hidup selanjutnya biasanya membereskan keadaan
rumah, mulai tempat tidur sampai dapur.
Lalu
mengumpulkan cucian berupa piring, gelas, dan wadah-wadah bekas makanan. Tak
lupa, saya memanaskan air untuk mandi si kecil. Lalu mengumpulkan baju-bajunya
yang kotor untuk saya cuci. Juga membersihkan dot susu anak saya dengan air
mendidih. Biar steril dari kuman.
Tak
selang berapa lama, saya mencuci beras untuk kemudian saya masak. Sementara
istri tugasnya memasak sayuran, mencuci bekas-bekas makanan yang lain yang
dipakai menyusul. Tugas itu dilakukan istri setelah agak siang, dan seringnya
setelah saya pergi ke toko. Hehehe. Pasalnya, pas saya berangkat, kadang istri
dan anak masih pada tidur. Saya sih perginya selalu di pagi buta. Apa lagi
kalau lagi shaum senin-kamis, saya pergi pagi-pagi banget.
Hari
ini, Kamis 9 Maret 2015 adalah jadwal saya ke Bandung untuk membeli printer,
aksesoris, dan servis laptop customer. Saban pagi saya selalu memompa semangat.
Selalu mengendalikan emosi, pikiran, agar selelah apapun tubuh saya, itu bisa berubah
menjadi semangat dan bertenaga. Pikiran dan emosi saya rasa menentukan gerak
kita, termasuk hasil dari ikhtiar kita.
Namun
sebelum ke Bandung, di toko saya melayani beberapa konsumen terlebih dahulu.
Ada yang belanja, ada yang servis, ada yang cuma tanya-tanya kredit. Lalu saya
menyempatkan diri untuk membeli giwang spesial anak saya. Saya sudah tak sabar
ingin kasih perhiasan buat anak saya yang lucu dan cerdas itu. Ehehehe.
Saya
beli dua buah, masing-masing 2 gram. Harganya tak sampai sejuta. Pasti di rumah
istri saya girang bukan kepalang. Pasalnya, akhir-akhir ini dia selalu mengeluh
banyak hal. Mulai keadaan ekonomi yang morat-marit, perhiasan istri dan anak
yang habis saya jual untuk menutupi kebutuhan hidup, sampai dengan usaha yang
lesu. Banyak hal lah. Dan tentu, yang selalu dijadikan keluhan paling sering
ialah soal anak kami yang sama sekali tidak memakai perhiasan.
Sebenarnya
saya tidak terganggu dengan keluhan itu. Malah kasihan. Saya juga merasa
bersalah kadang. Sebagai suami tidak serta-merta memenuhi segala keinginan
istri saya. Kalau untuk kebutuhan, alhamdulillah saya masih mampu. Tapi saya
anggap sikap istri saya semacam itu wajar. Itu mungkin kebiasaan dari
lingkungan keluarga di mana dia berasal.
Sekedar
diketahui, keluarga istri merupakan keluarga berada. Bapak mertua saya
pengusaha cengkeh. Ibu mertua sebagai ibu rumah tangga dengan segudang asset.
Kehidupan mereka berkecukupan. Sering menghabiskan banyak uang untuk sekedar
berobat ringan, beli pakaian, perhiasan, dan makan-makan atau rekreasi pelesiran.
Mungkin tradisi itu turun sama istri saya. Jadi saat menghadapi kenyataan hidup
yang susah, dia sulit beradaptasi. Bahkan menganggap keadaan demikian sebagai
situasi yang buruk. Tak jarang kami juga bertengkar soal ini. Mengapa?
Sebenarnya
saya tidak alergi untuk hidup agak sedikit mewah. Pakaian bermerk, sepatu, tas,
saya sudah biasa. Jam tangan saya, karena waktu itu lagi punya rezeki, saya
beli Gishock seharga 1,2 juta. Atau makan di restoran, pelesiran ke tempat
wisata, itu hal biasa. Nah yang harus dipikirkan ialah saat situasi ekonomi
tidak mendukung. Mental saya sudah kuat, tapi istri berbeda sikap.
Kesiapan
mental menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan harapan, tentu butuh tempaan
yang tidak mudah dan tidak sebentar. Itu bisa lahir dari latihan, bacaan,
keterpaksaan menghadapi kenyataan dan kesungguhan untuk mengendalikan diri,
pikiran dan perasaan.
Saya
selalu waspada dengan keadaan ini. Bahkan, dari pemahaman spiritual, saya sadar
sang pengatur sejati kehidupan ini Allah. Dan tentu saja, pemilik segala
kekayaan di muka bumi ini siapa lagi jika bukan Dia yang Maha Kaya Raya. Saya
lahir tanpa membawa apapun, dan saya akan kembali kepada-Nya hanya dengan
sehelai kain kafan. Jadi apa yang harus ditakutkan dengan hidup ini? Hidup ini
untuk dinikmati dengan segala kemewahan dan keterbatasan yang diberikan Allah.
Bukankah begitu?
Nah
hari ini, saya menjawab kekhawatiran istri selama ini soal perubahan hidup. Di
hadapan istri, saya selalu berorasi laiknya Bung Karno atau ocehan Mario Teguh
soal motivasi hidup. Istri kadang tertegun dan ragu. Hahaha. Namun saya selalu
meyakinkan, urusan perhiasan itu urusan sepele. Ini soal duniawi.
Bahkan
saya selalu sesumbar, akan mengganti seluruh perhiasan istri yang saya jual
untuk membayar utang ke bank. Tenang saja. Dari
mana, ia tanya. Dari Allah, saya jawab. Saya juga akan membelikan anak kami
perhiasan. Dan tekad saya itu Allah kabulkan di hari ini. Alhamdulillah.
Sampai
di rumah selepas melewati ratusan kilo jarak tempuh dari Bandung, saya pulang
dan dengan buru-buru menghampiri anak saya. Saya pakaikan gelang yang saya
beli. Anak saya senyum-senyum saja. Dia memeluk saya. Gak ngerti dengan
perhiasan.
Bahkan,
“buka..buka..buka”. Dia pengen buka gelang dari tangan kirinya. Saya merasa
bangga punya anak ini. Selain diidam-idamkan, ia juga cerdas dan cepat dalam
merespon pelajaran. Beberapa minggu lalu ia masih mengucapkan “buta” untuk kata
“buka”. Tapi saya rubah, saya ajarin berulang-ulang, dan sekarang, kalau dia
ingin membukan kemasan plastik, pintu dan lain-lain, ia akan berkata : “buka!”
dengan fasih. Hehehe.
Percakapan
saya dengan anak disaksikan istri dari jarak dekat. Istri kelihatan senyum
bahagia. Namun karena terus-terusan meminta gelangnya dibuka, saya langsung
membukanya. Istri saya komentar, katanya anak kami ini agak tomboy. Namun saya
cepat-cepat menimpali pernyataan istri saya. Saya bilang, anak ini mungkin tak perlu perhiasan. Sebab dia sendiri merupakan
perhiasan hidup bagi saya.
Suasana
senyap, dan kami menutup senja ini dengan berbuka puasa bersama.
Jumat, 08 Mei 2015
Makan dan Kebahagiaan
Mungkin,
kalau orang dengan dandanan perlente, punya status mantan caleg, atau apalah,
itu menu makan siangnya harus wah.
Itulah sebabnya, si ibu tukang warung nasi pinggir pom bensin Wanayasa itu tak
henti-hentinya menertawakan saya. Apa pasal?
Saya
log in di warung itu sebelum
berangkat ke kota menemui relasi usaha. Usaha saya lagi kusut. Makanya saya
lebih sering menghabiskan banyak waktu untuk bertemu siapapun yang sekiranya
bisa menghasilkan peluang-peluang prospektif.
Masuk
di warung ini maksudnya tiada lain : makan siang. Saya sudah biasa keluar masuk
warung ini, termasuk di luar jam makan. Sudah kenal dengan pemiliknya. Dijalin
sudah agak lama. Dan kebetulan, anaknya yang nomor dua saya kenal di kelas
perkuliahan ekonomi. Gini-gini juga saya nyambi jadi semacam dosen. Hahaha. Semacam, bro!.
Saya
datang berdua bersama fatner saya dalam menjalankan wirausaha. Ace Yusup
namanya. Sistem ambil menu: bebas. Semacam parasmanan. Ambil piring
masing-masing, ambil nasi dan lauk pauknya bebas. Lha, pokoknya ini momentum
tepat kalau ketemu warung semacam ini. Cocok buat anak kosan yang budget-nya pas-pasan. Bisa kenyang tanpa
harus bayar mahal-mahal.
Setelah
kenyang, saya lapor sama pemilik warung : nasi satu piring, tidak terlalu
besar, sama ikan dengklang (selar)
sepotong, tempe bacem dua, sayur asem 2/3 mangkuk. Sudah itu saja. Lalu fatner
saya juga lapor dengan isi yang berbeda. Alhasil, total kami makan siang berdua
di siang itu Rp. 18.000.
Segituh?
Saya kaget, pertama soal total uang
yang harus saya bayar. Murah amat? Beras saja lagi melambung tinggi, di kisaran
9 – 12 ribu/kg. Ini sangat kontras dengan harga-harga yang kerap kali bikin
saya kaget. Saya pernah makan sop buntut di toserba Giant, pas bayar harganya
di atas 40 ribu. Waw kata saya. Saya
sering makan siang di lantai ujung di Bandung Electronic Center (BEC),
rata-rata satu porsinya 27.000. Lalu di Pujasera sekitar BEP, dan yang selalu
saya kenang, di lingkungan Unpad Jatinangor.
Spesial
untuk yang di Jatinangor, sedikit belok nih alur tulisan, hehehe, waktu itu,
saya diajak pacar saya yang aduhai, untuk menikmati makan siang. Dia tahu
persis lokasi-lokasi makan enak versinya di sekitaran Unpad, pasalnya ia
sendiri lulusan Fisipol kampus itu. Kami masuk kafe, saya lupa namanya. Naik
lantai 2, ada beberapa pasangan lagi menikmati menu pavoritnya. Saya pesan menu
diatur sama pacar saya itu. Pas saya cicipi, yang terasa pedasnya rempah lada.
Bentuk makanan berlendir, ditelisik sih agak menjijikan. Saya tak tau makanan
macam apa itu. Isinya potongan daging ayam kecil-kecil bercampur salad.
Yang
saya ingat dari makanan itu pas saya datang ke kasir: 120 ribu! Waduh? Tapi mimik saya lurus saja. Malu
sama mantan pacar (sekarang sudah jadi ibu dari anak saya, hehehe) kalau
kelihatan kaget atas harga yang harus saya bayar. Saya pikir-pikir, jika saya
membandingkan rasa makanan waktu itu dan harga yang saya bayar dengan makan
siang di si ibu dekat pom bensin yang cuma 18 ribu perak, menghasilkan beberapa
point penting, pertama setidaknya
menyangkut rasa.
Rasa
keseluruhan makan di pom bensin itu jauh lebih nikmat, sekalipun saya cuma
merogoh kocek yang amat sedikit. Kedua, jujur, sekalipun tengah dimabuk cinta,
pikiran saya masih waras. Rasa makanan di Bandung itu tetap saja tidak membawa
kenikmatan secara original. Yang nikmat itu situasinya saja, sebab saya
berhadap-hadapan dengan kekasih yang saya cintai. Hihihi. Jadi, pacaran saya
selalu melibatkan akal pikiran. Yang gak enak ya gak enak, gimana lagi.
Objektifnya begitu kok? Chiee..
Kedua,
balik lagi ke poin dari tema utama artikel ini, saya kaget lantaran pemilik
warung ketawa-ketawa terus sambil banyol dan lelucon. “Ih, bapak dosen, mantan
caleg, makan siangnya sama dengklang” kata sang pemilik sambil terus
menertawaiku. Sesekali saya menjawab atau sekedar menimpalinya dengan agak
heran, “memangnya kenapa, bu?”.
Setelah
pamit, dalam perjalanan senja menuju kota, sempat juga kepikiran, memangnya
makan “dengklang” itu kenapa ya? Apa si ibu menertawakan kocek saya yang lagi boke?
Bukankah yang menjumlahkan total harga makan siang kami berdua itu dia sendiri?
Lagian, kalau seandainya harus bayar berapapun, hahaha sombong nieh, saya sebenarnya mampu kok? Gakgakgak.
Dari
catatan ini saya ingin menggarisbawahi, bahwa makan, sebenarnya tak perlu
mahal, yang penting nikmat dan bergizi. Kredo ini lajim ya, dan saya pungut
dari berbagai omongan orang yang sering mengaku ahli kesehatan. Nasi sendiri
sumber tenaga, sayur asem ya serat ya vitamin lain. Tempe masuk ke
kacang-kacangan, bisa sumber protein nabati. Urusan “dengklang”? ini sumber
kebahagiaan. Hahaha.
Jadi,
kalau makan, jangan selalu berorientasi gizi dan kesehatan. Hahaha. Saran tidak
baik nih. Sekali-kali kalau makan itu harus menimbulkan efek bahagia. Puas.
Urusan bathin juga. Sebagaimana saat saya makan siang terdiri dari nasi akeul,
ikan sepat, sambal goang, pete. Wuidih, nendang banget itu makan. Formulasi
gizi di dalamnya saya malas bahas ya. Yang penting bikin happy, sekali-kali
gituh.
Namun
sekalipun begitu, saya tentu harus mengingatkan dan bertanya : sudahkan Anda
makan yang bergizi dan bikin hidup Anda bahagia? Hahaha.
Senin, 23 Maret 2015
Seputar Kredit Melalui Leasing
Pernah kredit elektronik? Kalau pernah, di mana?
Di tetangga yang suka ngreditin secara harian? Di toko atau lewat marketing
lepas?
Kalau kita ambil kredit dari tetangga lalu
dicicil secara mingguan, atau kadang bisa nego tidak bayar, hehehe, itu namanya
avalis. (Gak gitu juga sih, kadang lantaran ke tetangga, bayarnya jadi semau
gue, haha).
Namun, kini banyak juga perusahaan yang melakukan
itu. Bedanya, kalau avalis perorangan modalnya kecil, kalau yang berbentuk
lembaga baik CV atau PT ya besar. Intinya, kredit semacam itu, barangnya dari
mereka, bayar dan nyicilnya juga ke mereka lagi.
Yang skala besar, perusahaan semacam itu banyak.
Ada Columbia, Prioritas, Semar Kredit, dll. Macam-macam namanya. Yang Semar kayak wayang saja ya? Hehehe.
Lalu soal prosesnya tentu beda dengan perorangan. Mereka proses datanya, mereka
survey, kalau acc, baru mereka kirim
barangnya.
Di samping itu, ada juga yang melalui lembaga
pembiayaan (leasing). Lembaga ini memang
membiayai kredit. Namun untuk penyediaan unit barangnya, mereka kerja sama
dengan ritel-ritel atau toko distributor.
Lembaga pembiayaan semacam itu banyak. Cuma yang
terkenal ya FIF dengan Spectra, Adira dengan Adira Quantum, dan PT Finansia
dengan Kredit Plusnya. Ada juga Home Kredit, dll. Belakangan, Adira Quantum
tutup lantaran kena aturan otoritas jasa keuangan (OJK). (Kasihan ya karyawannya pada di PHK.. semoga tabah :( )
Bagaimana cara kerja kredit semacam ini? Pertama,
leasing dan toko melakukan perjanjian
kerja sama. Dengan syarat2 tertentu. (Tambahan
: pake matrei + tanda tangan J)
Kalau ada customer yang mau kredit, umpamanya
datang ke toko, nanti marketing leasing datang ambil persyaratan berupa KTP customer yang biasanya dititip di toko.
Lalu sama marketing, formulir konsumen diisi
lengkap untuk selanjutnya di-input di
sistem leasing sebagai bahan surveyor untuk nyurvey.
Setelah surveyor cek data dan kelayakan kredit,
Credit Analis (CA) leasing akan memutuskan acc atau tidak. Kalau acc, nanti
leasing akan mengeluarkan PO ke toko agar toko rekanan segera mengirim barang. Oh iya, ada triknya loh supaya ajuan kredit
kita diacc. Nanti saya kasih bocoran. Hehehe.
Setelah toko mengirim barang, umpamanya harga
barangnya 3 juta, contoh angsuran 200 rb dan admin 100 ribu, itu pas dikirim
diambil sama toko. Rata-rata sistem yang berlaku di leasing menggunakan
angsuran pertama + admin pas ada barang. Pake DP untuk beberapa jenis produk
saja.
Lalu toko membuat invoice (tagihan) ke leasing.
Selang sehari, nanti leasing akan mentransfer uang sebesar 2,7 juta. Kenapa?
Bukankah seharusnya 3 juta? Sebab yang 300 sudah diambil dari angsuran pertama
+ admin dari konsumen.
Selama ini suka ada yang protes, itu admin untuk
apa? Masuk toko? Secara tersirat ya diambil pihak toko. Tapi sebenarnya masuk
leasing. Sebab transferan dari leasing dikurangi angsuran tersebut.
Lalu kemana konsumen bertanggungjawab? Soal
angsuran ya ke leasing. Kalau macet dan lain-lain ya leasing yang tanggung
jawab. Tar ada kolektor yang
ngejar-ngejar. Hehehe. Bagaimana kalau ada trouble dengan barang?
Nah soal barang, balik lagi ke toko. Biasanya
toko akan memberitahu, kalau masa barangnya masih garansi, akan dikasih tau
untuk klaim garansi ke pusat center dari sebuah merk. Umpamanya Acer, ya ke
Acer center. Tanggungjawab siapa? Tanggungjawab konsumen sendiri. Sebab di
aturan garansi ada aturan garansi.
Namun, suka ada toko yang sekedar membantu klaim
garansi. Itu sifatnya cuma bantuan sukarela. Berapa lama klaim garansi? Karena
jaraknya jauh, misalnya di Jakarta atau Bandung, biasanya klaim garansi lumayan
lama. Dimulai 2 mingguan sampai 1 bulan. Kadang ada yang 2 atau 3 bulan kalau spare part yang diganti lagi kosong.
Nah begitulah alur kredit. Silahkan jadi bahan
pengetahuan. Dan perlu dicatat, keterlambatan di leasing akan dikenai denda.
Kalau denda tak dibayar, itu akan susah kalau mau ambil lagi (repeat order/RO). Anda akan punya
predikan baru di leasing, badcust! Xixixix...
Dan lagi, data di leasing akan selalu up 2 date. Jangan sekali-kali loncat
bulan. Nanti akan dianggap konsumen tak layak dikasih kredit lagi. Datanya online.
Bisa dicek di BI Checking. Kalau
ngajuin lagi, akan ditolak. Kalau mau pinjam ke bank, cara bayar kita yang
jelek akan ketahuan juga. Serem yah? Nah nah
nah, makanya jangan coba-coba tidak jujur yah? Hehe
Semoga artikel sederhana ini bermanfaat.
Langganan:
Komentar (Atom)















