Hujan…
Rintikmu membanting tanah
Gerimismu jatuh di dedaunan
Dentingmu menimpa genting
Kau turun dari langit
Kau kabari semesta
Kau sapa jagat
Kau cium daun-daun kering
Kau basuh tubuh-tubuh dekil
Kau hanyutkan sampah-sampah asa
Kau tenggelamkan rumah-rumah jelaga
Kau sapu onggokan prahara
Saat kau turun
Dua wajah menengadah
Si arif bijaksana menyambutmu suka cita
Si besar kepala sumpah serapah dan mencerca
Hujan, kau rahmat!
Kau dewa bijaksana
Kau senyapkan airmata
Kau kabarkan bahagia
Hujan,kau angkara!
Kau sumbat bahagia
Kau rampas hangatnya rasa
Kau hadir, aku tak suka
Hujan, kau adalah hujan
Semua orang boleh kata tentang kau
Namun kuyakin, kau bawa kabar bahagia
Maka, aku suka kau….
Wilujeng Sumping....
Salam hangat dan kreatif....
Rabu, 27 April 2011
Jumat, 01 April 2011
Pilar kesuksesan ketiga : Menulis
Sepotong Diary Pribadi
Sejak kecil, penulis tertarik untuk menekuni bidang wirausaha. Kelas 1 SD, sudah jualan es kacang, bubur kacang yang dibekukan di kulkas, dibungkus kecil-kecil. Jika ibu panen jagung atau kacang tanah, saya bungkus dan saya jual di sekolah kepada teman-teman. Lumayan, untuk jajan saya sudah mandiri sejak kecil.
Menginjak SMP, saya berjualan apa saja. Mulai dari sarung, layang-layang, sampai kosmetik. Di SMU, saya sudah bergabung dengan bisnis MLM, mulai dari CNI, Tiansi, Ahad-Net, dll. Komunikasi yang lancar lantaran sering baca buku menjadi modal saya. Namun, saya juga tidak lupa mencatat. Setiap ada barang yang saya jual, saya catat di buku tulis. Saya selalu mencatat agar tidak lupa. Saya sadar, memori otak itu terbatas. Saya bukan orang jenius dengan memori bagus. Saya pelupa. Makanya saya bantu dengan catatan.
Selain soal jual-menjual, saya juga kerap kali mencatat apa yang terpikir dalam benak saya. Ketika SMP, saya beli karton warna putih ukuran 60 x 100 cm. Saya tempel di dinding bilik kamar. Lalu saya catat banyak hal. Mulai dari nama, cita-cita, sampai langkah apa saja yang harus saya lakukan. Di karton itu juga tertulis, saya ingin kuliah di mana, sekolah SMA di mana, serta aktif berorganisasi di mana. Entah kenapa, dalam usia remaja SMP seperti itu, saya sudah memikirkan semua itu. Saya juga selalu mencatat, di manapun saya harus jadi pemimpin (bahasa catatannya : ketua).
Apa yang terjadi selanjutnya? Saya memang hidup atas dasar tulisan itu. Saya orang miskin, dari kampung. Ibu single parent, ditinggal cerai oleh bapak. Saya tak percaya saat selesai kuliah dan diwisuda. Kalau dipikir-pikir, uang dari mana? Tapi saat ini saya berfikir, bahwa pikiran, keyakinan, ia memiliki kekuatan. Apa lagi keyakinan itu bila selalu kita baca, kita lihat, kita ulang-ulang, maka akan menjadi kenyataan. Dan tulisan menghantarkan saya pada apa yang saya mau.
Ketika SMU, saya revisi semua catatan saya di karton itu. Diperjelas dan detail. Dibuat serealistis mungkin. Saya tulis, “Kuliah di UI jurusan Sastra Inggris”. Apa hasilnya? Saya kuliah di STIE Dr. KHEZ Muttaqien Purwakarta, sekolah yang baru dibuka. Apakah tulisan saya di karton mengecewakan? Saya bilang tidak. Misi saya kuliah, dan itu bisa saya lakukan, padahal makan juga pas-pasan. Tetapi saya banyak belajar dari kekuatan tulisan. SMU kelas II saya sudah mencatat pikiran bahwa saya ingin kuliah. Meski tidak tercapai di UI dengan jurusan yang saya inginkan, tetapi saya bersyukur, bisa menggeluti dunia ekonomi. Dan kalau dipikir-pikir, ilmu yang saya dapatkan sangat menunjang minat bisnis saya sejak SD itu. Artinya ada kesinambungan pikiran dengan minat dan kenyataan. Tuhan memang Maha Tahu.
Soal berorganisasi dan selalu harus jadi pemimpin, itu menjadi kenyataan. Di SMU saya jadi ketua Osis. Di kuliahan saya jadi ketua Senat, di organisasi ekstrauniversiter saya jadi Ketua Umum HMI Cabang Purwakarta periode 2005-2006. Apa yang saya tulis memang jadi kenyataan. Walaupun, ketika di SMU saya menulis bahwa saya akan aktif di Partai Keadilan (PK waktu itu), dan sekarang menjadi PKS. Tapi saya tidak pernah aktif di sana.
Lalu apa lagi? Banyak kisah sedih sewaktu kuliah. Namun, untuk menyeimbangkan emosi, saya selalu mencatat setiap peristiwa itu kedalam buku catatan saya. Sekarang kadang saya tersenyum sendiri saat membaca catatan itu. Yang lain? Saya juga sering menulis artikel, feature, makalah, dll. Saya pernah mengikuti loma menulis ilmiah tingkat Mahasiswa, tingkat Nasional di UNPAD Jatinangor. Saya juga sering membuat makalah untuk teman kuliah. Lalu mereka bayar saya. Saya juga dapat pesanan membuat skripsi. Hasil kerja saya dibayar pemesan. Entahlah soal ini, dibenarkan atau tidak. Yang jelas, untuk bertahan hidup, menulis menjadi salah satu solusi bagi saya waktu itu.
Saya juga aktif di Majalah Dewan Pendidikan Purwakarta. Menjadi wartawan. Menulis. Lalu menerbitkan beberapa buletin, salah satunya e-qien, buletin kampus. Lalu menerbitkan buletin lain, “Jalak Harupat”. Lalu berusaha menulis lepas di berbagai media. Pernah dimuat di Harian Republika, Koran nasional. Dan lewat wesel Pos, saya dapat imbalan. Sungguh gembira waktu itu.
Menulis : Jembatan Pikiran menuju Kenyataan
Apakah narasi yang berbaris-baris panjang di atas sekedar nostalgia dan romantisme pribadi? Mungkin ya, tapi juga ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Bahwa menulis bukan aktivitas biasa, aktivitas tanpa makna, sesepele apapun yang kita tulis. Sekedar menulis, “Beli Bakso Rp. 5.000” saja, hemat saya adalah tulisan yang luar biasa. Coba Anda bayangkan, bagaimana jadinya jika Anda seorang pemegang uang, uang orang, organisasi, bercampur dengan uang pribadi misalnya. Lalu tidak kita catat? Saya jamin anda akan stress. Ya, Anda akan uring-uringan, berusaha mengingat, tapi sulit. Anda akan jengkel. Dan saya sudah merasakan.
Menulis adalah obat stress. Fatima Mernisi, tokoh pendidikan dari Maroco menulis, bahwa menulis adalah obat stress, obat sedih, dan obat gangguang emosi dan pikiran. Itu hasil riset ilmiah beliau. Apa yang Fatima sampaikan memang benar. Kegalauan jiwa, keresahan batin, itu akan memuai manakala kita menulis. Lihat saja orang yang lagi terjerat masalah cinta. Mereka akan banyak menulis puisi, kata-kata mutiara, atau surat. Begitupun yang lagi putus cinta, ia akan menulis, berpuisi, atau curat-coret lainnya. Percayalah, setelah itu saraf-saraf stess mereka akan berkurang perlahan.
Menulis adalah aktivitas luar biasa. Dalam surat al-‘alaq, tuhan berfirman, “(tuhan) yang telah mengajarkan manusia dengan pena (kolam)”. Sejarah kehidupan masa lalu sampai ke kita dewasa ini melalui dialektika peradaban dengan sebaran pengetahuan melalui media. Mulai dari zaman batu hingga zaman digital dewasa ini. Teori-teori pengetahuan sampai ke kita melalui buku-buku, tulisan di batu, atau sebaran berbagai media lainnya. Hikmah-hikmah orang besar, atau hikayat orang-orang saleh, atau cerita-cerita kesuksesan zaman dulu, itu sampai ke kita melalui tulisan. Sebegitu hebatlah tulisan dalam mengabadikan berbagai tradisi masa lalu yang dapat dijadikan pelajaran manusia modern saat ini.
So, apakah Saudara kerap kali menulis? Saya jamin, dewasa ini orang akan pernah menulis. Mungkin ketika sekolah atau kuliah, karena terpaksa atau sebab lain, kita menulis. Atau sekarang, kita menulis sms, menulis status di facebook, dll. Ini awal yang baik untuk menulis hal lain. Apa? Apa saja. Tulislah semua hal yang ada di pikiran kita. Tak bisa? Tak mungkin. Saya jamin semua orang bisa menulis. Menulis apa saja, dan dalam bentuk apa saja.
Apakah harus menulis dengan kaidah bahasa Indonesia : baik dan benar? Adakalanya hemat saya tak usah. Kalau Anda ingin menulis, menulislah semaunya. Persoalan salah dan benar atau soal sesuai dengan kaidah atau tidak, itu tergantung kebutuhan. Kita harus menulis benar dan baik di saat tulisan itu ditujukan untuk menyampaikan pesan tertentu kepada orang lain, dibaca halayak publik, atau dengan maksud komersial. Itu pilihan.
Tetapi menulislah. Apa yang ada di pikiran, tulislah, tuangkan kedalam kertas. Setiap ada gagasan, tulislah. Jika Anda tak mampu merangkai gagasan itu dalam bentuk tulisan yang baik, tak usah khawatir. Bisa minta bantuan orang lain. Jadi yang terpenting adalah, menulislah setiap saat. Setiap hal yang akan anda lakukan, tulislah. Jadwal acara, jadwal kegiatan, hal penting, alamat, kartu nama orang, catatan pengeluaran, atau peristiwa-peristiwa di seputar kehidupan Anda. Tulislah, saya jamin apa yang Anda tulis, seburuk apapun, akan bermanfaat bagi diri kita. Mengapa? Sebab apa yang ada di pikiran sudah muncul kedalam kertas. Tinggal selangkah lagi, yaitu action! Artinya, pikiran akan menjadi kenyataan, itu tergantung pengelolaan kita. Dan itu bisa dijembatani lewat menulis.
Menulislah kawan, jangan takut salah atau tulisan kita tak enak dibaca. Saya belum yakin, bahwa tulisan saya ini juga layak publikasi. Tapi sepanjang saya punya keinginan untuk memperbaiki, saya pikir ini hal terbaik yang harus saya lakukan.
So, kalau ingin sukses, menulislah!
Bersambung...
Sejak kecil, penulis tertarik untuk menekuni bidang wirausaha. Kelas 1 SD, sudah jualan es kacang, bubur kacang yang dibekukan di kulkas, dibungkus kecil-kecil. Jika ibu panen jagung atau kacang tanah, saya bungkus dan saya jual di sekolah kepada teman-teman. Lumayan, untuk jajan saya sudah mandiri sejak kecil.
Menginjak SMP, saya berjualan apa saja. Mulai dari sarung, layang-layang, sampai kosmetik. Di SMU, saya sudah bergabung dengan bisnis MLM, mulai dari CNI, Tiansi, Ahad-Net, dll. Komunikasi yang lancar lantaran sering baca buku menjadi modal saya. Namun, saya juga tidak lupa mencatat. Setiap ada barang yang saya jual, saya catat di buku tulis. Saya selalu mencatat agar tidak lupa. Saya sadar, memori otak itu terbatas. Saya bukan orang jenius dengan memori bagus. Saya pelupa. Makanya saya bantu dengan catatan.
Selain soal jual-menjual, saya juga kerap kali mencatat apa yang terpikir dalam benak saya. Ketika SMP, saya beli karton warna putih ukuran 60 x 100 cm. Saya tempel di dinding bilik kamar. Lalu saya catat banyak hal. Mulai dari nama, cita-cita, sampai langkah apa saja yang harus saya lakukan. Di karton itu juga tertulis, saya ingin kuliah di mana, sekolah SMA di mana, serta aktif berorganisasi di mana. Entah kenapa, dalam usia remaja SMP seperti itu, saya sudah memikirkan semua itu. Saya juga selalu mencatat, di manapun saya harus jadi pemimpin (bahasa catatannya : ketua).
Apa yang terjadi selanjutnya? Saya memang hidup atas dasar tulisan itu. Saya orang miskin, dari kampung. Ibu single parent, ditinggal cerai oleh bapak. Saya tak percaya saat selesai kuliah dan diwisuda. Kalau dipikir-pikir, uang dari mana? Tapi saat ini saya berfikir, bahwa pikiran, keyakinan, ia memiliki kekuatan. Apa lagi keyakinan itu bila selalu kita baca, kita lihat, kita ulang-ulang, maka akan menjadi kenyataan. Dan tulisan menghantarkan saya pada apa yang saya mau.
Ketika SMU, saya revisi semua catatan saya di karton itu. Diperjelas dan detail. Dibuat serealistis mungkin. Saya tulis, “Kuliah di UI jurusan Sastra Inggris”. Apa hasilnya? Saya kuliah di STIE Dr. KHEZ Muttaqien Purwakarta, sekolah yang baru dibuka. Apakah tulisan saya di karton mengecewakan? Saya bilang tidak. Misi saya kuliah, dan itu bisa saya lakukan, padahal makan juga pas-pasan. Tetapi saya banyak belajar dari kekuatan tulisan. SMU kelas II saya sudah mencatat pikiran bahwa saya ingin kuliah. Meski tidak tercapai di UI dengan jurusan yang saya inginkan, tetapi saya bersyukur, bisa menggeluti dunia ekonomi. Dan kalau dipikir-pikir, ilmu yang saya dapatkan sangat menunjang minat bisnis saya sejak SD itu. Artinya ada kesinambungan pikiran dengan minat dan kenyataan. Tuhan memang Maha Tahu.
Soal berorganisasi dan selalu harus jadi pemimpin, itu menjadi kenyataan. Di SMU saya jadi ketua Osis. Di kuliahan saya jadi ketua Senat, di organisasi ekstrauniversiter saya jadi Ketua Umum HMI Cabang Purwakarta periode 2005-2006. Apa yang saya tulis memang jadi kenyataan. Walaupun, ketika di SMU saya menulis bahwa saya akan aktif di Partai Keadilan (PK waktu itu), dan sekarang menjadi PKS. Tapi saya tidak pernah aktif di sana.
Lalu apa lagi? Banyak kisah sedih sewaktu kuliah. Namun, untuk menyeimbangkan emosi, saya selalu mencatat setiap peristiwa itu kedalam buku catatan saya. Sekarang kadang saya tersenyum sendiri saat membaca catatan itu. Yang lain? Saya juga sering menulis artikel, feature, makalah, dll. Saya pernah mengikuti loma menulis ilmiah tingkat Mahasiswa, tingkat Nasional di UNPAD Jatinangor. Saya juga sering membuat makalah untuk teman kuliah. Lalu mereka bayar saya. Saya juga dapat pesanan membuat skripsi. Hasil kerja saya dibayar pemesan. Entahlah soal ini, dibenarkan atau tidak. Yang jelas, untuk bertahan hidup, menulis menjadi salah satu solusi bagi saya waktu itu.
Saya juga aktif di Majalah Dewan Pendidikan Purwakarta. Menjadi wartawan. Menulis. Lalu menerbitkan beberapa buletin, salah satunya e-qien, buletin kampus. Lalu menerbitkan buletin lain, “Jalak Harupat”. Lalu berusaha menulis lepas di berbagai media. Pernah dimuat di Harian Republika, Koran nasional. Dan lewat wesel Pos, saya dapat imbalan. Sungguh gembira waktu itu.
Menulis : Jembatan Pikiran menuju Kenyataan
Apakah narasi yang berbaris-baris panjang di atas sekedar nostalgia dan romantisme pribadi? Mungkin ya, tapi juga ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Bahwa menulis bukan aktivitas biasa, aktivitas tanpa makna, sesepele apapun yang kita tulis. Sekedar menulis, “Beli Bakso Rp. 5.000” saja, hemat saya adalah tulisan yang luar biasa. Coba Anda bayangkan, bagaimana jadinya jika Anda seorang pemegang uang, uang orang, organisasi, bercampur dengan uang pribadi misalnya. Lalu tidak kita catat? Saya jamin anda akan stress. Ya, Anda akan uring-uringan, berusaha mengingat, tapi sulit. Anda akan jengkel. Dan saya sudah merasakan.
Menulis adalah obat stress. Fatima Mernisi, tokoh pendidikan dari Maroco menulis, bahwa menulis adalah obat stress, obat sedih, dan obat gangguang emosi dan pikiran. Itu hasil riset ilmiah beliau. Apa yang Fatima sampaikan memang benar. Kegalauan jiwa, keresahan batin, itu akan memuai manakala kita menulis. Lihat saja orang yang lagi terjerat masalah cinta. Mereka akan banyak menulis puisi, kata-kata mutiara, atau surat. Begitupun yang lagi putus cinta, ia akan menulis, berpuisi, atau curat-coret lainnya. Percayalah, setelah itu saraf-saraf stess mereka akan berkurang perlahan.
Menulis adalah aktivitas luar biasa. Dalam surat al-‘alaq, tuhan berfirman, “(tuhan) yang telah mengajarkan manusia dengan pena (kolam)”. Sejarah kehidupan masa lalu sampai ke kita dewasa ini melalui dialektika peradaban dengan sebaran pengetahuan melalui media. Mulai dari zaman batu hingga zaman digital dewasa ini. Teori-teori pengetahuan sampai ke kita melalui buku-buku, tulisan di batu, atau sebaran berbagai media lainnya. Hikmah-hikmah orang besar, atau hikayat orang-orang saleh, atau cerita-cerita kesuksesan zaman dulu, itu sampai ke kita melalui tulisan. Sebegitu hebatlah tulisan dalam mengabadikan berbagai tradisi masa lalu yang dapat dijadikan pelajaran manusia modern saat ini.
So, apakah Saudara kerap kali menulis? Saya jamin, dewasa ini orang akan pernah menulis. Mungkin ketika sekolah atau kuliah, karena terpaksa atau sebab lain, kita menulis. Atau sekarang, kita menulis sms, menulis status di facebook, dll. Ini awal yang baik untuk menulis hal lain. Apa? Apa saja. Tulislah semua hal yang ada di pikiran kita. Tak bisa? Tak mungkin. Saya jamin semua orang bisa menulis. Menulis apa saja, dan dalam bentuk apa saja.
Apakah harus menulis dengan kaidah bahasa Indonesia : baik dan benar? Adakalanya hemat saya tak usah. Kalau Anda ingin menulis, menulislah semaunya. Persoalan salah dan benar atau soal sesuai dengan kaidah atau tidak, itu tergantung kebutuhan. Kita harus menulis benar dan baik di saat tulisan itu ditujukan untuk menyampaikan pesan tertentu kepada orang lain, dibaca halayak publik, atau dengan maksud komersial. Itu pilihan.
Tetapi menulislah. Apa yang ada di pikiran, tulislah, tuangkan kedalam kertas. Setiap ada gagasan, tulislah. Jika Anda tak mampu merangkai gagasan itu dalam bentuk tulisan yang baik, tak usah khawatir. Bisa minta bantuan orang lain. Jadi yang terpenting adalah, menulislah setiap saat. Setiap hal yang akan anda lakukan, tulislah. Jadwal acara, jadwal kegiatan, hal penting, alamat, kartu nama orang, catatan pengeluaran, atau peristiwa-peristiwa di seputar kehidupan Anda. Tulislah, saya jamin apa yang Anda tulis, seburuk apapun, akan bermanfaat bagi diri kita. Mengapa? Sebab apa yang ada di pikiran sudah muncul kedalam kertas. Tinggal selangkah lagi, yaitu action! Artinya, pikiran akan menjadi kenyataan, itu tergantung pengelolaan kita. Dan itu bisa dijembatani lewat menulis.
Menulislah kawan, jangan takut salah atau tulisan kita tak enak dibaca. Saya belum yakin, bahwa tulisan saya ini juga layak publikasi. Tapi sepanjang saya punya keinginan untuk memperbaiki, saya pikir ini hal terbaik yang harus saya lakukan.
So, kalau ingin sukses, menulislah!
Bersambung...
Langganan:
Komentar (Atom)