Oleh : Hasan Sidik, SE (Ketua Umum HMI Cabang Purwakarta periode 2005-2006, Pegiat wirausaha di Tujuh Pilar)
Enam puluh lima tahun yang lalu, tepatnya 5 Pebruari 1947, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) lahir diprakarsai oleh Lafran Pane beserta belasan mahasiswa yang lain di Jogjakarta. Tujuannya untuk mempertahankan NKRI dari pecah belah primordialisme ideologi, serta mengembangkan ajaran Islam yang inklusive, yang rahmatan lil’alamin.
Hari ini, 5 Pebruari 2012, di usianya yang ke-65, HMI adalah organisasi akbar dengan segudang capaian historis, mulai dari jumlah anggota, cabang-cabang, gerakkan-gerakkan, sampai pada alumni yang berkiprah di berbagai sudut negeri ini.
Di usia yang senja ini, tentu ada dua kegamangan: apakah HMI akan menghadap takdir sejarahnya dilahap usia? Atau akan lahir kembali sebagai HMI masa kini yang siap menghadapi berbagai tantangan kebangsaan dan keislaman? Kita pasti memilih yang terakhir.
Untuk memilih yang terakhir, tentunya juga tidak mudah. Sejarah mengukir bagaimana HMI melahirkan tokoh-tokoh kaliber nasional dan internasional, mulai dari cendekiawan, politisi, birokrat, kepala daerah, sampai wakil presiden. Tetapi juga banyak perilaku-perilaku yang lahir dari organ ini yang mencoreng nama besar HMI. Misalnya kasus-kasus korupsi, kasus moral, dan lain-lain. Mengapa orang-orang yang lahir dari organ ini, meskipun sudah menjadi alumni, masih memiliki sedikit banyaknya sumbangan beban sejarah bagi HMI ke depan? Sebab HMI adalah organ kolektif, dimana kader digodok dengan ideologi, sejarah, semangat juang, serta tautan organisatoris dalam bentuk KAHMI (Korp Alumni HMI).
Namun begitu, kita optimis, bahwa ke depan, HMI masih leluasa mengembangkan sayap-sayapnya. Selain menyiapkan pranata SDM berkualitas, sebagaimana misi HMI yang meliputi kualitas insan akademis, dengan sokongan intelektualitas, yang siap mencari jalan baru dalam bentuk penciptaan ide-ide baru dan kreativitas lainnya dalam menyelesaikan berbagai problem kebangsaan dan keagamaan, dengan tak kalah pentingnya semua itu didedikasikan sebagai pengabdian terhadap agama, bangsa dan negara, agar terwujud negeri makmur yang diridhoi Allah SWT.
Misi itu wajib diterjemahkan kedalam kerja-kerja strategis dan taktis, melalui pembinaan kader-kader muda, dengan cara banyak melakukan kajian keagamaan, sosial, juga terlibat aktif dalam berbagai kegiatan kebangsaan dan kemasyarakatan. HMI juga bisa memerankan diri sebagai pegiat intelektualitas, dengan cara banyak membaca buku, mengkaji, riset, atau menulis untuk memperkaya literatur, selain bisa terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, misalnya bakti sosial, mencari solusi untuk problem-problem kemasyarakatan, dan bekerja sama dengan semua elemen masyarakat, termasuk pemerintah untuk menjaga moral, menyukseskan program-program pro rakyat miskin, dan tak lupa membantu melakukan advokasi bagi warga-warga tertindas agar mendapatkan keadilan.
Selama ini mungkin kader HMI sering mentok dalam perdebatan tak berujung soal kerja sama dengan pemerintah. Ada anggapan bahwa di saat organ kemahasiswaan ini mendukung program pemerintah, maka organisasi ini disebut tidak steril dari keuasaan dan dijustifikasi sebagai organ penjilat dan tidak independen. Ada yang perlu diluruskan, mengingat semua ruang-ruang kiprah organisasi ini dirancang secara cerdas dan lengkap, termasuk bagaimana komunikasi organ ini dengan berbagai elemen masyarakat, dan terutama dengan pemerintah.
HMI mengenal dua makna independensi, yakni secara etis dan organisatoris. Secara organisasi, jelas bahwa HMI bukan organisasi underbow partai politik, yayasan tertentu, atau dibawah LSM stuktural lainnya. HMI adalah HMI, organisasi khas yang memuat visi dan misi jelas, punya latar sejarah, punya fundamen ideologi, theologi, dan historisitasnya. Ia hadir sebagai kawah candradimuka bagi anak muda untuk menggodok diri menjadi pribadi cerdas, bermoral, kaya imajinasi dan kreativitas, serta disulut semangat juangnya untuk mengabdi kepada agama, bangsa dan negara, dan untuk sebesar-besarnya kepentingan kemakmuran rakyat Indonesia.
Adapun secara etis, HMI harus berpihak, berpihak pada yang benar. Makna independensi yang kedua ini lebih theologis dan ideologis, walaupun secara harfiah agak kontradiktif. Ini dapat dipahami, merunut pada itikad, bahwa kita menjadi manusia merdeka, bebas, merdeka yang sebenar-benarnya manakala jiwa raga kita berikrar syahadat, tiada Tuhan selain al-Haq. Dan Muhammad adalah rasulu-Nya. Dalam penjabaran taktisnya, HMI harus independen, dengan cara, sepanjang ukurannya kebenaran, maka kepada siapapun, HMI harus berpihak. Termasuk pada kekuasaan dan pemerintah.
Namun, jika menyangkut kebathilan, sekalipun itu kepada alumni sendiri, kita diharamkan untuk berpihak. Di sinilah ruang dialektisnya organ terbesar dan tertua di negeri ini memberikan rambu-rambu bergerak yang ideal bagi kadernya.
Sekarang, di suainya yang ke-65, HMI banyak diterjang badai. Mulai dari kualitas kader yang merosot baik dari kualitas ataupun kuantitasnya, sampai pada perilaku elit dan alumni yang mau-tidak mau harus menjadi renungan bersama. Anas Urbaningrum, Ketua Umum PB HMI hasil kongres -21 di Jogjakarta yang kini menjadi Ketua Umum Partai Demokrat dituding korupsi. Kita berharap, semoga tudingan itu tidak benar. Tetapi jika benar, maka kita wajib menggunakan kacamata independensi kita. Kita membela yang hak, dan kita tidak membela yang bathil. Siapapun itu.
Semoga HMI semakin sukses dengan lumbung kader muda berkualitasnya, serta siap menghadapi tantangan zaman yang global, siap bersaing, dan lebih produktif dalam menghasilkan gagasan segar untuk perbaikan moral ummat dan bangsa ini ke depan. Semoga. Yakin Usaha Sampai.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar