Pilar ke-II : Berfikir
Apakah kamu tidak berfikir? Apakah kamu tidak mengetahui? Apakah kamu tak berakal? Apakah kamu tidak melihat? Apakah kamu tidak mendengar? Kira-kira begitulah Gusti Allah menampar kita lewat berbagai pertanyaan di atas.
Tapi diantara kita memiliki beragam sikap. Ada yang tersinggung, ada yang segera berfikir, ada yang terperanjat, ada yang biasa-biasa saja, ada yang cuek, bahkan ada yang tak mengindahkan sama sekali. Mengapa? Bacanya saja tidak, mana mungkin tau bahwa Tuhan menampar manusia dengan berbagai pertanyaan kritisnya?
Menurut Prof. Jalaludin Rakhmat, kata yang semantiknya diartikan sebagai berfikir atau aktivitas berfikir, itu sangat bertebaran di dalam al-Qur’an. Bahkan, bila dibandingkan dengan kata percaya (iman), kata akal, berfikir, mendengar, melihat, itu jauh lebih banyak. Ini apa artinya? Beliau menjelaskan, itulah petunjuk tersirat bahwa berfikir merupakan aktivitas vital bagi kita, manusia.
Ya, berfikir merupakan aktivitas vital, penting, dan sangat menunjang kehidupan manusia. Berfikir juga merupakan instrumen penting dalam membangun wajah kehidupan, identitas manusia hidup, sarana mendapatkan pengetahuan, serta medium dimana manusia mampu menjangkau eksistensi dirinya, bahkan menjangkau hakikat kehidupan (makrifat).
Hanya memang banyak hal yang menjadi bahan renungan kita. Budaya berfikir bangsa kita masih lemah. Mungkin Anda kerap kali mendengar bahwa otak yang masih bagus itu otak orang Indonesia. Kenapa? Karena belum dipakai, jadi masih asli, masih original. Hehe.
Mengapa kita harus berfikir? Karena fitrah kita memang manusia berfikir, manusia bertanya. Kita dibekali otak, anugerah termahal yang diberikan Tuhan pada kita. Untuk apa? Untuk mengenal diri, Tuhan, dan alam semesta ini. Manusia disebut manusia lantaran akalnya. Manusia disebut waras lantaran pikirannya. Manusia menjadi ada juga lantaran berfikir. Mungkin masih ingat, apa yang dibilang Socrates, “Aku berfikir, maka aku ada”.
Selain itu, aktivitas berfikir merupakan upaya tumbuh kembang jati diri manusia. Kita sadari, bahwa manusia adalah makhluk “menjadi”, makhluk berproses, makhluk yang senantiasa mencari. Tiada pintu final, tiada akhir. Dan berfikir merupakan instrumen penting dalam penjelajahan manusia untuk meraih jati dirinya.
Nah, agar kita terus bereksistensi, terus meraih jati diri kita, maka aktivitas berfikir harus menjadi kebutuhan kita. Coba biasakan untuk menggunakan pikiran kita dalam setiap aktivitas kita. Banyaklah merenung, meditasi, mendalami persoalan, mencari ide, gagasan, pemikiran, serta tuangkan semua gagasan itu kedalam tulisan dan aksi nyata kita.
Hanya orang-orang yang berfikir yang hidupnya akan selalu bahagia, faham maksud dan tujuan hidup, serta diperhitungkan dalam setiap gerak langkahnya. So, mari kita gunakan otak kita untuk berfikir, merenung, agar kita menghasilkan gagasan atau ide-ide brilian bagi kemaslahatan manusia, manfaat bagi sesama. Karena sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya….
Bersambung.........
Wilujeng Sumping....
Salam hangat dan kreatif....
Jumat, 25 Maret 2011
Kamis, 24 Maret 2011
Empat Pilar Kesuksesan Manusia
Kerap kali saya membaca, berfikir, merenung, melakukan, lalu akhirnya saya beraksi dalam sebuah catatan kecil ini. Ternyata empat hal di bawah ini menjadi pilar kesuksesan seorang anak manusia. Apa saja empat pilar itu? Bacalah tulisan saya selengkapnya di bawah ini:
Pilar I : Membaca
Apakah Anda seorang pembaca? Suka membaca? Suka buku? Senang bahan bacaan? Merasa rendah diri saat tak baca? Atau Anda memang tak peduli dengan semua kosa kata yang ada kata “baca”-nya? Saya tidak bermaksud menyinggung Anda dengan pertanyaan semacam ini.
Namun, hendak menyampaikan satu pemikiran, bahwa membaca adalah kebutuhan setiap manusia. Butuh? Ya, kita butuh membaca. Sebab mustahil kita “mengenali” siapa diri kita tanpa membaca. Dan sangat mustahil lagi, kita mengenal Tuhan tanpa membaca. Jadi, sebagai manusia yang berkesadaran dengan basis pikiran dan hati, kita butuh membaca, baik fungsinya untuk mengenali diri sendiri atau orang lain, atau Tuhan, dzat yang menciptakan kita.
Lalu bagaimana perilaku kita? Ini menjadi pertanyaan yang jawabannya selalu diragukan. Ragu bahwa kita biasa membaca. Atau kita pernah sadar bahwa kita butuh membaca? Jangan-jangan, kita memang tak pernah berfikir, bahwa kita butuh membaca, bahwa membaca adalah cara kita untuk memahami diri kita, lingkungan sosial, atau Tuhan.
Namun perilaku semacam ini tak bisa digeneralisir. Banyak komunitas, kelompok, organisasi, LSM, yayasan, dan sekte-sekte sosial yang kerap menggembor-gemborkan soal pentingnya membaca. Sebagai bukti, tak mungkin ada berbagai penemuan cerdas, peristiwa unik, atau karya monumental yang hadir di tengah-tengah masyarakat tanpa ada usaha jenius dari pemikir, filosof, teknokrat, saintis, yang tentu saja mereka semua pasti seorang pembaca.
Lalu? Mari kita budayakan membaca. Why? Agar ada kontinuitas kultural, lestarinya bangunan peradaban, membaiknya kehidupan, harmoninya perilaku manusia, serta semua orang bisa terbantu dalam penjelajahan, baik intelektual maupun spiritualnya. Penting dicatat, Gusti Allah menurunkan wahyu pertamanya kepada Muhammad berupa “Iqra”, Bacalah! Dan tidak dengan perintah yang lain, misalnya shalatlah! Shodaqohlah! Tapi, bacalah. Ini argumentasi sahih sekaligus petunjuk cerdas agar manusia memang membaca.
Mulailah dengan bacaan yang kita sukai, yang ringan-ringan, yang menunjang aktivitas kita. Jika kita seorang Ustaz, misalnya, maka tentu berbagai bahan bacaan harus menjadi santapan setiap saat. Sebab, bagaimana mungkin ia menyampaikan suatu kebenaran tanpa kajian yang mendalam dan hasil komparasi dari berbagai sumber? Qur’an, kitab hasil para ulama, buku-buku, koran, majalah, pengetahuan umum, ini semua sangat menunjang. Dan nanti akan sangat berbeda output pesan moral yang disampaikan oleh Ustazd “cerdas” dengan ustad yang “malas” membaca. Pesan atau isi ceramah ustadz yang rajin baca akan jauh berbobot, pas, mengena, penuh dorongan (motivasi), serta jauh lebih didengar dan diamalkan.
Begitu juga dengan Anda yang bekerja, atau memiliki profesi yang berbeda-beda. Seorang bankir akan lebih memahami masalahnya dengan baca. Seorang marketing akan lebih faham perilaku konsumen dengan membaca. Seorang penulis akan lebih tajam dan layak jual tulisannya dengan terus membaca. Seorang ahli pidato akan lebih memukau isi pidatonya dengan membaca. Seorang PNS akan lebih faham bagaimana ia memperlakukan masyarakat dalam pelayanan publiknya. Seorang pemimpin akan lebih faham bagaimana ia memainkan peran kepemimpinannya. Seorang dokter akan lebih disukai pasien. Seorang pedagang akan sangat digandrungi konsumen. Seorang artis akan lebih dipuja. Seorang musisi akan lebih dihargai hasil karyanya, seorang karyawan akan lebih dihargai atasannya, seorang politisi akan lebih dipercaya, seorang militer akan lebih disegani, seorang pengamen akan lebih disenangi, seorang pemulung akan dihormati, seorang sopir akan banyak penumpangnya. Semua itu lantara membaca.
Ya, membaca, selain dibutuhkan, itu lantaran sangat fungsional dan bermanfaat bagi manusia. Di manapun Anda, siapapun Anda, saya yakin akan lebih disegani, dihormati, manakala Anda adalah pribadi yang tampil dalam balutan perilaku yang baik, hasil godokan membaca. Dan membaca adalah gerbang dimana derajat Anda bisa naik bertingkat-tingkat, baik di hadapan Tuhan ataupun di hadapan umat manusia.
So, MEMBACA adalah kunci sukses, di mana segala hal bisa dengan mudah Anda raih. Dan pentig diingat, dalam sejarah bangsa manapun, tidak ada tokoh besar terlahir begitu saja. Pasti mereka smua adalah seorang pembaca! Bacalah! Bacalah! Bacalah dengan nama Tuhanmu.
Inilah Pilar ke-I dari kesuksesan manusia. Bersambung…..
Langganan:
Komentar (Atom)