Butiran gerimis
masih bertaburan diantara rerumputan, genting, dan tanah. Kabut tebal
menyelimuti semua jalanan. Penglihatan mata kita menjadi begitu berjarak. Jangkauan
retina dan jelajah rabunnya hanya berjengkal. Tak bisa jauh. Dunia menjadi
sepi, manusia-manusia begitu masyuk menindih tubuh-tubuh berkerutnya diantara
bantal dan selimut hangat. Oh, dunia seolah mati diantara dengkuran pemuja
kehangatan yang enggan membuka jendela-jendela kehidupan mereka.
Tapi biarlah mereka
sejenak menikmati gerimis, hembusan kabut putih, juga hangatnya selimut dan
bantal-bantal empuk yang mulai membatu. Saya tidak ingin menjadi bagian dari
kenikmatan yang mereka rasakan. Sebab saya justru merasakan nikmatnya
menenggelamkan kaki diantara air hujan yang berkubang diantara lobang-lobang
kecil di jalanan, lalu sesekali menendangnya dengan lembut. Keciprak air
membuat jiwa ini bersorak-sorai, sekalipun diamini oleh satu hati : hatiku yang
bahagia.
Saya terus
berjalan, menyusuri lorong-lorong jalan yang melompong. Sudah berapa desa
kujumpai? Ah, lebih dari tiga. Jiwaku terus mengusik : bergeraklah! Jangan diam
dan bisu. Jika ingin dunia dan masa depanmu secerah awan di musim kemarau,
jangan berhenti mengayuh. Sebab jika kakimu sejenak lupa mengayuh, maka kau
akan jatuh. Begitulah selalu, bisik hatiku mengingatkan jalan panjang yang
harus kulalui.
Oh, ternyata. Maafkan aku wahai jiwa-jiwa hidup! Rupanya saya keliru. Bahwa dunia benar-benar tenggelam diantara lautan dengkur pagi. Ternyata tidak, tidak semua. Di sebuah sudut perempatan menuju pemakaman Desa Sumbersari, Kecamatan Kiarapedes, si nenek renta tengah berbincang renyah dengan pujaan hatinya, kakek renta yang hendak pergi mengontrol saluran air di sawahnya. Seolah mendapati kawan sesama manusia diantara hutan belantara yang mencekam, rinai-rinai bahagia memoles wajah kusamku yang sedari tadi berhiaskan kabut tipis.
Entah atmosfir
politik menjelang Pemilu Legislatif 9 April 2014 menyulapku menjadi pribadi
super ramah, atau memang itu letupan hati spontan seorang anak manusia yang
masih menjalin relasi dengan jiwa terdalamnya, sontak saja kuulurkan tangan. “Damang, Ni?” (Baca : Sehat, Nek?). Tak
terasa, entah bagaimana mulanya, kepulan asap pagi saling bertukar, arak-arakan
entah sampai di mana. Kami berbincang diantara gerimis yang masih tajam
menghujani tanah-tanah berlumut. Kami bahas, layaknya pemikir di mimbar
akademis, tentu saja dengan bahasa yang kami pahami bersama, soal banyak hal.
Dari sekian hal, yang paling menggelitik ialah soal kematian tetangga si nenek.
Si Nenek bercerita,
tetangganya yang sudah sejak 14 tahun lalu ia kenal, wafat tadi malam. Cerita
kematian tentu saja tak banyak menarik perhatian kita. Malah, rupanya sebagian
kita agak malas untuk membahas topik yang satu ini. Apa pasal, setiap kita
memiliki argumentasi berbeda-beda. Mulai dari takut, belum sanggup, atau hal
lain berkaitan dengan hidup, agama, mistik, dll. Padahal, sejatinya kita semua
akan mati. Akan kembali kepada Allah SWT sesuai dengan jatah usia kita
masing-masing. Lalu bagaimana masa depan kita? Tergantung amal kebaikan kita.
Jika baik, maka pasti kita temui kehidupan akherat yang membahagiakan. Jika
buruk, tentu kita dapati ladang amal buruk kita. Itu janji pasti Allah SWT
dalam al-Qur’an.
Balik lagi soal
cerita si nenek, dengan menitikkan air mata, ia menceritakan bahwa tetangga itu
begitu baik. Sangat baik. Setiap pekan berkirim pindang ikan. Menebar senyum,
berbagi rezeki. Bertandang sekedar menyapa. Dan Nenek merasa kehilangan begitu
dalam saat si tetangga yang ia kenal itu wafat. Lalu ia berbisik kepadaku : “Insya Allah, unggal tos sholat, Nini mah
bade ngintunan hadiah sareng fatihah. Mugi we amal ibadahna sing ditampi ku
Allah SWT. Sok sanaos anjeuna Kristen, Nini mah emut kana kasaeannana. Wios batur mah moal ngahadiahan oge”
(Baca : Insya Allah, setiap habis sembahyang, Nenek akan bacakan surat
al-Fatihah. Semoga Amal Ibadahnya diterima Allah SWT. Sekalipun ia beragama
Kristen, Nenek selalu ingat kebaikan yang ia lakukan. Tak apa orang lain tak
berkirim fatihah juga).
Allahu Akbar. Luar
biasa! Saya merasa, bahwa ingatan saya terseok ke lorong entah di mana. Seolah
lepas ke langit, takjub mengamati gemintang, matahari, rembulan, dan keajaiban
serta kehebatan semesta di jagat ini. Hampir tak percaya, bagaimana mungkin
seorang nenek di pelosok sana, punya kebaikan dan kekerabatan dengan
tetangganya begitu sakral. Bertetangga yang mengedepankan jiwa. Lepas dari
perdebatan para pemikir dan pemuka agama soal relasi kehidupan antar agama.
Si Nenek, dalam
benak saya, betapa toleran. Betapa ia hidup tidak dikungkung oleh dogma-dogma
agama. Saya jadi kepikiran, apa yang disampaikan Karl Marx tentang agama
sebagai candu, hipotesis itu gugur. Si Nenek jauh lebih maju, menjangkau cara
merasa yang universal. Buktinya? Si nenek mampu menjangkau kehidupan yang
mungkin di luar batas nalarnya. Ia toleran. Lebih toleran dari pemuka-pemuka
bangsa ini dengan puluhan gelar berjajar di depan dan belakang namanya. Yang ia
lihat cuma satu : kebaikan. Itu saja.
@@@
@@@
Gerimis mulai
menipis. Setipis pakaian glamor para artis. Beberapa gerombolan pemuda
beriringan memanggul cangkul. Bisik-bisik diantara mereka terdengar sayup. Tapi
beberapa kalimat jelas kudengar untuk kutakar. Mereka pekerja yang hendak menggali
tanah untuk pemakaman si Kristiani tadi. Yang kudengar, mereka menggali tanah bukan
lantaran agama yang mengajarkan mereka untuk berbuat demikian. Ia hanya
lantaran dibayar untuk menggali. Karena uang. Jika tidak karena uang, “haram”
bagi mereka untuk membantu orang berlainan agama soal proses penguburan jasad
si mayat. Itu pun menggali bukan di pemakaman umum. Tapi ditempat yang mendadak
dibeli.
Dengan penuh
hikmah, saya berpamitan. Saya masih punya jadwal untuk menghadiri hajatan
seorang Pimpinan Pondok Pesantren di Desa Taringgul Landeuh, tentu masih dalam
rangka safari politik saya. Sepanjang jalanan, berkali-kali dengus nafas
panjang ini naik-turun diantara kerongkongan keringku. Banyak pelajaran dalam
hidup ini. Dari sekian pelajaran, saya hanya ingin menggunting satu potong
kata, bahwa orientasi apapun, alasan apapun, niat apapun, dalam hidup yang
serba sebentar ini haruslah berpijak pada satu kata : Kebaikan. Termasuk
kebaikan untuk menghormati, toleransi, dan berbagi diantara sesama.
Menjelang mimpi selepas kampanye, di kaki Gunung Sunda Desa Pusakamulya, Kiarapedes, 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar