Wilujeng Sumping....

Salam hangat dan kreatif....

Jumat, 06 Februari 2015

Belajar Toleransi dari Si Nenek

Butiran gerimis masih bertaburan diantara rerumputan, genting, dan tanah. Kabut tebal menyelimuti semua jalanan. Penglihatan mata kita menjadi begitu berjarak. Jangkauan retina dan jelajah rabunnya hanya berjengkal. Tak bisa jauh. Dunia menjadi sepi, manusia-manusia begitu masyuk menindih tubuh-tubuh berkerutnya diantara bantal dan selimut hangat. Oh, dunia seolah mati diantara dengkuran pemuja kehangatan yang enggan membuka jendela-jendela kehidupan mereka.
Tapi biarlah mereka sejenak menikmati gerimis, hembusan kabut putih, juga hangatnya selimut dan bantal-bantal empuk yang mulai membatu. Saya tidak ingin menjadi bagian dari kenikmatan yang mereka rasakan. Sebab saya justru merasakan nikmatnya menenggelamkan kaki diantara air hujan yang berkubang diantara lobang-lobang kecil di jalanan, lalu sesekali menendangnya dengan lembut. Keciprak air membuat jiwa ini bersorak-sorai, sekalipun diamini oleh satu hati : hatiku yang bahagia.
Saya terus berjalan, menyusuri lorong-lorong jalan yang melompong. Sudah berapa desa kujumpai? Ah, lebih dari tiga. Jiwaku terus mengusik : bergeraklah! Jangan diam dan bisu. Jika ingin dunia dan masa depanmu secerah awan di musim kemarau, jangan berhenti mengayuh. Sebab jika kakimu sejenak lupa mengayuh, maka kau akan jatuh. Begitulah selalu, bisik hatiku mengingatkan jalan panjang yang harus kulalui.

Oh, ternyata. Maafkan aku wahai jiwa-jiwa hidup! Rupanya saya keliru. Bahwa dunia benar-benar tenggelam diantara lautan dengkur pagi. Ternyata tidak, tidak semua. Di sebuah sudut perempatan menuju pemakaman Desa Sumbersari, Kecamatan Kiarapedes, si nenek renta tengah berbincang renyah dengan pujaan hatinya, kakek renta yang hendak pergi mengontrol saluran air di sawahnya. Seolah mendapati kawan sesama manusia diantara hutan belantara yang mencekam, rinai-rinai bahagia memoles wajah kusamku yang sedari tadi berhiaskan kabut tipis.
Entah atmosfir politik menjelang Pemilu Legislatif 9 April 2014 menyulapku menjadi pribadi super ramah, atau memang itu letupan hati spontan seorang anak manusia yang masih menjalin relasi dengan jiwa terdalamnya, sontak saja kuulurkan tangan. “Damang, Ni?” (Baca : Sehat, Nek?). Tak terasa, entah bagaimana mulanya, kepulan asap pagi saling bertukar, arak-arakan entah sampai di mana. Kami berbincang diantara gerimis yang masih tajam menghujani tanah-tanah berlumut. Kami bahas, layaknya pemikir di mimbar akademis, tentu saja dengan bahasa yang kami pahami bersama, soal banyak hal. Dari sekian hal, yang paling menggelitik ialah soal kematian tetangga si nenek. 
Si Nenek bercerita, tetangganya yang sudah sejak 14 tahun lalu ia kenal, wafat tadi malam. Cerita kematian tentu saja tak banyak menarik perhatian kita. Malah, rupanya sebagian kita agak malas untuk membahas topik yang satu ini. Apa pasal, setiap kita memiliki argumentasi berbeda-beda. Mulai dari takut, belum sanggup, atau hal lain berkaitan dengan hidup, agama, mistik, dll. Padahal, sejatinya kita semua akan mati. Akan kembali kepada Allah SWT sesuai dengan jatah usia kita masing-masing. Lalu bagaimana masa depan kita? Tergantung amal kebaikan kita. Jika baik, maka pasti kita temui kehidupan akherat yang membahagiakan. Jika buruk, tentu kita dapati ladang amal buruk kita. Itu janji pasti Allah SWT dalam al-Qur’an.
Balik lagi soal cerita si nenek, dengan menitikkan air mata, ia menceritakan bahwa tetangga itu begitu baik. Sangat baik. Setiap pekan berkirim pindang ikan. Menebar senyum, berbagi rezeki. Bertandang sekedar menyapa. Dan Nenek merasa kehilangan begitu dalam saat si tetangga yang ia kenal itu wafat. Lalu ia berbisik kepadaku : “Insya Allah, unggal tos sholat, Nini mah bade ngintunan hadiah sareng fatihah. Mugi we amal ibadahna sing ditampi ku Allah SWT. Sok sanaos anjeuna Kristen, Nini mah emut kana kasaeannana.  Wios batur mah moal ngahadiahan oge” (Baca : Insya Allah, setiap habis sembahyang, Nenek akan bacakan surat al-Fatihah. Semoga Amal Ibadahnya diterima Allah SWT. Sekalipun ia beragama Kristen, Nenek selalu ingat kebaikan yang ia lakukan. Tak apa orang lain tak berkirim fatihah juga).
Allahu Akbar. Luar biasa! Saya merasa, bahwa ingatan saya terseok ke lorong entah di mana. Seolah lepas ke langit, takjub mengamati gemintang, matahari, rembulan, dan keajaiban serta kehebatan semesta di jagat ini. Hampir tak percaya, bagaimana mungkin seorang nenek di pelosok sana, punya kebaikan dan kekerabatan dengan tetangganya begitu sakral. Bertetangga yang mengedepankan jiwa. Lepas dari perdebatan para pemikir dan pemuka agama soal relasi kehidupan antar agama. 
Si Nenek, dalam benak saya, betapa toleran. Betapa ia hidup tidak dikungkung oleh dogma-dogma agama. Saya jadi kepikiran, apa yang disampaikan Karl Marx tentang agama sebagai candu, hipotesis itu gugur. Si Nenek jauh lebih maju, menjangkau cara merasa yang universal. Buktinya? Si nenek mampu menjangkau kehidupan yang mungkin di luar batas nalarnya. Ia toleran. Lebih toleran dari pemuka-pemuka bangsa ini dengan puluhan gelar berjajar di depan dan belakang namanya. Yang ia lihat cuma satu : kebaikan. Itu saja.

@@@

Gerimis mulai menipis. Setipis pakaian glamor para artis. Beberapa gerombolan pemuda beriringan memanggul cangkul. Bisik-bisik diantara mereka terdengar sayup. Tapi beberapa kalimat jelas kudengar untuk kutakar. Mereka pekerja yang hendak menggali tanah untuk pemakaman si Kristiani tadi. Yang kudengar, mereka menggali tanah bukan lantaran agama yang mengajarkan mereka untuk berbuat demikian. Ia hanya lantaran dibayar untuk menggali. Karena uang. Jika tidak karena uang, “haram” bagi mereka untuk membantu orang berlainan agama soal proses penguburan jasad si mayat. Itu pun menggali bukan di pemakaman umum. Tapi ditempat yang mendadak dibeli.
Dengan penuh hikmah, saya berpamitan. Saya masih punya jadwal untuk menghadiri hajatan seorang Pimpinan Pondok Pesantren di Desa Taringgul Landeuh, tentu masih dalam rangka safari politik saya. Sepanjang jalanan, berkali-kali dengus nafas panjang ini naik-turun diantara kerongkongan keringku. Banyak pelajaran dalam hidup ini. Dari sekian pelajaran, saya hanya ingin menggunting satu potong kata, bahwa orientasi apapun, alasan apapun, niat apapun, dalam hidup yang serba sebentar ini haruslah berpijak pada satu kata : Kebaikan. Termasuk kebaikan untuk menghormati, toleransi, dan berbagi diantara sesama.
Menjelang mimpi selepas kampanye, di kaki Gunung Sunda Desa Pusakamulya, Kiarapedes, 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar