Sejak kecil, penulis tertarik untuk menekuni bidang wirausaha. Kelas 1 SD, sudah jualan es kacang, bubur kacang yang dibekukan di kulkas, dibungkus kecil-kecil. Jika ibu panen jagung atau kacang tanah, saya bungkus dan saya jual di sekolah kepada teman-teman. Lumayan, untuk jajan saya sudah mandiri sejak kecil.
Menginjak SMP, saya berjualan apa saja. Mulai dari sarung, layang-layang, sampai kosmetik. Di SMU, saya sudah bergabung dengan bisnis MLM, mulai dari CNI, Tiansi, Ahad-Net, dll. Komunikasi yang lancar lantaran sering baca buku menjadi modal saya. Namun, saya juga tidak lupa mencatat. Setiap ada barang yang saya jual, saya catat di buku tulis. Saya selalu mencatat agar tidak lupa. Saya sadar, memori otak itu terbatas. Saya bukan orang jenius dengan memori bagus. Saya pelupa. Makanya saya bantu dengan catatan.
Selain soal jual-menjual, saya juga kerap kali mencatat apa yang terpikir dalam benak saya. Ketika SMP, saya beli karton warna putih ukuran 60 x 100 cm. Saya tempel di dinding bilik kamar. Lalu saya catat banyak hal. Mulai dari nama, cita-cita, sampai langkah apa saja yang harus saya lakukan. Di karton itu juga tertulis, saya ingin kuliah di mana, sekolah SMA di mana, serta aktif berorganisasi di mana. Entah kenapa, dalam usia remaja SMP seperti itu, saya sudah memikirkan semua itu. Saya juga selalu mencatat, di manapun saya harus jadi pemimpin (bahasa catatannya : ketua).
Apa yang terjadi selanjutnya? Saya memang hidup atas dasar tulisan itu. Saya orang miskin, dari kampung. Ibu single parent, ditinggal cerai oleh bapak. Saya tak percaya saat selesai kuliah dan diwisuda. Kalau dipikir-pikir, uang dari mana? Tapi saat ini saya berfikir, bahwa pikiran, keyakinan, ia memiliki kekuatan. Apa lagi keyakinan itu bila selalu kita baca, kita lihat, kita ulang-ulang, maka akan menjadi kenyataan. Dan tulisan menghantarkan saya pada apa yang saya mau.
Ketika SMU, saya revisi semua catatan saya di karton itu. Diperjelas dan detail. Dibuat serealistis mungkin. Saya tulis, “Kuliah di UI jurusan Sastra Inggris”. Apa hasilnya? Saya kuliah di STIE Dr. KHEZ Muttaqien Purwakarta, sekolah yang baru dibuka. Apakah tulisan saya di karton mengecewakan? Saya bilang tidak. Misi saya kuliah, dan itu bisa saya lakukan, padahal makan juga pas-pasan. Tetapi saya banyak belajar dari kekuatan tulisan. SMU kelas II saya sudah mencatat pikiran bahwa saya ingin kuliah. Meski tidak tercapai di UI dengan jurusan yang saya inginkan, tetapi saya bersyukur, bisa menggeluti dunia ekonomi. Dan kalau dipikir-pikir, ilmu yang saya dapatkan sangat menunjang minat bisnis saya sejak SD itu. Artinya ada kesinambungan pikiran dengan minat dan kenyataan. Tuhan memang Maha Tahu.
Soal berorganisasi dan selalu harus jadi pemimpin, itu menjadi kenyataan. Di SMU saya jadi ketua Osis. Di kuliahan saya jadi ketua Senat, di organisasi ekstrauniversiter saya jadi Ketua Umum HMI Cabang Purwakarta periode 2005-2006. Apa yang saya tulis memang jadi kenyataan. Walaupun, ketika di SMU saya menulis bahwa saya akan aktif di Partai Keadilan (PK waktu itu), dan sekarang menjadi PKS. Tapi saya tidak pernah aktif di sana.
Lalu apa lagi? Banyak kisah sedih sewaktu kuliah. Namun, untuk menyeimbangkan emosi, saya selalu mencatat setiap peristiwa itu kedalam buku catatan saya. Sekarang kadang saya tersenyum sendiri saat membaca catatan itu. Yang lain? Saya juga sering menulis artikel, feature, makalah, dll. Saya pernah mengikuti loma menulis ilmiah tingkat Mahasiswa, tingkat Nasional di UNPAD Jatinangor. Saya juga sering membuat makalah untuk teman kuliah. Lalu mereka bayar saya. Saya juga dapat pesanan membuat skripsi. Hasil kerja saya dibayar pemesan. Entahlah soal ini, dibenarkan atau tidak. Yang jelas, untuk bertahan hidup, menulis menjadi salah satu solusi bagi saya waktu itu.
Saya juga aktif di Majalah Dewan Pendidikan Purwakarta. Menjadi wartawan. Menulis. Lalu menerbitkan beberapa buletin, salah satunya e-qien, buletin kampus. Lalu menerbitkan buletin lain, “Jalak Harupat”. Lalu berusaha menulis lepas di berbagai media. Pernah dimuat di Harian Republika, Koran nasional. Dan lewat wesel Pos, saya dapat imbalan. Sungguh gembira waktu itu.
Menulis : Jembatan Pikiran menuju Kenyataan
Apakah narasi yang berbaris-baris panjang di atas sekedar nostalgia dan romantisme pribadi? Mungkin ya, tapi juga ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Bahwa menulis bukan aktivitas biasa, aktivitas tanpa makna, sesepele apapun yang kita tulis. Sekedar menulis, “Beli Bakso Rp. 5.000” saja, hemat saya adalah tulisan yang luar biasa. Coba Anda bayangkan, bagaimana jadinya jika Anda seorang pemegang uang, uang orang, organisasi, bercampur dengan uang pribadi misalnya. Lalu tidak kita catat? Saya jamin anda akan stress. Ya, Anda akan uring-uringan, berusaha mengingat, tapi sulit. Anda akan jengkel. Dan saya sudah merasakan.
Menulis adalah obat stress. Fatima Mernisi, tokoh pendidikan dari Maroco menulis, bahwa menulis adalah obat stress, obat sedih, dan obat gangguang emosi dan pikiran. Itu hasil riset ilmiah beliau. Apa yang Fatima sampaikan memang benar. Kegalauan jiwa, keresahan batin, itu akan memuai manakala kita menulis. Lihat saja orang yang lagi terjerat masalah cinta. Mereka akan banyak menulis puisi, kata-kata mutiara, atau surat. Begitupun yang lagi putus cinta, ia akan menulis, berpuisi, atau curat-coret lainnya. Percayalah, setelah itu saraf-saraf stess mereka akan berkurang perlahan.
Menulis adalah aktivitas luar biasa. Dalam surat al-‘alaq, tuhan berfirman, “(tuhan) yang telah mengajarkan manusia dengan pena (kolam)”. Sejarah kehidupan masa lalu sampai ke kita dewasa ini melalui dialektika peradaban dengan sebaran pengetahuan melalui media. Mulai dari zaman batu hingga zaman digital dewasa ini. Teori-teori pengetahuan sampai ke kita melalui buku-buku, tulisan di batu, atau sebaran berbagai media lainnya. Hikmah-hikmah orang besar, atau hikayat orang-orang saleh, atau cerita-cerita kesuksesan zaman dulu, itu sampai ke kita melalui tulisan. Sebegitu hebatlah tulisan dalam mengabadikan berbagai tradisi masa lalu yang dapat dijadikan pelajaran manusia modern saat ini.
So, apakah Saudara kerap kali menulis? Saya jamin, dewasa ini orang akan pernah menulis. Mungkin ketika sekolah atau kuliah, karena terpaksa atau sebab lain, kita menulis. Atau sekarang, kita menulis sms, menulis status di facebook, dll. Ini awal yang baik untuk menulis hal lain. Apa? Apa saja. Tulislah semua hal yang ada di pikiran kita. Tak bisa? Tak mungkin. Saya jamin semua orang bisa menulis. Menulis apa saja, dan dalam bentuk apa saja.
Apakah harus menulis dengan kaidah bahasa Indonesia : baik dan benar? Adakalanya hemat saya tak usah. Kalau Anda ingin menulis, menulislah semaunya. Persoalan salah dan benar atau soal sesuai dengan kaidah atau tidak, itu tergantung kebutuhan. Kita harus menulis benar dan baik di saat tulisan itu ditujukan untuk menyampaikan pesan tertentu kepada orang lain, dibaca halayak publik, atau dengan maksud komersial. Itu pilihan.
Tetapi menulislah. Apa yang ada di pikiran, tulislah, tuangkan kedalam kertas. Setiap ada gagasan, tulislah. Jika Anda tak mampu merangkai gagasan itu dalam bentuk tulisan yang baik, tak usah khawatir. Bisa minta bantuan orang lain. Jadi yang terpenting adalah, menulislah setiap saat. Setiap hal yang akan anda lakukan, tulislah. Jadwal acara, jadwal kegiatan, hal penting, alamat, kartu nama orang, catatan pengeluaran, atau peristiwa-peristiwa di seputar kehidupan Anda. Tulislah, saya jamin apa yang Anda tulis, seburuk apapun, akan bermanfaat bagi diri kita. Mengapa? Sebab apa yang ada di pikiran sudah muncul kedalam kertas. Tinggal selangkah lagi, yaitu action! Artinya, pikiran akan menjadi kenyataan, itu tergantung pengelolaan kita. Dan itu bisa dijembatani lewat menulis.
Menulislah kawan, jangan takut salah atau tulisan kita tak enak dibaca. Saya belum yakin, bahwa tulisan saya ini juga layak publikasi. Tapi sepanjang saya punya keinginan untuk memperbaiki, saya pikir ini hal terbaik yang harus saya lakukan.
So, kalau ingin sukses, menulislah!
Wilujeng Sumping....
Salam hangat dan kreatif....
Sabtu, 10 Desember 2011
Sabtu, 30 Juli 2011
Jadwal Imsakiyah Shaum, Cerdas dengan Puasa!
Untuk berubah, kadang orang butuh stimulus. Butuh bantuan, dorongan, juga motivasi dari orang lain. Padahal, perubahan hanya akan terjadi jika ada kesungguhan itikad dari diri sendiri. Tapi tak mengapa. Karena kita terbatas, kita akui bahwa kita butuh instrumen, stimulus, dan faktor eksternal yang membuat diri kita menjadi lebih baik.
Ramadhan, aku pikir suatu sistem atau mekanisme Tuhan untuk mengawal perubahan pribadi umat manusia. Ia bisa mencerdaskan ruhani, pikiran, juga mental sosialnya. Fakta-fakta ruhani dan medis telah terekspose dengan luas. Dan kita sudah tidak perlu berekspremin soal manajerial ramadhan dalam mengawal hidu kita.
Banyak orang besar, orang hebat, orang sukses, telah membuktikan tempaan ramadhan. Banyak orang sakit yang sembuh. Banyak orang bodoh menjadi pintar. Banyak orang miskin jadi kaya. Itulah Ramadhan, media sekaligus wahana penggodokan diri untuk sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.
So, marilah kita sambut ramadhan kali ini dengan suka cita, mari kita isi dengan amaliah-amaliah yang mendorong perubahan mentalitas kita, marilah kita resapi, maknai, serta hayati secara khusyuk. Semoga kita mampu melewati semua ujian pada bulan ini, serta nanti setelah iedul fitri, kita lahir menjadi pribadi suci, unggul, serta siap mengemban amanah kemanusiaan yaitu mencintai sesama, orang miskin, yatim piatu, dan mampu menahan dorongan jelek, hawa nafsu, serta perbuatan tercela lainnya.
Marhabban ya Ramadhan....
ini jadwal imsakiahnya, tak lupa aku posting ya...
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH SHAUM....
Ramadhan, aku pikir suatu sistem atau mekanisme Tuhan untuk mengawal perubahan pribadi umat manusia. Ia bisa mencerdaskan ruhani, pikiran, juga mental sosialnya. Fakta-fakta ruhani dan medis telah terekspose dengan luas. Dan kita sudah tidak perlu berekspremin soal manajerial ramadhan dalam mengawal hidu kita.
Banyak orang besar, orang hebat, orang sukses, telah membuktikan tempaan ramadhan. Banyak orang sakit yang sembuh. Banyak orang bodoh menjadi pintar. Banyak orang miskin jadi kaya. Itulah Ramadhan, media sekaligus wahana penggodokan diri untuk sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.
So, marilah kita sambut ramadhan kali ini dengan suka cita, mari kita isi dengan amaliah-amaliah yang mendorong perubahan mentalitas kita, marilah kita resapi, maknai, serta hayati secara khusyuk. Semoga kita mampu melewati semua ujian pada bulan ini, serta nanti setelah iedul fitri, kita lahir menjadi pribadi suci, unggul, serta siap mengemban amanah kemanusiaan yaitu mencintai sesama, orang miskin, yatim piatu, dan mampu menahan dorongan jelek, hawa nafsu, serta perbuatan tercela lainnya.
Marhabban ya Ramadhan....
ini jadwal imsakiahnya, tak lupa aku posting ya...
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH SHAUM....
Minggu, 24 Juli 2011
Jumpa Pertamaku di SMK
Hari ini, Sabtu, 23 Juli 2011 adalah hari pertama aku masuk sekolah. Kupikir ini kesempatan yang baik untuk membaca karakter calon siswaku. Aku ditugasi mengajar mata pelajaran Kewirausahaan. Ini momentum untuk mengasah pikirku dalam transformasi pengetahuan sekaligus tugas pengabdian untuk memotivasi remaja masa kini dalam meraih kehidupan terbaik mereka kelak .
Hari ini hanya bincang-bincang ringan, berkenalan, juga motivasi-motivasi ringan yang kusampaikan. Sengaja kupersiapkan satu cerita dari Andre Wongso soal “Gema”. Soal suara yang memantul, soal kebijaksanaan nilai hidup. Inti cerita itu adalah bahwa kehidupan ibarat gema. Gelombang kebaikan yang kita perbuat itu memantul. Maka, jika kita lakukan kebaikan, maka kebaikan pula yang kita dapatkan. Dan jika keburukan yang kita tebar, maka keburukan itu pula yang kita dapatkan.
Dengan beberapa siswa saya sempat menyapa secara pribadi, karena itulah kebiasaanku. Aku ingin proses belajar mengajar itu berjalan penuh dinamika, cair, dan menyenangkan. Tidak monoton, tidak membosankan, atau bahkan tidak menggurui dan sok cerdas atau sok jagoan. Bahkan, aku membuka sapaan “Sis atau Bro” sebagai sapaan akrab pertemanan. Aku tidak ingin bahwa aku, dengan status sebagai guru, ada sekat dan hijab yang menjadikan kami berjarak. Aku ingin, sebagaimana aku pelajari sewaktu menjadi Direktur Lembaga Pengelola Latihan (LPL) Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Purwakarta, bahwa dinamika yang terjadi saat belajar dibingkai oleh spirit andragogis. Kita memperlakukan siswa seperti orang dewasa, bukan seperti anak kecil.
Nah, inilah yang memutuskan aku untuk gabung dengan sebuah SMK baru di Wanayasa ini. Aku ingin ada dinamika sekaligus respon positif dari anak didik soal trasformasi pengetahuan yang lahir dari itikad, semangat, juga keadaanku sekarang ini. Hari ini aku tengah giat soal kemandirian, wirausaha, pengentasan pengangguran dan kemiskinan di Kecamatan Kiarapedes. Secara pribadi, aku juga tengah giat membangun usaha di bidang perdagangan dan kredit. Aku ingin, bahwa kebersamaan momentum ini bisa dibagikan kepada siswa-siswa di SMK ini.
Sebelumnya aku pernah mengabdi di MTS YPMI Wanayasa, kurang lebih dua tahun. Mata pelajaran yang kupegang adalah TIK. Ini cocok dan tidak cocok. Di satu sisi cocok, lantaran aku membuka usaha di bidang jasa dan perdagangan elektronik, IT, dll. Sementara tidak cocok? Basic pendidikanku ekonomi, dan aku memiliki kendala bahasa dalam transformasi pengetahuan terhadap anak didik seusia SLTA. Tapi tentu banyak hikmah yang kudapatkan.
Nah, hari ini kudapati harapan baru, bahwa aku bisa berbagi dengan mereka. Untuk kelas 2, kupikir tidak terlalu cair dinamika kelasnya. Mungkin belum. Sementara kelas 3, kukira cukup, dan ini kesempatanku untuk mendorong mereka, calon-calon pemimpin masa depan bangsa ini untuk terus belajar, mengembangkan diri, memperbaiki dan meningkatkan akhlak, serta menguasai berbagai inovasi, pengetahuan, serta spirit berjuang yang tulus untuk masa depan mereka, untuk kebaikan daerah ini, dan untuk kemajuan Bangsa Indonesia tercinta ini.
Teman-teman, yuk kita tancapkan niat yang tulus, tekad yang kuat, cita-cita yang mulia untuk meraih masa depan kita. Yakinlah, jika kita sungguh-sungguh, maka pasti berhasil. Man jadda wajada… oke Bro!?
Selasa, 19 Juli 2011
Membaca Karakter Orang Lewat Tulisan Tangan
Ahmad Fadil. Itulah nama anak angkatku. Ia berperawakan kecil, warna kulit putih, hidung mancung. Bibir tipis warna merah, otot-ototnya kekar. Ia baru berusia 4,5 tahun. Ia “kupungut” di usianya yang baru 2 tahun. Orang tuanya broken home. Kini mereka di Arab Saudi. Aku belum pernah bertemu dengan kedua orang tuanya. Tapi, meski secara biologis ia bukan anakku, aku merasa ia adalah anaku dengan sebenar-benarnya.
Kini ia idup bersamaku. Anaknya hyperaktif. Keras kepala. Tapi kadang lucu, cerdas, dan jika lagi mood, mau mengerjakan apa saja, termasuk sapu-sapu di halaman rumah, beresin mainan, cuci piring atau angkut kayu bakar dari kebun. Ia suka membukakan pintu rumah di saat aku pulang kerja. Ia berjingkrak-jingkrak sambil berteriak, “Ayah, bawa apa?!”. Itu selalu yang ia tanya. Pasalnya aku kerap membawa mainan, makanan, dan oleh-oleh kesukaanya.
Ia belum bisa membaca. Yang ia bisa adalah menggambar dan menulis. Ibuku kadang jengkel lantaran jika diajarin baca, ia malah lompat-lompat atau menangis. Tapi kalau menggambar, ia penuhi buku tulis dengan coretan-coretan apa saja. Dulu hanya bisa membuat garis. Lalu lingkaran. Sekarang huruf-huruf, meski ia tidak hapal nama hurufnya, ia mampu menulisnya. Ia juga mampu menggambar hewan, manusia, juga pemandangan. Juga kendaraan dan mainan lainnya.
Lalu aku coba surfing dan browsing, cari informasi soal dunia tulis menulis. Ada banyak artikel, baik berkaitan dengan jurnalistik atau soal kemampuan tulis menulis dengan kepribadian. Yang menarik saya adalah kata grafologi, ilmu yang membahas soal tulisan manusia dan kepribadian. Lalu kubaca. Akhirnya aku tertarik, pasalnya ini cocok banget untuk membaca anakku yang sukanya baru menulis dan menulis. Ternyata unik. Karakter anak bias dibaca lewat tulisannya. Untuk itu, aku sajikan artikel yang dibuat oleh orang lain, dan saya kutip dalam blog ini:
http://mystys.wordpress.com/2008/03/13/menyelami-jiwa-lewat-tulisan-tangan/ lebih jelasnya baca dibawah ini.
MENYELAMI JIWA LEWAT TULISAN TANGAN
Ditulis oleh mystys di/pada Maret 13, 2008
OLEH: IVAN SURYANA
Tulisan tangan memiliki kaitan erat dengan kondisi jiwa kita. Bagaimana cara membacanya…?
Seorang ahli ilmu jiwa mengatakan bahwa tulisan adalah gambaran jiwa seseorang. Sehingga bagi orang yang ahli bagaimana situasi kepribadian seseorang bisa terbaca lewat tulisan tangannya. Namun tentunya bukan ditebak begitu saja secara sembarangan, karena untuk yang satu ini perlu menguasai ilmunya.
Bila diantara pembaca Misteri ada yang berminat membaca tulisan tangan dan isi makna yang terkandung di baliknya, silahkan ikuti intisari ilmu membaca rahasia dibalik tulisan tangan atau Graphologi, lewat artikel ini:
Namun sebelumnya perlu Anda catat bahwa yang namanya dunia ramal-meramal, tidak mungkin akan didapatkan kebenaran yang mencapai 100 persen. Demikian pula dalam meramal kepribadian seseorang lewat tulisan tangannya.
Walaupun tafsiran dari tulisan tangan itu tidak mencapai akurasi sampai 100 persen, namun toh sangat berguna sekali, terutama bagi mereka yang bergerak dalam bidang yang berurusan dengan personalia.
Misalnya saja, ketika dibuka lowongan kerja baru, biasanya banyak berdatangan surat lamaran kerja yang masuk. Dan seorang manajer di sebuah perusahaan, atau siapapun ingin agar mempunyai bawahan atau teman kerja yang berkepribadian baik, oleh karenanya layak juga setiap surat lamaran kerja diprioritaskan dengan ditulis dengan bentuk tulisan tangan, yang ditulis sendiri oleh si pelamar yang bersangkutan. Lewat tulisannya ini, Anda bisa membaca kepribadian calon pekerja atau bawahan Anda.
Menurut Grafologi, sedikitnya ada enam hal yang bisa kita gunakan dalam metode membaca kepribadian seseorang melalui tulisan tangannya. Uraian secara garis besarnya adalah sebagai berikut:
1. BESAR KECILNYA TULISAN
Dilihat dari sudut pandang besar kecilnya tulisan terdapat empat kriteria penting yaitu: kecil, sedang, besar, dan sangat besar.
Tulisan yang berukuran kecil menunjukkan sifat pendiam, sering menyendiri tapi punya otak yang cemerlang dan pikirannya selalu ilmiah. Orang dengan tulisan seperti ini nalarnya logis.
Tulisan tangan yang ditulis kecil-kecil tapi jelas mudah untuk dibaca menunjukkan penulisnya pandai, juga punya konsentrasi kuat, walau sayang tipe ini kadang suka sekali menonjolkan keilmuannya. Sedangkan jika tulisan tangan kecil dan susah membacanya berarti sang penulis adalah orang bertipe mandiri dalam hidupnya.
Tulisan tangan sedang, mengandung makna bahwa penulisannya adalah orang yang sangat terpaku kepada tradisi kuno, atau hal-hal yang bersifat formil modern. Tipe ini sangat jitu dalam penggunaan logika untuk dasar referensi keputusan-keputusannya.
Jenis tulisan tangan yang besar menunjukkan besarnya ambisi seseorang namun murah hati dan selalu ingin dihargai oleh orang lain, di samping suka melebihkan omong-omongan yang kurang perlu. Sedangkan untuk jenis tulisan tangan yang sangat besar menunjukkan bahwa penulisnya sangat hati-hati dalam segala hal, gemar membuat perhatian bagi sekelilingnya, banyak over aktingnya dalam mencari perhatian, ingin selalu tampil di depan, karena dia gemar berpetualang kemana-mana, mengikuti panggilan jiwanya.
2. GAYA TULISAN
Dalam spesifikasi Gaya Tulisan ini terbagi ke dalam lima sub. Masing-masing, adalah:
- Gaya sambung biasa
Orang yang punya model tulisan begini biasanya senang memberi respon pada setiap masalah, bisa menerima ide dari orang lain, mudah bergaul dan disenangi teman. Baginya berbakat untuk menjadi seorang pemimpin.
- Gaya sambung berbentuk petak
Mengandung arti penulisnya mudah dipengaruhi, selalu menilai enteng setiap persoalan, hingga tindakannya kadang terkesan sembrono, tanpa pemikiran matang.
- Gaya Sambung Berliku
Tulisan yang banyak luka-likunya, mengandung makna bahwa penulisnya sangat formil, hati-hati dan sering menonjolkan status, namun umumnya sifat mereka pendiam, gemar menyendiri dan biasanya banyak memiliki keahlian atau bakat.
- Gaya Lurus dan Lancip
Tulisan tangan model demikian menunjukkan penulisnya orang agresif, sangat tekun mengerjakan sesuatu, walau kadang enggan berkompromi dengan orang lain. Bila lancipnya pada huruf awal saja maka pertanda dirinya orang yang banyak mengalami konflik psikologis, sehingga kadang bersikap agresif.
- Gaya Campuran
Bentuk tulisan bersambung yang tak karuan menuliskan cepat, dan kadang sukar membacanya hal ini mengandung arti bahwa penulisnya adalah orang yang biasa berpikir cepat, kreatif tapi paling tersinggung kalau dikritik. Bahkan, bila tidak sesuai dengan kehendaknya jangan harap orang bisa mendapatkan bantuannya karena dia paling doyan mengelak dalam memberi pertolongan.
3. KEMIRINGAN TULISAN
Bentuk kemiringan tulisan tangan, apakah itu miring ke kiri atau ke kanan, atau tegak lurus. Mereka yang tulisannya miring ke kiri menunjukkan penulisnya bersikap tertutup (introvet). Segala sesuatu diukur menurut penilainnya sendiri atau menurut ukuran masa lampau. Disamping mempunyai sikap konservatif, orang dengan tipe tulisan ini sangat individualis.
Jenis tulisan miring ke kanan, menandakan orang yang ramah, aktif dan bersikap terbuka (extropet), berani menghadapi tantangan baru. Dalam bekerja kata hatinya merupakan power yang penting, tapi dalam hal yang kurang dikuasai dia lebih banyak untuk menanyakan kepada ahlinya.
Tulisan tangan yang bentuknya tegak, mengandung arti bahwa penulisnya adalah tipe orang yang tak suka banyak diatur. Baginya dia adalah miliknya sendiri, kebebasan menjadi hobinya dalam mengerjakan sesuatu tindakan, namun kontrol diri tidak pernah lepas dalam memilah dan memilih hal yang dianggapnya positif.
4. TEKANAN TULISAN
Bila kita memperhatikan bekas tulisan tangan seseorang akan ditemukan tampak goresan tekanan tulisan seperti tercetak di baliknya. Dengan memperhatikan bekas goresan yang tercetak di balik kertas kita akan dapat mengetahui dan menebak bagaimana kepribadian dan tingkah laku si penulisnya.
Tekanan yang halus berarti pembawaannya tenang, tapi mudah atau tidaknya dibaca itu bukan persoalan. Sedangkan tulisan yang bekas tekanannya tercetak jelas di belakangnya menandakan penulisnya punya sifat kaku dan formal. Karenanya orang ini sulit untuk bisa cepat menyesuaikan diri dalam pergaulan, namun dia menganggap bersikap demikian penting baginya agar dihargai orang lain.
5, BENTUK HURUF AWAL
Diantara orang ada yang gemar memainkan bentuk tulisannya, terutama bentuk awal tulisannya. Beberapa ciri dan kecenderungan karakter si penulis adalah sebagai berikut:
- Bentuk Jangkar
Disebut bentuk jangkar karena memang huruf awal tulisnya dalam bentuk jangkar. Tulisan ini memberi tanda bahwa yang memiliki tulisan cenderung bersikap kurang dewasa dan kurang percaya diri dalam menjalani hidup. Dia banyak bersikap pasif.
- Bentuk Busur
Disebut bentuk busur karena memang bentuk awalnya membentuk busur seperti ditarik. Pemilik tulisan ini biasanya cepat puas dengan hasil yuang dicapai, dan hidupnya sangat berpandangan kuat akan nilai-nilai religius.
- Bentuk Memanjang
Huruf awal memanjang yang dituliskan pelan-pelan, menunjukkan bahwa orangnya terlalu berhati-hati dalam merencanakan masa depan. Panjanganya huruf awal menunjukkan kelambatan kerja dan pemborosan waktu.
- Bentuk memanjang dari bawah
Bentuk memanjang dari bawah bila digoreskan secara kilat menunjukkan penulisannya orang yang agresif dan cepat menyelesaikan pekerjaan, disamping gemar melakukan berbagai eksprimen.
6. BENTUK HURUF AKHIR
Bentuk akhir kata yang dituliskan, menunjukkan sikap sosial dan kualitas penulisnya. Tentang huruf akhir ini ada tiga model. Masing-masing, adalah:
- Bila huruf akhir suatu kata ditulis memanjang, mengandung pengertian bahwa orang itu memiliki kemurahan hati, rasa sosialnya besar.
- Bila huruf akhir memanjang ke atas, berarti penulisnya menyukai kemewahan, disamping idealis dan punya semangat yang tinggi.
- Bila huruf akhir menyilang berarti tidak segan mengritik diri sendiri apabila perbuatannya memang salah atau keliru.
Demikianlah sekilas tentang membaca rahasia tulisan tangan menurut Grafologi. Mudah-mudahan urian singkat ini bermanfaat
Rabu, 27 April 2011
Aku Suka Hujan
Hujan…
Rintikmu membanting tanah
Gerimismu jatuh di dedaunan
Dentingmu menimpa genting
Kau turun dari langit
Kau kabari semesta
Kau sapa jagat
Kau cium daun-daun kering
Kau basuh tubuh-tubuh dekil
Kau hanyutkan sampah-sampah asa
Kau tenggelamkan rumah-rumah jelaga
Kau sapu onggokan prahara
Saat kau turun
Dua wajah menengadah
Si arif bijaksana menyambutmu suka cita
Si besar kepala sumpah serapah dan mencerca
Hujan, kau rahmat!
Kau dewa bijaksana
Kau senyapkan airmata
Kau kabarkan bahagia
Hujan,kau angkara!
Kau sumbat bahagia
Kau rampas hangatnya rasa
Kau hadir, aku tak suka
Hujan, kau adalah hujan
Semua orang boleh kata tentang kau
Namun kuyakin, kau bawa kabar bahagia
Maka, aku suka kau….
Rintikmu membanting tanah
Gerimismu jatuh di dedaunan
Dentingmu menimpa genting
Kau turun dari langit
Kau kabari semesta
Kau sapa jagat
Kau cium daun-daun kering
Kau basuh tubuh-tubuh dekil
Kau hanyutkan sampah-sampah asa
Kau tenggelamkan rumah-rumah jelaga
Kau sapu onggokan prahara
Saat kau turun
Dua wajah menengadah
Si arif bijaksana menyambutmu suka cita
Si besar kepala sumpah serapah dan mencerca
Hujan, kau rahmat!
Kau dewa bijaksana
Kau senyapkan airmata
Kau kabarkan bahagia
Hujan,kau angkara!
Kau sumbat bahagia
Kau rampas hangatnya rasa
Kau hadir, aku tak suka
Hujan, kau adalah hujan
Semua orang boleh kata tentang kau
Namun kuyakin, kau bawa kabar bahagia
Maka, aku suka kau….
Jumat, 01 April 2011
Pilar kesuksesan ketiga : Menulis
Sepotong Diary Pribadi
Sejak kecil, penulis tertarik untuk menekuni bidang wirausaha. Kelas 1 SD, sudah jualan es kacang, bubur kacang yang dibekukan di kulkas, dibungkus kecil-kecil. Jika ibu panen jagung atau kacang tanah, saya bungkus dan saya jual di sekolah kepada teman-teman. Lumayan, untuk jajan saya sudah mandiri sejak kecil.
Menginjak SMP, saya berjualan apa saja. Mulai dari sarung, layang-layang, sampai kosmetik. Di SMU, saya sudah bergabung dengan bisnis MLM, mulai dari CNI, Tiansi, Ahad-Net, dll. Komunikasi yang lancar lantaran sering baca buku menjadi modal saya. Namun, saya juga tidak lupa mencatat. Setiap ada barang yang saya jual, saya catat di buku tulis. Saya selalu mencatat agar tidak lupa. Saya sadar, memori otak itu terbatas. Saya bukan orang jenius dengan memori bagus. Saya pelupa. Makanya saya bantu dengan catatan.
Selain soal jual-menjual, saya juga kerap kali mencatat apa yang terpikir dalam benak saya. Ketika SMP, saya beli karton warna putih ukuran 60 x 100 cm. Saya tempel di dinding bilik kamar. Lalu saya catat banyak hal. Mulai dari nama, cita-cita, sampai langkah apa saja yang harus saya lakukan. Di karton itu juga tertulis, saya ingin kuliah di mana, sekolah SMA di mana, serta aktif berorganisasi di mana. Entah kenapa, dalam usia remaja SMP seperti itu, saya sudah memikirkan semua itu. Saya juga selalu mencatat, di manapun saya harus jadi pemimpin (bahasa catatannya : ketua).
Apa yang terjadi selanjutnya? Saya memang hidup atas dasar tulisan itu. Saya orang miskin, dari kampung. Ibu single parent, ditinggal cerai oleh bapak. Saya tak percaya saat selesai kuliah dan diwisuda. Kalau dipikir-pikir, uang dari mana? Tapi saat ini saya berfikir, bahwa pikiran, keyakinan, ia memiliki kekuatan. Apa lagi keyakinan itu bila selalu kita baca, kita lihat, kita ulang-ulang, maka akan menjadi kenyataan. Dan tulisan menghantarkan saya pada apa yang saya mau.
Ketika SMU, saya revisi semua catatan saya di karton itu. Diperjelas dan detail. Dibuat serealistis mungkin. Saya tulis, “Kuliah di UI jurusan Sastra Inggris”. Apa hasilnya? Saya kuliah di STIE Dr. KHEZ Muttaqien Purwakarta, sekolah yang baru dibuka. Apakah tulisan saya di karton mengecewakan? Saya bilang tidak. Misi saya kuliah, dan itu bisa saya lakukan, padahal makan juga pas-pasan. Tetapi saya banyak belajar dari kekuatan tulisan. SMU kelas II saya sudah mencatat pikiran bahwa saya ingin kuliah. Meski tidak tercapai di UI dengan jurusan yang saya inginkan, tetapi saya bersyukur, bisa menggeluti dunia ekonomi. Dan kalau dipikir-pikir, ilmu yang saya dapatkan sangat menunjang minat bisnis saya sejak SD itu. Artinya ada kesinambungan pikiran dengan minat dan kenyataan. Tuhan memang Maha Tahu.
Soal berorganisasi dan selalu harus jadi pemimpin, itu menjadi kenyataan. Di SMU saya jadi ketua Osis. Di kuliahan saya jadi ketua Senat, di organisasi ekstrauniversiter saya jadi Ketua Umum HMI Cabang Purwakarta periode 2005-2006. Apa yang saya tulis memang jadi kenyataan. Walaupun, ketika di SMU saya menulis bahwa saya akan aktif di Partai Keadilan (PK waktu itu), dan sekarang menjadi PKS. Tapi saya tidak pernah aktif di sana.
Lalu apa lagi? Banyak kisah sedih sewaktu kuliah. Namun, untuk menyeimbangkan emosi, saya selalu mencatat setiap peristiwa itu kedalam buku catatan saya. Sekarang kadang saya tersenyum sendiri saat membaca catatan itu. Yang lain? Saya juga sering menulis artikel, feature, makalah, dll. Saya pernah mengikuti loma menulis ilmiah tingkat Mahasiswa, tingkat Nasional di UNPAD Jatinangor. Saya juga sering membuat makalah untuk teman kuliah. Lalu mereka bayar saya. Saya juga dapat pesanan membuat skripsi. Hasil kerja saya dibayar pemesan. Entahlah soal ini, dibenarkan atau tidak. Yang jelas, untuk bertahan hidup, menulis menjadi salah satu solusi bagi saya waktu itu.
Saya juga aktif di Majalah Dewan Pendidikan Purwakarta. Menjadi wartawan. Menulis. Lalu menerbitkan beberapa buletin, salah satunya e-qien, buletin kampus. Lalu menerbitkan buletin lain, “Jalak Harupat”. Lalu berusaha menulis lepas di berbagai media. Pernah dimuat di Harian Republika, Koran nasional. Dan lewat wesel Pos, saya dapat imbalan. Sungguh gembira waktu itu.
Menulis : Jembatan Pikiran menuju Kenyataan
Apakah narasi yang berbaris-baris panjang di atas sekedar nostalgia dan romantisme pribadi? Mungkin ya, tapi juga ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Bahwa menulis bukan aktivitas biasa, aktivitas tanpa makna, sesepele apapun yang kita tulis. Sekedar menulis, “Beli Bakso Rp. 5.000” saja, hemat saya adalah tulisan yang luar biasa. Coba Anda bayangkan, bagaimana jadinya jika Anda seorang pemegang uang, uang orang, organisasi, bercampur dengan uang pribadi misalnya. Lalu tidak kita catat? Saya jamin anda akan stress. Ya, Anda akan uring-uringan, berusaha mengingat, tapi sulit. Anda akan jengkel. Dan saya sudah merasakan.
Menulis adalah obat stress. Fatima Mernisi, tokoh pendidikan dari Maroco menulis, bahwa menulis adalah obat stress, obat sedih, dan obat gangguang emosi dan pikiran. Itu hasil riset ilmiah beliau. Apa yang Fatima sampaikan memang benar. Kegalauan jiwa, keresahan batin, itu akan memuai manakala kita menulis. Lihat saja orang yang lagi terjerat masalah cinta. Mereka akan banyak menulis puisi, kata-kata mutiara, atau surat. Begitupun yang lagi putus cinta, ia akan menulis, berpuisi, atau curat-coret lainnya. Percayalah, setelah itu saraf-saraf stess mereka akan berkurang perlahan.
Menulis adalah aktivitas luar biasa. Dalam surat al-‘alaq, tuhan berfirman, “(tuhan) yang telah mengajarkan manusia dengan pena (kolam)”. Sejarah kehidupan masa lalu sampai ke kita dewasa ini melalui dialektika peradaban dengan sebaran pengetahuan melalui media. Mulai dari zaman batu hingga zaman digital dewasa ini. Teori-teori pengetahuan sampai ke kita melalui buku-buku, tulisan di batu, atau sebaran berbagai media lainnya. Hikmah-hikmah orang besar, atau hikayat orang-orang saleh, atau cerita-cerita kesuksesan zaman dulu, itu sampai ke kita melalui tulisan. Sebegitu hebatlah tulisan dalam mengabadikan berbagai tradisi masa lalu yang dapat dijadikan pelajaran manusia modern saat ini.
So, apakah Saudara kerap kali menulis? Saya jamin, dewasa ini orang akan pernah menulis. Mungkin ketika sekolah atau kuliah, karena terpaksa atau sebab lain, kita menulis. Atau sekarang, kita menulis sms, menulis status di facebook, dll. Ini awal yang baik untuk menulis hal lain. Apa? Apa saja. Tulislah semua hal yang ada di pikiran kita. Tak bisa? Tak mungkin. Saya jamin semua orang bisa menulis. Menulis apa saja, dan dalam bentuk apa saja.
Apakah harus menulis dengan kaidah bahasa Indonesia : baik dan benar? Adakalanya hemat saya tak usah. Kalau Anda ingin menulis, menulislah semaunya. Persoalan salah dan benar atau soal sesuai dengan kaidah atau tidak, itu tergantung kebutuhan. Kita harus menulis benar dan baik di saat tulisan itu ditujukan untuk menyampaikan pesan tertentu kepada orang lain, dibaca halayak publik, atau dengan maksud komersial. Itu pilihan.
Tetapi menulislah. Apa yang ada di pikiran, tulislah, tuangkan kedalam kertas. Setiap ada gagasan, tulislah. Jika Anda tak mampu merangkai gagasan itu dalam bentuk tulisan yang baik, tak usah khawatir. Bisa minta bantuan orang lain. Jadi yang terpenting adalah, menulislah setiap saat. Setiap hal yang akan anda lakukan, tulislah. Jadwal acara, jadwal kegiatan, hal penting, alamat, kartu nama orang, catatan pengeluaran, atau peristiwa-peristiwa di seputar kehidupan Anda. Tulislah, saya jamin apa yang Anda tulis, seburuk apapun, akan bermanfaat bagi diri kita. Mengapa? Sebab apa yang ada di pikiran sudah muncul kedalam kertas. Tinggal selangkah lagi, yaitu action! Artinya, pikiran akan menjadi kenyataan, itu tergantung pengelolaan kita. Dan itu bisa dijembatani lewat menulis.
Menulislah kawan, jangan takut salah atau tulisan kita tak enak dibaca. Saya belum yakin, bahwa tulisan saya ini juga layak publikasi. Tapi sepanjang saya punya keinginan untuk memperbaiki, saya pikir ini hal terbaik yang harus saya lakukan.
So, kalau ingin sukses, menulislah!
Bersambung...
Sejak kecil, penulis tertarik untuk menekuni bidang wirausaha. Kelas 1 SD, sudah jualan es kacang, bubur kacang yang dibekukan di kulkas, dibungkus kecil-kecil. Jika ibu panen jagung atau kacang tanah, saya bungkus dan saya jual di sekolah kepada teman-teman. Lumayan, untuk jajan saya sudah mandiri sejak kecil.
Menginjak SMP, saya berjualan apa saja. Mulai dari sarung, layang-layang, sampai kosmetik. Di SMU, saya sudah bergabung dengan bisnis MLM, mulai dari CNI, Tiansi, Ahad-Net, dll. Komunikasi yang lancar lantaran sering baca buku menjadi modal saya. Namun, saya juga tidak lupa mencatat. Setiap ada barang yang saya jual, saya catat di buku tulis. Saya selalu mencatat agar tidak lupa. Saya sadar, memori otak itu terbatas. Saya bukan orang jenius dengan memori bagus. Saya pelupa. Makanya saya bantu dengan catatan.
Selain soal jual-menjual, saya juga kerap kali mencatat apa yang terpikir dalam benak saya. Ketika SMP, saya beli karton warna putih ukuran 60 x 100 cm. Saya tempel di dinding bilik kamar. Lalu saya catat banyak hal. Mulai dari nama, cita-cita, sampai langkah apa saja yang harus saya lakukan. Di karton itu juga tertulis, saya ingin kuliah di mana, sekolah SMA di mana, serta aktif berorganisasi di mana. Entah kenapa, dalam usia remaja SMP seperti itu, saya sudah memikirkan semua itu. Saya juga selalu mencatat, di manapun saya harus jadi pemimpin (bahasa catatannya : ketua).
Apa yang terjadi selanjutnya? Saya memang hidup atas dasar tulisan itu. Saya orang miskin, dari kampung. Ibu single parent, ditinggal cerai oleh bapak. Saya tak percaya saat selesai kuliah dan diwisuda. Kalau dipikir-pikir, uang dari mana? Tapi saat ini saya berfikir, bahwa pikiran, keyakinan, ia memiliki kekuatan. Apa lagi keyakinan itu bila selalu kita baca, kita lihat, kita ulang-ulang, maka akan menjadi kenyataan. Dan tulisan menghantarkan saya pada apa yang saya mau.
Ketika SMU, saya revisi semua catatan saya di karton itu. Diperjelas dan detail. Dibuat serealistis mungkin. Saya tulis, “Kuliah di UI jurusan Sastra Inggris”. Apa hasilnya? Saya kuliah di STIE Dr. KHEZ Muttaqien Purwakarta, sekolah yang baru dibuka. Apakah tulisan saya di karton mengecewakan? Saya bilang tidak. Misi saya kuliah, dan itu bisa saya lakukan, padahal makan juga pas-pasan. Tetapi saya banyak belajar dari kekuatan tulisan. SMU kelas II saya sudah mencatat pikiran bahwa saya ingin kuliah. Meski tidak tercapai di UI dengan jurusan yang saya inginkan, tetapi saya bersyukur, bisa menggeluti dunia ekonomi. Dan kalau dipikir-pikir, ilmu yang saya dapatkan sangat menunjang minat bisnis saya sejak SD itu. Artinya ada kesinambungan pikiran dengan minat dan kenyataan. Tuhan memang Maha Tahu.
Soal berorganisasi dan selalu harus jadi pemimpin, itu menjadi kenyataan. Di SMU saya jadi ketua Osis. Di kuliahan saya jadi ketua Senat, di organisasi ekstrauniversiter saya jadi Ketua Umum HMI Cabang Purwakarta periode 2005-2006. Apa yang saya tulis memang jadi kenyataan. Walaupun, ketika di SMU saya menulis bahwa saya akan aktif di Partai Keadilan (PK waktu itu), dan sekarang menjadi PKS. Tapi saya tidak pernah aktif di sana.
Lalu apa lagi? Banyak kisah sedih sewaktu kuliah. Namun, untuk menyeimbangkan emosi, saya selalu mencatat setiap peristiwa itu kedalam buku catatan saya. Sekarang kadang saya tersenyum sendiri saat membaca catatan itu. Yang lain? Saya juga sering menulis artikel, feature, makalah, dll. Saya pernah mengikuti loma menulis ilmiah tingkat Mahasiswa, tingkat Nasional di UNPAD Jatinangor. Saya juga sering membuat makalah untuk teman kuliah. Lalu mereka bayar saya. Saya juga dapat pesanan membuat skripsi. Hasil kerja saya dibayar pemesan. Entahlah soal ini, dibenarkan atau tidak. Yang jelas, untuk bertahan hidup, menulis menjadi salah satu solusi bagi saya waktu itu.
Saya juga aktif di Majalah Dewan Pendidikan Purwakarta. Menjadi wartawan. Menulis. Lalu menerbitkan beberapa buletin, salah satunya e-qien, buletin kampus. Lalu menerbitkan buletin lain, “Jalak Harupat”. Lalu berusaha menulis lepas di berbagai media. Pernah dimuat di Harian Republika, Koran nasional. Dan lewat wesel Pos, saya dapat imbalan. Sungguh gembira waktu itu.
Menulis : Jembatan Pikiran menuju Kenyataan
Apakah narasi yang berbaris-baris panjang di atas sekedar nostalgia dan romantisme pribadi? Mungkin ya, tapi juga ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Bahwa menulis bukan aktivitas biasa, aktivitas tanpa makna, sesepele apapun yang kita tulis. Sekedar menulis, “Beli Bakso Rp. 5.000” saja, hemat saya adalah tulisan yang luar biasa. Coba Anda bayangkan, bagaimana jadinya jika Anda seorang pemegang uang, uang orang, organisasi, bercampur dengan uang pribadi misalnya. Lalu tidak kita catat? Saya jamin anda akan stress. Ya, Anda akan uring-uringan, berusaha mengingat, tapi sulit. Anda akan jengkel. Dan saya sudah merasakan.
Menulis adalah obat stress. Fatima Mernisi, tokoh pendidikan dari Maroco menulis, bahwa menulis adalah obat stress, obat sedih, dan obat gangguang emosi dan pikiran. Itu hasil riset ilmiah beliau. Apa yang Fatima sampaikan memang benar. Kegalauan jiwa, keresahan batin, itu akan memuai manakala kita menulis. Lihat saja orang yang lagi terjerat masalah cinta. Mereka akan banyak menulis puisi, kata-kata mutiara, atau surat. Begitupun yang lagi putus cinta, ia akan menulis, berpuisi, atau curat-coret lainnya. Percayalah, setelah itu saraf-saraf stess mereka akan berkurang perlahan.
Menulis adalah aktivitas luar biasa. Dalam surat al-‘alaq, tuhan berfirman, “(tuhan) yang telah mengajarkan manusia dengan pena (kolam)”. Sejarah kehidupan masa lalu sampai ke kita dewasa ini melalui dialektika peradaban dengan sebaran pengetahuan melalui media. Mulai dari zaman batu hingga zaman digital dewasa ini. Teori-teori pengetahuan sampai ke kita melalui buku-buku, tulisan di batu, atau sebaran berbagai media lainnya. Hikmah-hikmah orang besar, atau hikayat orang-orang saleh, atau cerita-cerita kesuksesan zaman dulu, itu sampai ke kita melalui tulisan. Sebegitu hebatlah tulisan dalam mengabadikan berbagai tradisi masa lalu yang dapat dijadikan pelajaran manusia modern saat ini.
So, apakah Saudara kerap kali menulis? Saya jamin, dewasa ini orang akan pernah menulis. Mungkin ketika sekolah atau kuliah, karena terpaksa atau sebab lain, kita menulis. Atau sekarang, kita menulis sms, menulis status di facebook, dll. Ini awal yang baik untuk menulis hal lain. Apa? Apa saja. Tulislah semua hal yang ada di pikiran kita. Tak bisa? Tak mungkin. Saya jamin semua orang bisa menulis. Menulis apa saja, dan dalam bentuk apa saja.
Apakah harus menulis dengan kaidah bahasa Indonesia : baik dan benar? Adakalanya hemat saya tak usah. Kalau Anda ingin menulis, menulislah semaunya. Persoalan salah dan benar atau soal sesuai dengan kaidah atau tidak, itu tergantung kebutuhan. Kita harus menulis benar dan baik di saat tulisan itu ditujukan untuk menyampaikan pesan tertentu kepada orang lain, dibaca halayak publik, atau dengan maksud komersial. Itu pilihan.
Tetapi menulislah. Apa yang ada di pikiran, tulislah, tuangkan kedalam kertas. Setiap ada gagasan, tulislah. Jika Anda tak mampu merangkai gagasan itu dalam bentuk tulisan yang baik, tak usah khawatir. Bisa minta bantuan orang lain. Jadi yang terpenting adalah, menulislah setiap saat. Setiap hal yang akan anda lakukan, tulislah. Jadwal acara, jadwal kegiatan, hal penting, alamat, kartu nama orang, catatan pengeluaran, atau peristiwa-peristiwa di seputar kehidupan Anda. Tulislah, saya jamin apa yang Anda tulis, seburuk apapun, akan bermanfaat bagi diri kita. Mengapa? Sebab apa yang ada di pikiran sudah muncul kedalam kertas. Tinggal selangkah lagi, yaitu action! Artinya, pikiran akan menjadi kenyataan, itu tergantung pengelolaan kita. Dan itu bisa dijembatani lewat menulis.
Menulislah kawan, jangan takut salah atau tulisan kita tak enak dibaca. Saya belum yakin, bahwa tulisan saya ini juga layak publikasi. Tapi sepanjang saya punya keinginan untuk memperbaiki, saya pikir ini hal terbaik yang harus saya lakukan.
So, kalau ingin sukses, menulislah!
Bersambung...
Jumat, 25 Maret 2011
Empat Pilar Kesuksesan Manusia
Pilar ke-II : Berfikir
Apakah kamu tidak berfikir? Apakah kamu tidak mengetahui? Apakah kamu tak berakal? Apakah kamu tidak melihat? Apakah kamu tidak mendengar? Kira-kira begitulah Gusti Allah menampar kita lewat berbagai pertanyaan di atas.
Tapi diantara kita memiliki beragam sikap. Ada yang tersinggung, ada yang segera berfikir, ada yang terperanjat, ada yang biasa-biasa saja, ada yang cuek, bahkan ada yang tak mengindahkan sama sekali. Mengapa? Bacanya saja tidak, mana mungkin tau bahwa Tuhan menampar manusia dengan berbagai pertanyaan kritisnya?
Menurut Prof. Jalaludin Rakhmat, kata yang semantiknya diartikan sebagai berfikir atau aktivitas berfikir, itu sangat bertebaran di dalam al-Qur’an. Bahkan, bila dibandingkan dengan kata percaya (iman), kata akal, berfikir, mendengar, melihat, itu jauh lebih banyak. Ini apa artinya? Beliau menjelaskan, itulah petunjuk tersirat bahwa berfikir merupakan aktivitas vital bagi kita, manusia.
Ya, berfikir merupakan aktivitas vital, penting, dan sangat menunjang kehidupan manusia. Berfikir juga merupakan instrumen penting dalam membangun wajah kehidupan, identitas manusia hidup, sarana mendapatkan pengetahuan, serta medium dimana manusia mampu menjangkau eksistensi dirinya, bahkan menjangkau hakikat kehidupan (makrifat).
Hanya memang banyak hal yang menjadi bahan renungan kita. Budaya berfikir bangsa kita masih lemah. Mungkin Anda kerap kali mendengar bahwa otak yang masih bagus itu otak orang Indonesia. Kenapa? Karena belum dipakai, jadi masih asli, masih original. Hehe.
Mengapa kita harus berfikir? Karena fitrah kita memang manusia berfikir, manusia bertanya. Kita dibekali otak, anugerah termahal yang diberikan Tuhan pada kita. Untuk apa? Untuk mengenal diri, Tuhan, dan alam semesta ini. Manusia disebut manusia lantaran akalnya. Manusia disebut waras lantaran pikirannya. Manusia menjadi ada juga lantaran berfikir. Mungkin masih ingat, apa yang dibilang Socrates, “Aku berfikir, maka aku ada”.
Selain itu, aktivitas berfikir merupakan upaya tumbuh kembang jati diri manusia. Kita sadari, bahwa manusia adalah makhluk “menjadi”, makhluk berproses, makhluk yang senantiasa mencari. Tiada pintu final, tiada akhir. Dan berfikir merupakan instrumen penting dalam penjelajahan manusia untuk meraih jati dirinya.
Nah, agar kita terus bereksistensi, terus meraih jati diri kita, maka aktivitas berfikir harus menjadi kebutuhan kita. Coba biasakan untuk menggunakan pikiran kita dalam setiap aktivitas kita. Banyaklah merenung, meditasi, mendalami persoalan, mencari ide, gagasan, pemikiran, serta tuangkan semua gagasan itu kedalam tulisan dan aksi nyata kita.
Hanya orang-orang yang berfikir yang hidupnya akan selalu bahagia, faham maksud dan tujuan hidup, serta diperhitungkan dalam setiap gerak langkahnya. So, mari kita gunakan otak kita untuk berfikir, merenung, agar kita menghasilkan gagasan atau ide-ide brilian bagi kemaslahatan manusia, manfaat bagi sesama. Karena sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya….
Bersambung.........
Apakah kamu tidak berfikir? Apakah kamu tidak mengetahui? Apakah kamu tak berakal? Apakah kamu tidak melihat? Apakah kamu tidak mendengar? Kira-kira begitulah Gusti Allah menampar kita lewat berbagai pertanyaan di atas.
Tapi diantara kita memiliki beragam sikap. Ada yang tersinggung, ada yang segera berfikir, ada yang terperanjat, ada yang biasa-biasa saja, ada yang cuek, bahkan ada yang tak mengindahkan sama sekali. Mengapa? Bacanya saja tidak, mana mungkin tau bahwa Tuhan menampar manusia dengan berbagai pertanyaan kritisnya?
Menurut Prof. Jalaludin Rakhmat, kata yang semantiknya diartikan sebagai berfikir atau aktivitas berfikir, itu sangat bertebaran di dalam al-Qur’an. Bahkan, bila dibandingkan dengan kata percaya (iman), kata akal, berfikir, mendengar, melihat, itu jauh lebih banyak. Ini apa artinya? Beliau menjelaskan, itulah petunjuk tersirat bahwa berfikir merupakan aktivitas vital bagi kita, manusia.
Ya, berfikir merupakan aktivitas vital, penting, dan sangat menunjang kehidupan manusia. Berfikir juga merupakan instrumen penting dalam membangun wajah kehidupan, identitas manusia hidup, sarana mendapatkan pengetahuan, serta medium dimana manusia mampu menjangkau eksistensi dirinya, bahkan menjangkau hakikat kehidupan (makrifat).
Hanya memang banyak hal yang menjadi bahan renungan kita. Budaya berfikir bangsa kita masih lemah. Mungkin Anda kerap kali mendengar bahwa otak yang masih bagus itu otak orang Indonesia. Kenapa? Karena belum dipakai, jadi masih asli, masih original. Hehe.
Mengapa kita harus berfikir? Karena fitrah kita memang manusia berfikir, manusia bertanya. Kita dibekali otak, anugerah termahal yang diberikan Tuhan pada kita. Untuk apa? Untuk mengenal diri, Tuhan, dan alam semesta ini. Manusia disebut manusia lantaran akalnya. Manusia disebut waras lantaran pikirannya. Manusia menjadi ada juga lantaran berfikir. Mungkin masih ingat, apa yang dibilang Socrates, “Aku berfikir, maka aku ada”.
Selain itu, aktivitas berfikir merupakan upaya tumbuh kembang jati diri manusia. Kita sadari, bahwa manusia adalah makhluk “menjadi”, makhluk berproses, makhluk yang senantiasa mencari. Tiada pintu final, tiada akhir. Dan berfikir merupakan instrumen penting dalam penjelajahan manusia untuk meraih jati dirinya.
Nah, agar kita terus bereksistensi, terus meraih jati diri kita, maka aktivitas berfikir harus menjadi kebutuhan kita. Coba biasakan untuk menggunakan pikiran kita dalam setiap aktivitas kita. Banyaklah merenung, meditasi, mendalami persoalan, mencari ide, gagasan, pemikiran, serta tuangkan semua gagasan itu kedalam tulisan dan aksi nyata kita.
Hanya orang-orang yang berfikir yang hidupnya akan selalu bahagia, faham maksud dan tujuan hidup, serta diperhitungkan dalam setiap gerak langkahnya. So, mari kita gunakan otak kita untuk berfikir, merenung, agar kita menghasilkan gagasan atau ide-ide brilian bagi kemaslahatan manusia, manfaat bagi sesama. Karena sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya….
Bersambung.........
Kamis, 24 Maret 2011
Empat Pilar Kesuksesan Manusia
Kerap kali saya membaca, berfikir, merenung, melakukan, lalu akhirnya saya beraksi dalam sebuah catatan kecil ini. Ternyata empat hal di bawah ini menjadi pilar kesuksesan seorang anak manusia. Apa saja empat pilar itu? Bacalah tulisan saya selengkapnya di bawah ini:
Pilar I : Membaca
Apakah Anda seorang pembaca? Suka membaca? Suka buku? Senang bahan bacaan? Merasa rendah diri saat tak baca? Atau Anda memang tak peduli dengan semua kosa kata yang ada kata “baca”-nya? Saya tidak bermaksud menyinggung Anda dengan pertanyaan semacam ini.
Namun, hendak menyampaikan satu pemikiran, bahwa membaca adalah kebutuhan setiap manusia. Butuh? Ya, kita butuh membaca. Sebab mustahil kita “mengenali” siapa diri kita tanpa membaca. Dan sangat mustahil lagi, kita mengenal Tuhan tanpa membaca. Jadi, sebagai manusia yang berkesadaran dengan basis pikiran dan hati, kita butuh membaca, baik fungsinya untuk mengenali diri sendiri atau orang lain, atau Tuhan, dzat yang menciptakan kita.
Lalu bagaimana perilaku kita? Ini menjadi pertanyaan yang jawabannya selalu diragukan. Ragu bahwa kita biasa membaca. Atau kita pernah sadar bahwa kita butuh membaca? Jangan-jangan, kita memang tak pernah berfikir, bahwa kita butuh membaca, bahwa membaca adalah cara kita untuk memahami diri kita, lingkungan sosial, atau Tuhan.
Namun perilaku semacam ini tak bisa digeneralisir. Banyak komunitas, kelompok, organisasi, LSM, yayasan, dan sekte-sekte sosial yang kerap menggembor-gemborkan soal pentingnya membaca. Sebagai bukti, tak mungkin ada berbagai penemuan cerdas, peristiwa unik, atau karya monumental yang hadir di tengah-tengah masyarakat tanpa ada usaha jenius dari pemikir, filosof, teknokrat, saintis, yang tentu saja mereka semua pasti seorang pembaca.
Lalu? Mari kita budayakan membaca. Why? Agar ada kontinuitas kultural, lestarinya bangunan peradaban, membaiknya kehidupan, harmoninya perilaku manusia, serta semua orang bisa terbantu dalam penjelajahan, baik intelektual maupun spiritualnya. Penting dicatat, Gusti Allah menurunkan wahyu pertamanya kepada Muhammad berupa “Iqra”, Bacalah! Dan tidak dengan perintah yang lain, misalnya shalatlah! Shodaqohlah! Tapi, bacalah. Ini argumentasi sahih sekaligus petunjuk cerdas agar manusia memang membaca.
Mulailah dengan bacaan yang kita sukai, yang ringan-ringan, yang menunjang aktivitas kita. Jika kita seorang Ustaz, misalnya, maka tentu berbagai bahan bacaan harus menjadi santapan setiap saat. Sebab, bagaimana mungkin ia menyampaikan suatu kebenaran tanpa kajian yang mendalam dan hasil komparasi dari berbagai sumber? Qur’an, kitab hasil para ulama, buku-buku, koran, majalah, pengetahuan umum, ini semua sangat menunjang. Dan nanti akan sangat berbeda output pesan moral yang disampaikan oleh Ustazd “cerdas” dengan ustad yang “malas” membaca. Pesan atau isi ceramah ustadz yang rajin baca akan jauh berbobot, pas, mengena, penuh dorongan (motivasi), serta jauh lebih didengar dan diamalkan.
Begitu juga dengan Anda yang bekerja, atau memiliki profesi yang berbeda-beda. Seorang bankir akan lebih memahami masalahnya dengan baca. Seorang marketing akan lebih faham perilaku konsumen dengan membaca. Seorang penulis akan lebih tajam dan layak jual tulisannya dengan terus membaca. Seorang ahli pidato akan lebih memukau isi pidatonya dengan membaca. Seorang PNS akan lebih faham bagaimana ia memperlakukan masyarakat dalam pelayanan publiknya. Seorang pemimpin akan lebih faham bagaimana ia memainkan peran kepemimpinannya. Seorang dokter akan lebih disukai pasien. Seorang pedagang akan sangat digandrungi konsumen. Seorang artis akan lebih dipuja. Seorang musisi akan lebih dihargai hasil karyanya, seorang karyawan akan lebih dihargai atasannya, seorang politisi akan lebih dipercaya, seorang militer akan lebih disegani, seorang pengamen akan lebih disenangi, seorang pemulung akan dihormati, seorang sopir akan banyak penumpangnya. Semua itu lantara membaca.
Ya, membaca, selain dibutuhkan, itu lantaran sangat fungsional dan bermanfaat bagi manusia. Di manapun Anda, siapapun Anda, saya yakin akan lebih disegani, dihormati, manakala Anda adalah pribadi yang tampil dalam balutan perilaku yang baik, hasil godokan membaca. Dan membaca adalah gerbang dimana derajat Anda bisa naik bertingkat-tingkat, baik di hadapan Tuhan ataupun di hadapan umat manusia.
So, MEMBACA adalah kunci sukses, di mana segala hal bisa dengan mudah Anda raih. Dan pentig diingat, dalam sejarah bangsa manapun, tidak ada tokoh besar terlahir begitu saja. Pasti mereka smua adalah seorang pembaca! Bacalah! Bacalah! Bacalah dengan nama Tuhanmu.
Inilah Pilar ke-I dari kesuksesan manusia. Bersambung…..
Langganan:
Komentar (Atom)



